Taman Patung Kuda Benteng Rotterdam Dibabat Habis, BPCB Dinilai Tak Ada Iktikad Baik

Oleh : Mansyur

“Saya hanya pasrah tadi. Saya terluka, sempat menangis sebenarnya dalam hati. Kenapa dikasi begitu tanaman.”

Makassar, Cakrawalaide.com – Hari itu, langit Makassar sedang mendung. Aliamin yang duduk bersandar di kursi plastik terlihat menampakkan raut wajah pilu usai menyaksikan puluhan orang utusan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Sulsel merusak tempat yang biasa para pengunjung Benteng Rotterdam nongkrong sambil menikmati udara sejuk.

Puluhan orang dari BPCB Sulsel datang dengan membawa parang, alat pemotong rumput beserta gergaji. Tetiba menebang dan membabat habis tanaman yang ada di Taman Patung Kuda Sultan Hasanuddin, sisi kiri depan situs bersejarah, Benteng Rotterdam, Jl. Ujung Pandang, Rabu pagi (8/1/2020).

Aliamin (52), tak kuasa melihat tanaman yang sudah dirawatnya sepenuh hati, bak sampah dibuang begitu saja naik ke truk.

“Saya hanya pasrah tadi. Saya terluka, sempat menangis sebenarnya dalam hati. Kenapa dikasi begitu tanaman,” ungkap Aliamin.

Petugas BPCB memangkas pohon dan membuang tanaman ke truk.

Aliamin adalah seorang perawat taman yang sudah sekitar 24 tahun mengabdikan dirinya secara sukarela.

Menurut Aliamin, orang-orang tersebut tidak pernah melakukan koordinasi atau ada upaya membangun komunikasi  kepadanya sebelumnya. Diduga aksi mereka berawal sejak hari Kamis (2/1/2020) lalu. Mereka datang ke taman dan terlihat hanya bersih-bersih.

“Awalnya bersih-bersihji di sana, cabut-cabut rumput,” ujar Aliamin sambil menunjuk ke arah taman dekat Patung Kuda.

“Kalau tidak salah, Senin lagi mereka datang, tapi kenapa tiba-tiba saya lihat sudah ada beberapa tanaman yang dicabut. Itu berlangsung lagi hari Selasa. Baru hari ini paling parah, sampai melakukan penebangan pohon,” sambung Aliamin ketika wawancara, tepat di sebelah kediamannya bersama keluarga kecil dengan lima orang anak.

Sambil terus memandangi taman yang sudah rusak tidak karuan. Jari-jemari Aliamin bergerak mengingat dan menghitung ada berapa pohon di taman itu yang kini sudah ditebang.

“Ada pohon buah alpokat empat, beberapa jambu, serikaya, kalau jeruk ada dua, dan pohon nangka yang sudah berbuah. Itu buahnya nangka biasa saya konsumsi sama keluarga, enak rasanya,” ucapnya tersenyum.

Selain pohon buah-buahan, ada pula berbagai jenis bunga. Mulai dari bunga matahari, bunga mawar, pangkas kuning. Semuanya itu ikut dicabut dan ditebasi.

“Saya heran kenapa itu ditebang padahal tidak mengganggu. Inikan [taman] berfungsi juga sebagai paru-paru kota. Ruang terbuka hijau,” tambahnya

Lahan tersebut, ditempati Aliamin sejak 1995 atas mandat yang diberikan oleh Gabungan Pelaksana Konstruksi Nasional Indonesia (Gapensi). Dulu Gapensi merupakan pihak ketiga yang dipercaya Pemerintah Kota Madya saat itu sebagai pengelolah taman.

Awalnya, Aliamin hanyalah salah satu buruh yang dipekerjakan oleh Gapensi, tugasnya membuat instalasi listrik dan air di taman tersebut. Kemudian setelah taman itu selesai dikerjakan, pihak Gapensi memberi tawaran kepada Aliamin dan rekan-rekan lain untuk tinggal merawat taman. Tawaran itu pun diterimanya.

“Dulu itu ditanya satu-satu, ditawari tinggal merawat taman, tapi tidak ada yang mau. Ketika saya ditanya, saya coba-coba karena tidak ada yang mau merawat, jadi saya yang rawat,” katanya.

Aliamin berkisah, hanya dua tahun ia bekerja sebagai perawat taman dengan diberi upah Rp75.000 perbulan dari Gapensi.

Namun, saat krisis tahun 1997 melanda Indonesia, Gapensi sudah lepas tangan karena tidak sanggup lagi membayar upah Aliamin. Terhitung sejak saat itu pula, ia disarankan oleh A.M.Mochtar, selaku sekretaris Gapensi untuk membuka warung kopi kecil-kecilan di area taman, agar bisa mandiri merawat taman dan memenuhi kebutuhan hidupnya. Hal itupun ia lanjutkan.

Tahun lalu, sepanjang Februari hingga Maret, beberapa kali pihak BPCB Sulsel melayangkan surat penyampaian untuk pengosongan lahan seluas 60 X 29 meter persegi itu dengan segera. Aliamin pun mulai cemas.

Sejak trotoar jalan mulai dilebarkan, Aliamin tidak lagi bisa berharap dari hasil jualannya.

“Saya harus cari uang, kerja di luar untuk kasi makan anak istri dan biayai perawatan taman. Itu sudah berlangsung satu tahun lebih,” terangnya.

Aliamin seorang perawat taman.

Pihak BPCB berdalih bahwa taman depan Benteng Rotterdam itu akan direvitalisasi. Loyalitas Aliamin selama 24 tahun merawat taman dengan jerih payah sendiri, seolah tidak lagi diperhitungkan.

“Tidak ada informasi yang jelas mau dibagaimanakan ini taman ke depannya,” tutur Aliamin

Lantaran sikap BPCB tersebut, pada Kamis dan Jumat (21-22) Februari 2019 pihak pendamping dari LBH Makassar bersama Aliansi Rakyat dan Mahasiswa (Alarm) Menolak Penggusuran melakukan upaya mediasi dengan pihak BPCB, coba meminta agar mencabut surat perintah pengosongan lahan yang dikeluarkan dan mestinya memberi apresiasi kepada Aliamin karena telah berkontribusi melestarikan taman, tanpa didanai BPCB Sulsel atau pemerintah kota sepeser pun.

Saat mediasi itu terjadi, Kepala BPCB Laode Muhammad Aksa menjelaskan rencana revitalisasi taman mengharuskan Aliamin untuk mengosongkan lahan. Pertemuan saat itu berlangsung cukup alot dan tidak melahirkan solusi yang adil bagi Aliamin.

Kesepakatan Hasil RDP Tidak Dilakukan

Ady Anugrah Pratama dari LBH Makassar selaku kuasa hukum Aliamin menjelaskan, pada Maret 2019 lalu terjadi Rapat Dengar Pendapat (RDP) antara Aliamin dan perwakilan Alarm Menolak Penggusuran bersama pihak BPCB Sulsel, termasuk perwakilan Kemendikbud. Forum ini difasilitasi oleh anggota komisi C DPRD Provinsi Sulsel.

Lebih lanjut Ady menjelaskan, pada RDP tersebut melahirkan rekomendasi dari anggota DPRD Provinsi Sulsel agar BPCB melakukan pertemuan lagi untuk menyelesaikan kasus ini secara kekeluargaan dan tidak merugikan siapa pun. DPR juga menginstruksikan kepada pihak balai untuk tidak melakukan penggusuran sebelum adanya kesepakatan antara kedua belah pihak.

“Sebenarnya RDP kemarin, di Kantor DPRD Sulsel kita sudah sepakat bahwa kasus ini harus dibicarakan secara baik- baik dan mencari solusi yang bisa diterima oleh semua pihak,” ujar Ady.

Perwakilan LBH Makassar selaku kuasa hukum mencoba membuka dialog.

Ady juga menilai, rekomendasi anggota DPRD Sulsel yang seharusnya direalisasikan oleh pihak BPCB pada saat RDP, itu sama sekali belum terlaksana sampai hari ini.

“DPR juga membebankan BPCB untuk mengundang kami, Pak Aliamin dan seluruh teman-teman yang bersolidaritas untuk membicarakan kira-kira bagaimana teknis penyelesaian masalah ini. Nah, itu sampai sekarang kami belum menerima undangan satu kali pun, baik tertulis maupun lisan dari BPCB,” jelasnya.

Menanggapi tindakan yang dilakukan oleh pihak BPCB terkait tidak adanya tindak lanjut RDP tersebut dan malah melakukan penebangan tanaman, pendamping hukum dan Alarm Menolak Penggusuran menilai BPCB tidak memiliki iktikad baik.

“Kami hari ini dan teman-teman mau menghentikan [pembabatan tanaman] dan kita sudah lihat bersama-sama sudah dihentikan karena kami menghormati. Kami mau menagih iktikad baik atau apa yang disepakati di kantor DPRD Provinsi Sulsel,” ujarnya.

Sementara itu, Alarm Menolak Penggusuran secara spontan menggelar demonstrasi untuk merespons tindakan reaksioner dari BPCB pagi itu.

Demonstrasi Alarm Tolak Penggusuran, di Jl. Ujung Pandang, Rabu (8/1/2020). Foto : Raihan Rahman.

Menanggapi terkait status Aliamin, Muhammad Aksa selaku kepala BPCB Sulsel mengatakan pihaknya sudah tak ingin lagi melakukan dialog. Katanya, permasalahan tersebut akan diselesaikan secara hukum.

“Saya sudah tidak bisa lagi. Inikan masalah hukum bukan masalah politik ini. Kalau ada yang merasa dirugikan, silahkan proses hukum. Silahkan laporkan ke polisi, ke pengadilan,” tegas Laode via telepon, Rabu (08/01/20120).

Dirinya juga menjelaskan bahwa belakangan apa yang dilakukan oleh pegawai BPCB hanyalah kerja bakti. Membersihkan taman yang menurutnya sudah kayak hutan di tengah kota.

“Tiga hari ini, itu karyawan kerja bakti, membersihkan. Kalau dia (Aliamin) merasa punya lahan, silahkan adu di pengadilan. Kami kan ada sertifikat. Mau bagaimana lagi kah?” ujarnya.

Related Posts

Leave A Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.