Tan Malaka: GERPOLEK

Sampul Buku Gerpolek, Tan Malaka

Sampul Buku Gerpolek, Tan Malaka

Judul buku : GERPOLEK (Gerilya-Politik-Ekonomi)
Pengarang : Tan Malaka
Penerbit : Narasi
Tahun terbit beserta cetakannya : Cetakan pertama, 2013
Halaman buku : 139 Halaman Harga buku : Rp. 30.000

Nama Tan Malaka seolah terlupakan dari sejarah perjuangan Indonesia. Nama asli Tan Malaka adalah Sutan Ibrahim, sedangkan Tan Malaka adalah nama semi bangsawan yang didapat dari garis keturunan ibunya. Tan Malaka lahir di Suliki, Sumatra Barat tahun 1897, sedangkan Tanggal lahirnya sampai sekarang masih diperdebatkan.

Gerpolek merupakan buku yang dikonsep dan ditulis oleh Tan Malaka pada masa pasca kemerdekaan ketika dirinya meringkuk di penjara madiun tanpa dukungan informasi kepustakaan. Ia hanya mengandalkan pengetahuan, ingatan, dan percakapan dengan para prajurit serta dari pembacaan buku-buku dan majalah kemiliteran yang dilakukannya lebih dari 30 tahun yang lampau.

Gerpolek merupakan konsep perlawanan oleh Tan Malaka, menolak jalur perundingan yang dilakukan pemerintah dengan pihak kolonialis dan imperealis, dalam hal ini belanda dan sekutu. Seperti yang dikatakan Tan Malaka “Tuan rumah tak akan berunding dengan maling yang menjarah rumahnya”. Konsep Gerpolek adalah siasat perang gerilya, baik politik, sektor ekonomi maupun sosial.

Pada Bab Ke I tentang, Republik Indonesia ke dalam dan ke luar. semenjak proklamasi pada tanggal 17 agustus 1945, sampai 17 mei 1948 dibagi dua musim revolusi, yaitu sebgai perbandingan antara musim jaya bertempur (berjuang), dengan musim runtuh diplomasi (berunding).

Pada bab ke II tentang Gerpolek. Menjelaskan tentang arti Gerpolek, kegunaan Gerpolek dan siapa sang gerilya itu.

Pada bab ke III, menjelaskan jenis perang. secara umum yang dibagi menjadi dua yaitu perang yang dibuat negara dengan maksud menindas negara lain dan perang yang dibuat oleh satu negara yang diserang untuk mengalahkan diri dari serangan atau untuk membebaskan diri dari pemerasan dan penindasan. Atau sebut saja perang jenis pertama yaitu perang penindasan dan perang jenis kedua yaitu perang kemerdekaan. Perang kemerdekaan didalam suatu negara melawan kelas lain diantara sesama bangsa disebut perang saudara atau perang sosial. Perang saudara atau perang sosial ini, mempunyai dua corak yaitu bercorak borjuis, dan kedua bercorak proletaris. Contoh perang kaum borjuis yg mahsyur terjadi di perancis tahun 1789 sampai tahun 1848, melawan kaum feodal dan pendeta. Sedangkan contoh perang kaum proletar yg mahsyur di perancis pula, tahun 1871, dalam perang ini kaum proletar paris merebut dan memegang kekuasaan dikota paris selama kurang lebih 72 hari.

Pada bab ke IV, tentang perang di indonesia. Perang yang dimaksud adalah perang melawan jepang, inggris, dan belanda. semenjak pasca proklamasi kemerdekaan 17 agustus 1945 yang ingin menancapkan kembali cengkraman kuku-kukunya di indonesia. Jika pengembalian kedaulatan dan kekuasaan politik dikembalikan kepada bangsa indonesia, tetapi kebun, pabrik, tambang, kereta, bank, dan lain-lain masih berada di tangan asing, Maka kemerdekaan nasional semacam itu buat kaum murba sama artinya dengan keadaan di hindia belanda (masa penjajahan). Singkatnya, belanda takan mau memberikan kemerdekaan nasional yang penuh kepada indonesia, dengan tiada membahayakn hak milik dan pencahariannya di indonesia.

Pada bab ke V, soal perang. Dalam bab ini menjelaskan bagaimana tindakan dalam berperang, Ada dua pokok tindakan dalam peperangan yaitu: – pertama soal membela (defensif) – kedua soal menyerang (attack).

Pada bab ke VI, tentang Anasir Perang. Dalam bab ini dijelaskan mengenai hal-hal yang penting dalam peperangan yaitu: – soal keadaan bumi – soal keadaan senjata – soal keadaan orang – soal tempo. Masing-masing dan semuanya mempengaruhi dan mengubah siasat dalam hal pnyerangan.

Pada bab ke VII, membahas tentang Syarat perang yang tetap. Seperti yang sudah diuraikan sebelumnya, maka perubahan keempat anasir itu, pada perang dunia pertama mengakibatkan perang gerak cepat (mobile warfare) seakan terpaku kepada perang stelling (trench warfare). Tetapi ada yg tinggal tetap di tengah-tengah perubahan besar-kecil selama ribuan tahun. Yang tetap itu ialah, berapa syarat memperoleh kemenangan adalah sebagai berikut: – ketinggian nilai siasat mnyerang – penyerangan sebgai pukulan bagi kemenangan terakhir – seluk beluk pembelaan dan penyerangan – cara menentukan pusat yg baik -membedakan siasat perang dengan politik – tekad mau menang. Itulah syarat perang yang tetap selama ribuan tahun.

Pada bab ke VIII, mengenai Hukum Menyerang. Napoleon yang sebagian besar dari pada siasat perangnya dipusatkan kepada penyerang, berhasil menetapkan siasat menyerang itu secara lebih nyata dan lebih sistematis dari pada ahli sejawatnya di masa lampau. Tetapi baru di tengah-tengah bangsa jermanlah, timbul dan tumbuh ilmu perang itu (Kriegwissenchaft) dalam arti ilmu yang sesungguhnya, yakni sistematis (tersusun), logis (menurut hukum berpikir), dan konsisten (tetap memegang dasar). Sudah beberapa anasir yang terpenting dalam hukum itu kita kupas, maka diperoleh: – Anasir kodrat yang terputus – anasir kecepatan – anasir sekoyong-koyong – anasir gelang lemah di rantai pertahanan musuh – anasir hubungan organisasi musuh – anasir tekad menghancur leburkan musuh.

Pada bab ke IX, tentang pelaksanaan hukum menyerang. Hukum menyerang itu dalam suatu peperangan yang bersifat bergerak. Dengan perkataan lain, hukum menyerang itu berlaku dengan leluasa dalam perang gerak cepat (mobile warfare) tetapi dalam perang stelling (loopgraven-onring / trench warfare) atau dalam perang menghadapi benteng, tentulah hukum menyerang itu tiada dapat dilakukan. Dalam perang gerak cepat yg menggunakan ilmu dan teknik moderen itu, amat pentinglah tiga anasir dalam siasat menyerang pada pasukan bermotor, tank dan pasukan udara atau kapal perang. Tiga anasir itu ialah: 1. Kecepatan 2. Perputaran 3. Kodrat tembakan.

Pada bab ke X, tentang Perang rakyat. Perang rakyat ialah perang dalam semua lapangan hidup yaitu dalam perkara 1. Keprajuritan 2. Politik 3. Ekonomi dan lain-lain. Dalam tiga lapangan hidup kita harus menjalin persatuan yang erat diantara pemegang tampuk perjuangan yakni diantara kaum murba, kaum tani, rakyat dan intelek.

Pada bab ke XI, tentang perang gerilya. Beberapa dasar peperangan yaitu 1. Perang stelling (parit) 2. Perang gerak cepat 3. Perang maju-mundur. Dasar dari perang gerilya itu hakikatnya sudah terkandung oleh siasat perang mundur-maju. Taktik dalam bergerilya : 1. Lakukan serangan pura-pura 2. Jangan bertempur dilapangan terbuka 3. Mundurlah kalau diserang pasukan musuh yang kuat 4. Kepung dan hancurkanlah pasukan musuh yg kecil 5. Pancinglah musuh kedalam perangkap 6. Terkamlah musuh dengan sekonyong-konyongnya.

Pada bab ke XII, tentang perang Politik-diplomatik. Dalam pembahasan ini yaitu pemerintah indonesia melakukan perang politik-diplomatik (berunding / tawar menawar) bukan perang politik berjuang (melawan). Sehingga akibat dari perang politik berunding yang dilakukan pemerintah indonesia yaitu makin bertambah kuatnya kekuasaan, politik, dan ekonomi pihak belanda dari hasil perundingan linggarjati dan perjanjian renville.

Pada bab XIII, tentang perang ekonomi. Dalam perang menghancurkan ekonomi belanda yaitu dengan serang dari luar dan dari dalam kota yg didudukinya, memusingkan kepalanya dan mengancam jiwanya setiap hari setiap jam. Dengan begitu, maka, ekonomi belanda kian hari kian kalut. Rencana perang ekonomi melawan belanda yaitu: 1. Mengambil sikap dan tindakan dalam ekonomi (produksi, distribusi dan lain-lain) yang bersifat merugikan perekonomian belanda 2. Mengambil sikap dan tindakan dalam ekonomi yang bersifat menguntungkan rakyat yang berevolusi.

Pada bab ke XIV, tentang UNO. UNO merupakan organisasi dunia yang dibentuk setelah perang dunia kedua untuk menciptakan perdamaian dunia. Namun UNO hanyalah badan legitimasi kaum Kolonial-imperialis sebagai alat untuk mencengkram kuku kekuasaannya. Dan UNO tidak berdaya terhadap beberapa kelompok negara serta terjadi pertentangan-pertentangan didalam UNO yaitu antara negara UNO dan negara yg bukan anggota UNO. Pertentangan itu adalah sebagai berikut; 1. Pertentangan antara yang punya (the haves) dan yangg tak punya (the have nots) 2. Pertentangan antara negara imperialis dan negara imperialis 3. Pertentangan antara negara soviet (sosialis) dengan gabungan kapitalis 4. Pertentangan kaum buruh dan kaum kapitalis 5. Pertentangan kaum penjajah dan kaum terjajah. Inilah pertentangan yang tak bisa ditangani UNO.

Pada bab terakhir XV, yaitu Serba-serbi. Pembahasan pada bab penutup ini menjelaskan tentang tentara dan laskar, susunan laskar gerilya, tempat begerilya, petuah militer napoleon, syarat untuk sang gerilya, program persatuan perjuangan, dan juga cerita antara gagak dan serigala.

Diakhir buku ditutup dengan puisi berjudul Sang Gerilya. Setitik Komentar dari saya: Dalam buku ini konsep perjuangan yang dibuat oleh Tan Malaka sangat imajiner disaat kondisinya dalam keadaan terkungkung dalam penjara. Pelajaran yang bisa kita ambil dari buku ini yaitu semangat perjuangan tanpa kompromi dengan pihak Kolonial-Imperialis yang mencoba mengsabotase kemerdekaan indonesia sehingga buku ini masih sangat relevan untuk dibaca kaum pemuda dan mahasiswa.

Penulis: Rio

Related Posts

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.