Si Petani Intelektual yang Amatir

Ibarat bibit dan buah. Pendidik adalah petani yang akan merawat bibit dengan cara menyiangi hulma disekitarnya, memberi air, memberi pupuk agar kelak berbuah lebih baik dan lebih banyak, namun petani tidak mungkin mengubah bibit mangga menjadi berbuah anggur. Itulah kodrat alam atau dasar yang harus diperhatikan dalam Pendidikan dan itu diluar kecakapan dan kehendak kaum pendidik. Sedang Pengajaran adalah Pendidikan dengan cara memberi ilmu atau pengetahuan agar bermanfaat bagi kehidupan lahir dan batin (Dewantara I, 2004).

Hari itu, cahaya terik matahari masuk melalui sela-sela tembok dan menembus kaca jendela. Krisis pepohonan berganti pembangunan yang tak ramah lingkungan. Pohon-pohon rindang ditumbalkan demi menyediakan lapangan parkir buat kendaraan. Di gedung bertingkat 5, selepas sholat ashar, Nisa (bukan nama sebenarnya), bersama rekannya masih asyik bercerita di sudut ruangan lantai 4. Tempat biasa mahasiswa menghabiskan waktu senggang sembari menunggu kedatangan dosen.

Nisa adalah mahasiswi baru disalah satu Perguruan Tinggi Swasta terkemuka di Indonesia Timur, juga bergelar sebagai kampus hijau namun kini sudah berwarna-warni. Dia merupakan perempuan dengan penampilannya yang kerap memakai kerudung menutupi hingga lututnya. Badannya ramping, berkulit sawo matang, biji bola matanya hitam kelam, dengan nada suara yang serak-serak basah tapi tetap merendah. Dirinya dikenal sebagai perempuan taat ibadah dan giat membaca buku, serta aktif diorganisasi gerakan. Mahasiswi semester 2 angkatan 2018, berusia 19 tahun, mengambil jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI), bercita-cita menjadi seorang pendidik profesional.

Seperti biasa, keterlambatan dosen ditolerir dengan kata maaf darinya, mahasiswa pun mau tidak mau harus menerima. Dihari Selasa (5/3/2018), mata kuliah Belajar dan Pembelajaran, sore itu terasa begitu singkat dikarenakan dosen bersangkutan meminta konpensasi waktu mengajar, sebab ingin menjenguk keluarganya di Rumah Sakit.

Serupa model pembelajaran di kampus pada umumnya, dosen memberikan penjelasan singkat soal materi ajarnya. Dengan berdiri di depan mahasiswa, sang dosen menerangkan soal definisi belajar dan pembelajaran. Sambil sesekali dosen tersebut menulis di white board, menggunakan spidol yang digenggamnya, secara mendetail menyoroti soal fungsi dan tugas pendidik serta peserta didik.

Memantik pendiskusian, dosen pun memberikan kesempatan berbicara bagi mahasiswanya hingga terjadi sharing pengetahuan soal konteks pendidikan di Indonesia. Nisa, kala itu duduk di bangku paling depan yang hanya berjarak 2 meter dari tempat duduk sang dosen. Dirinya mempertanyakan perihal tenaga pendidik yang tidak profesional. Menurutnya tidak sedikit tenaga pengajar yang masuk di kelas hanya sekedar untuk melepas tanggungjawab, urusan peserta didik paham atau tidak materi yang diajarkan  itu tidaklah dipersoalkan. “Banyak tenaga pendidik tidak memikirkan masa depan peserta didiknya,” ujarnya dengan penuh gelora.

Di dalam ruangan yang terasa begitu gerah dengan 2 buah AC yang hanya terpajang di sisi kiri dan kanan dinding. Menanggapi pernyataan Nisa, dosen tersebut dengan sedikit terbata-bata tanpa menyalahkan pernyataan mahasiswinya, “tenaga pengajar hanya mengikuti kurikulum yang telah ditetapkan oleh negara,” ucapnya. Ia juga mengakui tidak adanya ciri khas dan terlalu banyaknya disiplin ilmu menjadi perkara pendidikan saat ini. “Ada aturan yang membatasi,” katanya dengan nada merendah. “Sampai disini masih ada yang ingin dipertanyakan,” lanjut sang dosen.

Suasana bertambah resah, saat Ahmad (nama samaran) mahasiswa angkatan 2015 yang mengulang mata kuliah ini. Dirinya mempertanyakan terkait tujuan utama pendidikan, yakni untuk mencerdaskan kehidupan bangsa sesuai dengan amanat Undang-undang Dasar 1945. Dengan karakter mimik wajahnya yang kaku dan dingin, “kualitas peserta didik itu bergantung pada kualitas tenaga pendidik,” tuturnya kepada sang dosen.

Ahmad berpesan agar tenaga pengajar mampu membaca potensi dasar tiap peserta didik agar tidak menyalahi kodratnya. “Buat apa sebenarnya kurikulum?,” sambung Ahmad. Menurutnya kurikulum yang hadir saat ini tidaklah sesuai kebutuhan peserta didik dan terkesan sangat membatasi nalar peserta didik. “Sekedar proyek, tiap rezim gonta-ganti kurikulum,” tegasnya kembali.

Secara spontan Nisa langsung menyahut, “kalau kurikulum saja sesuai tafsiran rezim, bagaimana nasib peserta didiknya?”. Di dalam ruangan yang begitu tertutup seluas 40 meter persegi, suasana sumpek sepertinya tak begitu dihiraukan. Melanjutkan, Nisa dengan nada suara yang bergelora tetap pada konsistensinya, menyayangkan sikap dosen yang memilih mendiami masalah. “Urusan menanam, sang petani lah yang lebih tau, bukan pengepul.” “Pengepul hanyalah menuai buahnya,” tambahnya kembali.

Mengikuti pernyataan Nisa, Dosen yang mengajar mata kuliah belajar dan pembelajaran menganggukkan kepalanya seraya berkata, “memang betul”. Dihadapan seluruh mahasiswa yang kepanasan, beberapa mahasiswa nampak mengibas-ngibaskan buku ke wajahnya.

“Indonesia tidak kekurangan orang pintar, tapi kekurangan orang jujur,” jelas sang dosen. Jujur menurutnya mengacu pada perkara etika atau akhlak baik yang sangat minim dimiliki masyarakat saat ini. Menyaksikan pengakuan dosen, tak sedikit mahasiswa lantas menganggukkan kepala.

Sosok dosen yang dikenal lemah lembut ini menerangkan terkait dasar penilaiannya yang dengan sadar mengkritik model pendidikan di Indonesia. Memberikan solusi dari hasil pengamatannya, “pendidikan karakter pada usia dini itu sangatlah penting.” Pendidikan karakter melalui jenjang lembaga pendidikan awal menurutnya perlu ditanamkan, seperti di Taman Kanak-kanak (TK) dan Sekolah Dasar (SD) khususnya kelas 1 dan 2. “Belum saatnya mereka diajarkan berhitung dan membaca,” di usia dini peserta didik, tugas utama seorang pendidik adalah menanamkan nilai-nilai etika yang baik, salah satunya adalah membangun kepribadian jujur kepada peserta didik.

Semua mahasiswa di dalam ruangan kembali mengangguk disertai raut wajah yang berbinar-binar setelah mendengar pemaparan oleh dosen. Pendiskusian yang begitu hidup sore itu sepertinya tak bisa lagi dilanjutkan, kembali karena persoalan waktu yang terbatas. Sesekali sang dosen melirik gadget-nya mengingat waktu telah menunjukkan 16:40 WITA, “Sampai disini dulu, silahkan berdoa.” “Maaf sebelumnya yah, soalnya ibu mau pergi menjenguk keluarga di Rumah Sakit,”  tutup sang dosen disertakan perkataan maafnya kembali, karena harus mengakhiri kelas lebih awal.

Selepas berdoa, sang dosen dan beberapa mahasiswa pun bergegas meninggalkan ruangan. Di tengah kerumunan mahasiswa yang sedang berjalan, Nisa dan Ahmad terlihat jalan beriringan di tangga fakultas. Meneruskan pendiskusian, “kita adalah bibit masa depan,” ujar Ahmad. Menurutnya menaruh harapan kepada mereka adalah sebuah kemustahilan, sebab adanya relasi struktur yang mapan memenjarakan akal sehat serta nurani mereka sehingga tak mau menanggung resiko seperti yang baru saja disaksikan. “Jawabannya ada pada diri kita,” tegas Ahmad kembali.

“Yah ini menjadi tugas mahasiswa,” tutur Nisa menyahut, ibarat bibit dan buah, konteks pendidik saat ini selayaknya petani yang tidak memiliki kepribadian. Sambil mengulang perkatan dosen tersebut, “hanya sebatas onani intelektual”. Sangat disayangkan seorang pendidik yang begitu kaya akan ide-ide gemilangnya perihal resolusi pendidikan di Indonesia yang telah jauh melenceng dari cita-cita bangsa. “Sangat mustahil bibit akan tumbuh dan berbuah sesuai kodratnya ditangan petani yang masih tunduk dan patuh dibawah intruksi pengepul yang taunya cuma menagih hasil tani,” pungkas Nisa mengakhiri pembicaraan.

 

Penulis : Parle

Red : Cung

Related Posts

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.