Suffragette, Perjuangan Buruh Perempuan di London

Judul Film : Suffragette

Genre : Drama Sejarah

Durasi : 106 Menit

Produser : Sarah Gavron

Sutradara : Sarah Gavron

Penulis : Abi Morgan

Dirilis : 23 Oktober 2015

Di dalam ruang yang berdindingkan bambu, kami duduk bersama menyaksikan film drama Hollywod berjudul “Suffragette” yang kemudian berlanjut dengan pendiskusian dan membedah pesan-pesan yang ingin disampaikan dari film yang berhasil menjadi salah satu Film Terbaik pada tahun 2015 tersebut.

Suffragette adalah film dari Amerika Serikat yang mengambil latar belakang dari kisah nyata di London, Inggris tahun 1912. Dimana pada masa itu perempuan sama sekali tidak memiliki hak untuk bersuara, hidup di tengah kondisi masyarakat yang patriarkis dan kapitalistik. Film ini menggambarkan bagaimana fase militan perjuangan perempuan yang sebagian besar tokohnya adalah perempuan kelas pekerja pada awal abad ke-20 untuk mendapatkan hak yang sama dengan laki-laki atau menuntut kesetaraan sosial. Nama Suffragatte sendiri berarti gerakan feminis.

Tokoh utama dalam film ini bernama Maud Watts (Diperankan Carey Muligan), ia adalah perempuan yang bekerja sebagai buruh di industri laundry ‘Glass House Laundry’ milik tuan Norman Taylor (Diperankan Geof Bell), dan juga sebagai ibu rumah tangga dengan dikaruniai satu orang anak bersama suaminya, Sony (Diperankan Ben Whishaw). Selama bekerja, Maud seringkali mendapatkan tindakan pelecehan seksual oleh tuannya, ia pun tak sendirian, ada beberapa rekannya sesama buruh perempuan mendapati hal serupa (dilecehkan).

Ditempat tersebut diam-diam Maud diorganisir oleh salah satu buruh perempuan bernama Violet (Diperankan oleh Anne Marie Duff). Maud tertarik pada Violet yang seringkali debat argumen dengan tuannya, dari Violet lah Maud mendapatkan informasi tentang gerakan Suffragette, lewat Violet pula Maud bisa kenal dengan beberapa anggota dan pimpinan gerakan Suffragette hingga merubah cara pandangnya.

Suatu ketika, Maud terpaksa menggantikan Violet untuk menyampaikan pernyataan atau testimoni di hadapan parlemen yang keseluruhan adalah laki-laki. Maud mengisahkan hidupnya, dari umur 4 tahun ia diajak oleh ibunya yang juga dahulu bekerja persis dengan dirinya. Memasuki usia 12 tahun ia sudah bekerja separuh waktu dan saat menginjak 14 tahun bekerja secara penuh. Maud juga menceritakan bagaimana sistem upah yang tidak berkeadilan gender, dimana perempuan dituntut untuk bekerja lebih lama dalam ruangan yang pengap dan beresiko terkena penyakit ispa, namun menerima upah yang rendah dibanding laki-laki dengan jam kerja lebih singkat dan hanya bekerja di out door.

Alhasil, kejujurannya dalam menyampaikan pengalaman hidupnya mengantarkan Maud terlibat jauh dalam gerakan Suffragatte, ia mulai ikut dalam aksi-aksi bersama anggota Suffragatte lainnya yang membuat dirinya diintimidasi dan dipenjara beberapa kali. Maud bahkan mendapat tindakan diskriminasi oleh suaminya sendiri, seperti mengusir Maud dari rumah karena keterlibatannya dengan Suffragatte, sehingga membuatnya harus berpisah dengan sang anak. Tanpa terkecuali masyarakat sekitar, juga turut mengucilkan Maud karena tidak mendukung gerakan perempuan, yang tidak terlepas dari keterlibatan media/pers lokal untuk membangun stigma buruk tentang Suffragatte, karena dikuasai oleh pemerintahan yang berkuasa.

Puncak perjuangan dari Suffragatte iyalah ketika pagelaran lomba pacuan kuda yang dihadiri oleh banyak orang, perdana menteri dan raja. Kegiatan ini juga diliput oleh banyak media internasional, sehingga menjadi sebuah momentum dimana dunia bisa melihat perjuangan perempuan di London oleh Suffragatte dengan cara mengibarkan sebuah bendera. Salah satu anggota Suffragatte, Emily, dengan tanpa rasa takut dan ragu masuk ke dalam arena balapan saat pacuan kuda berlangsung. Ia pun tertabrak dan meregang nyawa, dan kematian Emily ini tersebar ke seluruh dunia kemudian menjadi pemantik perhatian dunia mengenai pergerakan perempuan di London.

Diakhir film, sejak 1918 para perempuan yang telah memasuki usia 30 tahun diberi hak pilihnya, pada tahun 1928 perempuan dan laki-laki telah memiliki hak pilih yang sama dengan laki-laki. Kemudian hak-hak politik perempuan terus mengalami kemajuan, seperti hak asuh anak diberikan pada perempuan .

Film Suffregatte ini memberikan gambaran bahwasanya buruh perempuan memiliki peranan yang sangat besar dalam perjuangan gerakan buruh hingga saat ini. Adapun kekurangan film ini menurut penulis, sebagai film yang juga menceritakan sejarah feminisme yakni, kurangnya scene tokoh laki-laki, yah..mungkin karena memang film ini fokus atau lebih menonjolkan Maud sebagai Suffragatte dan beberapa tokoh perempuan Suffragatte lainnya.

Jika kita kontekskan dengan keadaan atau nasib buruh perempuan hari ini di Indonesia, itu sedang tidak baik-baik saja. Masih banyak buruh perempuan yang rentan mengalami eksploitasi dan diskriminasi gender di lingkungan kerjanya. Dilansir dari Labor Institute Indonesia menyatakan, ada tiga permasalahan mendasar yang masih dialami yakni, kekerasan berbasis gender, sulit mendapatkan hak maternity dan sulit mendapatkan Hak Kepesertaan BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial).

Pertanyaannya kemudian, akankah kita tinggal diam saja? Atau turun bersama, melebur dengan kawan-kawan buruh saat May Day tanggal 1 Mei mendatang?

 

Penulis : Cung

Red : Jr

Related Posts

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.