Victor Frankenstein Diundang ke Indonesia

Oleh: Maya Sandita

Dunia belum kiamat. Matahari masih tahu koordinat, tugas bulan juga belum tamat. Bumi bahkan semesta masih seperti biasa, membiasakan diri dengan manusia dan tingkahnya yang selalu saja membuatnya ingin sekali murka, tapi belum, Tuhan masih menolak pengajuan referendum.

Sementara di alam baka, Adam dan yang lainnya sudah hampir bosan menunggu waktu hisab tiba. Milyaran tahun mereka habiskan sambil mengunyah obrolan-obrolan. Kadang berita baru dari penghuni alam baka sebentar yang lalu, kadang malah usang dari cerita legendaris yang diulang-ulang.

Alam baka tak disangka-sangka sudah jauh lebih canggih dari dunia. Jika dunia hari ini punya surat elektronik, Ray Tomlinson sudah mengembangkannya jauh lebih baik, sejak ia datang 2016 lalu.

“Yang kutinggalkan di dunia cuma segitu. Lebihnya aku tidak punya waktu. Jadi, Adam, mengembangkan sistem itu di sini tidak ada salahnya, kan?”

Katanya tanpa menunggu balas dan terus sibuk sambil minuman dituang berulang kali ke dalam gelas.

Hari ini Ray bahkan bisa membaca pesan sebelum dikirim ke alam baka atau kemana saja. Ia kadang tertawa sendiri ketika membaca pesan sepasang manusia yang menggunakan sistemnya untuk kencan.

Sekali dua pesan itu diketik dan dihapus sebelum dikirim apalagi dibaca.
“Kau sedang apa?”

Tanya seorang wanita padanya, yang melihat Ray tertawa cekikikan saking gelinya.

“Aku memantau manusia.”

“Tidak adakah kerjamu selain itu?”

“Sementara hanya ini. Pesan-pesan ini bisa jadi lelucon ketika salah satu atau keduanya sampai di sini nanti,” balasnya sambil terus-terusan tertawa.

Wanita tadi tidak melanjutkan obrolan. Ia duduk dengan anggunnya yang seperti biasa di sebuah tilam yang tirainya intan.

“Kau tidak menulis, Marry?” Tanya Ray padanya.

“Tidak. Cukup kau tahu aku menulis tentang professor gila dan dunia mengenangnya.” Jawab Marry mantap.

“Oh… Omong-omong di mana ibumu, kau sudah bertemu? Kupikir kau belum bertemu dengannya sejak kau dilahirkan ke dunia.”

“Hmm…, ya. Akhirnya aku tahu secantik apa rupanya. Dia di sana, sedang bercengkerama dengan lelakinya semasa di dunia.”

“Ayahmu, maksudmu?”

Marry tersenyum tipis.

Ray kembali pada kesibukan dengan surat elektronik yang semakin canggih – buatannya.
“Apa yang menarik di dunia sekarang ini, Ray?” Tanya Marry kemudian.

“Tidak ada. Selama tidak ada yang menghubungi kita ke alam baka, dunia masih sama seperti biasa. Gaduh, rusak, penuh bahaya, dan sebagainya.”

“Kau ini. Tidak mungkin mereka kirim surat ke sini. Memangnya mereka tahu alamat suratmu?”

Ray tidak menjawab. Ia sibuk dengan sesuatu yang baru saja ia temukan di kotak masuk surat elektroniknya.

“Hei, Marry! Ada pesan untukmu,” katanya.

“Untukku? Kau bercanda atau apa?”

***

Setiap bulan di Indonesia selalu punya kisah yang membuat resah mereka tak kunjung sudah. Tentang para pejuang yang mereka tak bisa pastikan apakah mati dendam atau tenang. Apakah mereka benar di alam baka atau malah gentayangan sembari menyaksikan apa yang terjadi pada negeri hari ini.

Seorang pemuda yang sedang dipenjara sebab kerusuhan soal matinya KPK, tidak mau pejam matanya, mungkin menunggu kondisi aman. Ia perlu mengetik pesan dengan nyaman, untuk dikirimkan pada seorang teman. Rimba nama pemuda itu.

Ponsel pintar yang sedang di genggamannya seringkali ia bongkar dan rakit sendiri. Nanti ketika berita razia terdengar lagi, kerangka ponsel akan masuk ke tumpukan kain kotor, baterai akan jadi alas rakitan kabel yang jadi motor, sedang mesin akan masuk ke dalam kolor.

Pukul dua dini hari hingga subuh datang kembali, ia akan sibuk membaca berita, berkabar tentang apa saja dengan kawan-kawannya di luar sana.
“Apa idemu?”

“Kau keluar dulu, nanti kita rancang di rumahku.”

“Kau bicara seperti aku ini dikurung ibuku saja, ya!”

“Aku bercanda, Rimba,” balas temannya dibubuhi sedikit tawa.

“Malam ini kukirim pesan ke alam baka.”

“Kepada siapa yang kau maksudkan ini? Kepada yang sudah mati?”

“Ya! Marry Shelley.”
***
Datang seorang kurus dan tinggi ke hadapan Marry. Ia berkacamata, tapi terasa tatapannya dingin sekali.

“Kau ingin bertemu denganku, Marry?” Tanyanya dari balik punggung wanita cantik tadi. Marry kaget bukan main. Ia seperti pernah bertemu dengan pria ini diwaktu lain.

Ia berusaha mengingat. Ia tak bisa melakukannya dengan waktu singkat. Tak lama berselang datang seseorang atau sosok makhluk yang pernah ia karang.
“Frankenstein?” Terkanya bersamaan dengan terkejut, heran, dan ketakutannya.

“Kau terlalu muda untuk tahu bahwa aku yang datang ke mimpimu itu sudah hidup jauh lebih dulu daripada moyangmu,” katanya. Masih dingin saja tatapannya.

Marry menutup mulutnya dan menunjuk monster setinggi dua setengah meter yang berdiri tepat di belakang pria tadi. “Frank…”
“Oh, Marry. Kupikir kau takkan lupa bahwa nama itu milikku, bukan monster menyeramkan ini.”

Ray datang, menyerahkan selembar surat  dan lembaran lainnya yang ia cetak dengan tinta hitam yang cukup pekat. “Sesuai pesanan Anda, Nyonya,” kata Ray sedikit bercanda.

Marry berusaha mengatur napasnya, mengatur degup jantungnya, dan mengatur kata-katanya. Ia harus sampaikan ini pada Victor Frankenstein.
“Apa kau trauma dengan apa yang kau cipta, Frank?” Ia bertanya sebelum membacakan isi suratnya.

“Untuk monster ini, ‘ya’,” jawab Frank.

“Apa kau mau membuatkan satu lagi?”

“Kau mau aku membuat kehancuran lagi?”

“Tidak, Frank. Organ yang akan kau gunakan berbeda dengan yang sebelumnya. Organ-organ ini dimiliki oleh orang punya perasaan.”

***

“Kupikir penjara yang akan membuatku gila, ternyata teman sepertimu yang membuat akalku berkurang sehatnya.”

“Rimba, kau harus percaya. Kita butuh Victor Frankenstein. Aku sudah siapkan semuanya. Organ apa saja yang ia butuhkan, aku bisa ambilkan.”

“Organ apa, dari siapa misalnya?”

“Ah, aku tak bisa sebutkan nama. Dinding kamarku punya telinga, mungkin dinding lapasmu juga.”

“Jadi bagaimana kau menjelaskannya padaku kalau kata-katamu saja gagu?”

“Aku punya organ seorang aktivis dari Batu, petani dari Lumajang, pemimpin gerakan marka dari Papua, buruh dari Nganjuk, dan seorang guru dari Lima Puluh Kota. Sebetulnya kita butuh organ satu buruh lagi dari Surakarta, tapi aku tak tahu di mana jasadnya.”

Rimba betul-betul tak bisa menggunakan logikanya saat bicara pada ini manusia. Bagaimana bisa ia berpikir sedemikian rupa, sementara orang-orang yang ia sebutkan itu sudah tidak ada, bahkan mungkin hanya sekadar kerangka.

Lagipula, sejauh bacaannya, yang pernah diciptakan Victor Frankenstein tak lain hanyalah sosok monster mengerikan yang tak punya rasa kemanusiaan, sendirian, tak ada yang menerimanya di kehidupan.

“Sedang mereka yang kau sebutkan itu bentuknya masih manusia, banyak juga yang tak menerimanya. Malah mereka berusaha disingkirkan. Tidak menyeramkan mereka itu, normal, senormal-normalnya manusia. Ini kau berpikir untuk mengambil satu jantung dari sini, paru-paru dari sana, kerangka kepala dari sananya lagi, otaknya lain lagi. Digabung, kemudian dijahit dan diberi hidup lewat listrik. Kau ini kafir apa musyrik?”

“Rimba, kita bicara soal politik, bisa tidak jangan bawa agama sebentar ini saja biar tidak pelik.” Rimba diam saja.

“Kalau mereka bisa diadakan lagi, dan Frankenstein menyetujui, apa salahnya?”

“Kalau mereka bisa diadakan lagi, kenapa mesti dibuat seperti monster Frankeinsten? Kenapa tidak satu per satu? Bukankah nanti jadi lebih mudah bagi para pengkhianat bangsa? Hanya perlu meracun satu orang, atau menghilangkan satu orang, atau menyiksa sampai mati satu orang, atau…”

“Rimba, justru itu. Ini bukan lagi orang!”

Ia tak bisa menyepelekan teman yang satu ini begitu saja. Ia tahu persis bagaimana mereka bersama-sama menyusun siasat demonstrasi setiap dini hari di gang gelap yang sepi. Teman yang satu ini bukan orang sembarangan. Akhirnya Rimba menjawab ‘setuju’, sebab logikanya terasa benar-benar buntu dan tak mampu berargumen lebih dari itu.

***

Sementara itu di alam baka.

“Kau diminta datang ke Indonesia. Menjahit tubuh-tubuh penuh luka hingga jadi satu sosok yang bisa menyelamatkan bangsa. Begitu isi suratnya,” terang Marry pada Frankenstein.

“Kau yakin mereka punya perasaan? Bahkan setelah mati dan dikuburkan?”

“Kurasa si pengirim pesan bisa kupercaya, sebab Ray kirimkan padaku banyak berita tentang mereka. Ray meretas semuanya.”

Victor Frankenstein meminta waktu untuk berpikir. Ditinggalkannya Marry Shelley dan pergi dengan monster tadi.

Frankenstein ingat kejadian besar di musim panas abad ke-19. Jerebu tebal yang membuat liburan itu jadi dingin, basah, beku, dan abu-abu. Sebab letusan gunung Tambora di Indonesia, yang terhebat sepanjang masa dengan ketebalan abu 1530 km³. Ia ingat bagaimana ia datang ke dalam mimpi Marry Shelley pada sebuah malam yang panjang. Marry belum punya kisah seram yang bisa ia karang sampai tengah malam datang.

Frankenstein, professor gila itu ingin sekali dikenang, maka singgahlah ia ke tidur Marry berharap ia dikenal orang, meski hanya dalam bentuk fiksi tertuang, ia akhirnya bisa tenang.
Tenang di alam baka. Inilah yang tidak didapatkan para aktivis di Indonesia. Mereka tidak pernah menyetujui permintaan Adam untuk tetap di alam baka sampai waktu penghisaban tiba.

“Kami belum mati, Indonesia masih sakit. Kami sayang bangsa ini, kami mesti cabut benalu itu, meski pelan dan satu-satu,” kata salah seorang yang tak dikenal namanya.

“Kau ini fiksi atau bagaimana? Kehadiranmu cukup membingungkanku. Sama seperti Victor Frankenstein yang duduk di bawah pohon bersama monster mengerikan itu. Frank bukannya tidak ada? Kalian juga tidak ada, bukan? Para aktivis bangsamu bukannya hanya kisah fiksi di masa lalu?” tanya seorang yang mati muda, tapi bukan keturunan Tionghoa.

“Kenapa kau bilang begitu?”

“Aku suka baca fiksi. Fiksi seringkali merahasiakan akhir cerita. Biar orang penasaran, katanya.”

“Sialan!”

Hampir digepraknya kepala anak muda itu.

Sementara di bawah pohon apel yang tidak tinggi batangnya, Victor Frankenstein duduk berdua dengan monsternya. Ia tak menemukan ilmu gravitasi seperti yang dialami Newton, tapi ia menemukan yang lain, ketika monsternya bertanya, “Sakitkah, Frank? Jika ‘ya’ kucabut pohon ini agar tak ada apel yang mengenai kepalamu lagi.”

“Sejak kapan kau punya perasaan?”

“Aku merasa perlu menjagamu yang memberiku hidup.”

“Seperti negara itu? Lengkap beserta tanah dan airnya? Seperti gunung Tambora dan letusannya? Seperti musim panas di Jenewa dan kesempatan satu kali untuk datang ke mimpi Marry?” Tanya Frank entah pada siapa.

Tiba-tiba saja terbuka pikirannya. Ia mesti bertemu dengan para aktivis yang tak pernah pulang ke alam baka dan memilih untuk terus di samping para aktivis Indonesia. Frank harus tanyakan langsung pada mereka, kata setuju harus keluar dari mulut mereka kalau mau dirakit ulang oleh professor gila itu.

Gegas ia menuju sepasang manusia yang sedang duduk menghadap sebuah jendela, biasanya senja jatuh di sana.
“Eyang, bisa buatkan pesawat ke Indonesia untuk terbang sekarang?”

==========
*Penulis merupakan alumnus prodi seni teater ISI Padangpanjang (2019). Berdomisili di Batam. Beberapa cerpennya pernah diterbitkan dalam antologi, juga media cetak lokal dan nasional. Cerpen terbarunya Penabur Bunga – Republika (2019), Lelaki di Bawah Lampu Jalan – Kompas (2020), dan Cokelat Pasir Pantai Bibir Ibu– Media Indonesia (2020). Maya bisa dihubungi via Instagram @sanditaisme , Facebook Maya Sandita, E-mail sanditacorp@gmail.com dan ponsel/WA 0812-6861-9199.

Related Posts

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: