Surat Terbuka Untuk Rektor UMI, Kampus Islami Harus Berani Transparansi

Oleh : Muhammad Firman

Ingin memberontak, sudah muak dengan segala rekayasa pembodohan dan kemunafikan yang sengaja diciptakan oleh mereka yang mengaku sebagai orang tua dan panutan di kampus. Aku tak lagi percaya dengan mereka, bahkan tangispun hanya membuatku tertawa. Kenapa? Sikapku ini bukanlah tanpa alasan, mereka terlampau hebat bersilat lidah, mereka tak pernah peduli dengan siksa dan derita yang mahasiswa rasakan. Mereka hanya berpikir soal kekuasaan dan uang yang banyak, sehingga lupa di luar sana banyak rakyat yang miskin, bahkan untuk biaya makan seadanya pun sulit.

Teruntuk Rektorku, adakah perhatianmu kepada masyarakat kecil? Bisakah kau peduli terhadap protes-protes mahasiswa yang menuntut akan haknya? Tanpa sedikitpun membanggakan diri selaku pimpinan tertinggi di Universitas Muslim Indonesia.

Bisakah kita bertemu dan berbicara tanpa adanya keangkuhan? Jika iya, saya ingin bicarakan banyak hal perihal keluhan dan masalah-masalah yang dialami mahasiswa yang engkau klaim sebagai anak-anakmu. Namun sepertinya mustahil, telah beberapa kali kita betemu, tanganmu begitu tak tenang memainkan telunjuk kepada mahasiswa, seakan memberi perintah. Saya masih ingat peristiwa 2 Mei 2019, sepertinya itu petama kalinya kau menyambangi mahasiswa yang saat itu panas-kepanasan dan basah kehujanan memperingati Hari Pendidikan Nasional dengan menyoroti soal pasal di buku saku yang secara jelas mengebiri kebebasan berekpresi mahasiswa. Pada pertemuan pertama itu, “saya Rektor”, pernyataan itu terlontar dari mulutmu selepas menunjuk mahasiswa yang berteriak perihal siksa yang mereka alami.

 

Aku ulangi, keangkuhan itu masih ada padamu dan sepertinya telah mendarah daging dalam diri hingga merasuk ke dalam hati. Tepatnya, Rabu, 9 September 2019, kembali kita bertemu dalam suasana tak romantis selayaknya anak dan orang tua yang berbagi kasih sayang. Peristiwa siang itu sepertinya begitu tidak engkau harapkan, engkau yang kala itu sedang terburu-buru berencana ingin memberikan sambutan kepada mahasiswa baru di Padang Lampe. Namun, kami yang sedang berdiri di depan pintu singgasanamu, sepertinya sangat menggangu, hingga engkau pun mengusir kami.

Rektor UMI (Basri Modding) Mengusir Mahasiswa

“Saya Rektor,” sembari menunjuk diri, setelahnya engkau kembali memainkan jari telunjukmu dengan mengarahkannya ke kami sembari berkata “Saya bisa pecat kamu!,” kembali pernyataan itu engkau lontarkan menegaskan diri sebagai pimpinan tertinggi yang berkuasa.

Apa yang salah dari perbuatan kami, sehingga engkau begitu keras mengusir dan mengancam akan memecat kami yang hanya melakukan galang dana untuk membantu saudara kami yang kesusahan membiayai kuliahnya? Apakah salah ketika mempertanyakan soal beasiswa binaan? Apakah salah ketika kami mengingatkan sebuah kesalahan telah terjadi di kampus yang katanya Islami ini? Maaf jika menurutmu kami salah, tapi cobalah memahami yang kami lakukan dengan hati nurani, jika pun engkau masih memilikinya. Kami hanya mengingatkan bahwa ada yang keliru dengan pengelolaan beasiswa binaan dan perlu untuk segera diperbaiki agar tidak menyalahi tujuan beasiswa binaan yang disebut sebagai program ‘zakat pendidikan’ untuk mengayomi masyarakat kecil dan kurang mampu. Bukankah itu secara jelas adalah semangat dasar dibangunnya lembaga Pendidikan dan Dakwah yang berstatus Yayasan Wakaf ini guna sebagai alternatif pembinaan ummat.

Sebagaimana yang tercantum pada https://www.umi.ac.id/tentang-kami/profil-sejarah-yayasan-wakaf-umi, Yayasan Wakaf UMI (YW-UMI) adalah suatu badan yang menghimpun berbagai kegiatan seperti pendidikan, penelitian, pengabdian pada masyarakat, usaha, kesehatan dan sosial yang berlandaskan pada prinsip Islam. Tujuan utamanya adalah untuk syiar Islam yang membawa nilai-nilai kemaslahatan bagi manusia dan alam sekitarnya.

Sesuai dengan akta Yayasan Wakaf UMI nomor 43, tertanggal 07 Nopember 1994 Pasal 3 disebutkan bahwa Yayasan Wakaf ini bertujuan mulia dan suci murni mempertinggi derajat dan syiar Agama Islam, mempertinggi dan memperdalam ilmu pengetahuan dunia dan akhirat dan menyempurnakan pendidikan budi pekerti yang luhur, yang dikaruniakan Allah SWT kepada umat, guna kepentingan kebutuhan masyarakat dan tanah air, ditujukan kepada kemuliaan Agama Allah SWT.

Semua usaha tersebut dititik beratkan kepada perkembangan syariat dan kebudayaan Islam. Segala hasil yang diperoleh Yayasan, baik hasil usaha sendiri atau pemberian pihak ketiga merupakan wakaf untuk kemajuan dan perkembangan Islam. Wakaf itu sendiri bermakna segala sesuatu yang menjadi milik wakaf merupakan hak Allah dan Rasul-Nya, sehingga semua orang yang berpartisipasi baik secara moril, material, waktu dan pikiran, pada hakekatnya memperhadapkan diri kepada Allah sesuai dengan aturan-aturan yang ditetapkan Allah dan Rasul-Nya. Di dalam wakaf, tidak ada hak milik pribadi, golongan, atau kelompok.

Silahkan anda baca dan pahami agar keangkuhan itu bisa kalian redahkan. Ah.. tapi mungkin ini hanya kalian anggap dongeng pengantar tidur. Mengingat sikap Rektorku, selaku pimpinan tertinggi di kampus yang berstatus wakaf ini enggan memberikan komentar perihal saudara kami.

Baca selengkapnya : https://www.cakrawalaide.com/za-menunggu-berharap-keajaiban/

“Tidak ada urusannya beasiswa (binaan) dengan mahasiswa”, “kalau mau tanggapan, suruh pimpinanmu (Dekan) kesini”, ucapmu meyanggah pertanyaan kami dan mencoba menegaskan diri kembali sebagai Pimpinan tertinggi yang berkuasa.

Sepertinya, keangkuhan itu masih juga ada dan telah merasuk hingga sumsum tulangmu. Kembali kami bertanya, apakah meminta tansparansi dari pengelolaan beasiswa binaan itu salah? Kami hanya ingin agar program Zakat Pendidikan itu benar-benar ditujukan kepada masyarakat kecil yang membutuhkan, bukan malah kepada mereka yang bisa hanya karena ada hubungan keluarga. Maaf kalau kami terlalu jauh berprasangka, menentang keangkuhanmu. Jika memang kami salah, silahkan transparansikan pengelolaan beasiswa binaan/zakat pendidikan.

Namun, sepertinya keangkuhan itu benar-benar telah mendarah daging dan merasuki akal sehatmu. Bukannya mengoreksi atau mengevalusi kembali soal pengelolaan beasiswa binaan. Engkau malah menghabiskan tenaga dan pikiran untuk menghentikan langkah kami yang berharap agar program zakat tersebut tidak menyalahi tujuan utamanya. Engkau membalas sikap kritis kami dengan kekuasaan yang berada di tanganmu. Melalui pejabat di Fakultas, engkau hadiahi sikap kritis ini, dengan sebuah surat pemanggilan kepada mahasiswa hingga orang tua yang telah melahirkan kami.

Kembali, kami menentang kekuasaanmu. Jika engkau anti untuk dikritik, mohon segera turun dari takhtamu! Jika engkau merasa telah menjalankan mandat sebagai Rektor yang baik, bertanggung jawab dan bernurani yang suci. Apakah program zakat telah berjalan sebagaimana mestinya? Silahkan jawab tanpa keangkuhan. Serta kembali kuucapkan maaf, atas prasangka kami yang terlalu jauh, silahkan buktikan dengan membuka ruang dialog dan transparansikan pengelolaan beasiswa binaan tersebut yang kerap kalian agungkan sebagai program unggulan kampus yang katanya Islami ini.

Editor : Cuncung

Related Posts

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.