Semestaku

Kau bilang aku lautmu, tenang
Kujawab kau langitku, terang
Kita sebiru
Sekalbu
Pun sewaktu
Apa yang kau cerminkan
Itu pula yang ku tampakkan
Refleksi sempurna untuk semesta

 

Sampai satu kalimat mengusik hati
Tak ada sempurna yang abadi
Dan benar, bukan fiksi
Ada awan yang dongkol hati

 

Ia bergerombol menutup seluruh hamparan langitmu
Tak ada lagi nampak terang biru
Cinta pun berkarat karena sekat
Aku sekarat tak bersemangat
Hari pun kelabu
Diaroma sendu membeku
Tanpa deru tanpa gebu
Semestaku luluh lantah seketika

 

Jadilah aku, laut yang seakan mati
Menatap mentari seorang diri
Tanpa biru tanpa terangmu lagi
Kini aku menanti
Berharap badai menghampiri
Menghempas awan yang tak berhati
Agar kau kembali, di sini berdiksi lagi
Di perbatasan garis tipis, di ujung cakrawala

 

 


Penulis : Nurul Hikmah

Mahasiswi Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Muslim Indonesia.

Related Posts

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: