Tak Penuhi Janji, Perempuan Nelayan Sangkarrang Geruduk Kantor Gubernur Tolak Tambang Pasir Laut

Penulis: Affif Syah

Cakrawalaide.com – Pagi hari, puluhan perempuan nelayan bertolak meninggalkan pulau Kondingareng Lompo. Mereka menumpangi tujuh kapal menuju Kota Makassar guna menggelar aksi protes terkait penambangan pasir laut di sekitar wilayah tangkap para nelayan.

Mereka menyambangi Kantor Gubernur Sulawesi Selatan (Sulsel), menuntut agar Nurdin Abdullah, selaku gubernur menghentikan tambang pasir laut di Kepulauan Sangkarrang, Kamis (13/8/2020).

Puluhan massa aksi ini memadati depan gerbang Kantor Gubernur Sulsel. Dengan raut muka kesal, para perempuan nelayan bersorak memanggil gubernur untuk menemui mereka.

“Manaki pak, ada pencuri pasir!” seru massa aksi yang didominasi ibu-ibu secara serempak.

Sebelumnya, perempuan nelayan telah melakukan aksi yang sama di Rumah Jabatan Gubernur Sul-Sel. Saat itu, Kamis (23/7), menurut penuturan Ira, salah satu massa aksi, mereka dijanjikan oleh pihak Gubernur Sul-sel akan meninjau langsung lokasi yang dipermasalahkan oleh nelayan.

“Katanya gubernur mau datang, tapi tidak ada kejelasan makanya kami datang ke sini di kantor gubernur langsung,” tuturnya.

“Kita seperti dibohongi padahl kami sangat menderita sejak kapal Boskalis mulai menambang,” lanjut Ira. Ira sendiri datang memboyong dua orang anaknya. Katanya mereka akan menunggu sampai tuntutan  mereka ditanggapi.

Hingga saat malam menjelang, massa aksi masih tetap bertahan di depan gerbang Kantor Gubernur Sulsel.

“Biar sampai satu minggu saya mau bertahan sampai gubernur mendengar,” tegas Ira.

Tambang pasir laut yang dimaksud oleh para perempuan nelayan, dilakukan oleh kapal Queen of the Netherlands milik PT Royal Boskalis, yang beroperasi di atas wilayah tangkap nelayan. Hasil kerukan pasir itu akan menyuplai kebutuhan proyek reklamasi Center Point Of Indonesia dan Makassar New Port yang membutuhkan ribuan kubik pasir.

Mulanya nelayan tidak mengetahui praktik pertambangan yang dilakukan oleh kapal Queen of the Netherlands. Para nelayan baru tau setelah dampak tambang mulai mereka rasakan. Seperti yang dipaparkan oleh Hasna, salah seorang massa aksi, bahwa sejak kapal itu beroperasi, hasil tangkap suaminya berkurang drastis. “Dulu (sebelum kapal beroperasi) sehari-hari hasil tangkap cukup untuk memenuhi kebutuhan kelurga, sekarang kadang tidak dapat sama sekali ikan,” jelasnya.

Masih menurut Hasna, salah satu penyebab berkurangnya hasil tangkap nelayan karena dampak tambang membuat air menjadi keruh. “Air jadi keruh, ikan sudah pergi dari tempat itu sedangkan kapal tidak kuat untuk melaut di tempat yang jauh,” tambahnya.

Selain dampak pada perekonomian nelayan, ancaman ekologis akibat pengerukan pasir juga menghantui warga Pulau Kodingareng Lompo. Seperti yang terjadi saat ini menurut pengakuan Ira, sudah terlihat arus ombak berubah dan menjadi besar, tidak seperti biasanya. Akibatnya ancaman abrasi menghantui daratan pulau.

Tambang pasir sangat merugikan para nelayan. Melaut sebagai mata pencaharian satu-satunya bagi para nelayan terancam akibat keberadaan tambang pasir laut itu.

Olehnya para massa aksi yang didominasi para perempuan Sangkarrang ini mendesak Gubernur Sul-Sel untuk segera menghentikan operasi pertambangan di perairan sangkarrang dan memulihkan hak-hak yang selama ini dirugikan akibat adanya tambang pasir.

 

Editor: Chung

Related Posts

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: