Pra Kondisi Peringatan AMARAH, Spanduk Aliansi Mahasiswa UMI dicabut

Penulis: Fadel

Spanduk peringatan momentum April Makassar Berdarah (AMARAH) diturunkan paksa oleh pihak kemahasiswaan. Spanduk yang dipasang di pertigaan Fakultas Kedokteran dan Fakultas Pertanian UMI tersebut dicopot Satuan Pengamanan (SATPAM) atas instruksi pihak Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan UMI, Rabu (21/04/2021).

Pada pukul 10.00 WITA, Aliansi Mahasiswa UMI memasang spanduk dibeberapa titik kampus II UMI. Pemasangan spanduk merupakan bagian dari pra kondisi menjemput peringatan tragedi April Makassar Berdarah pada 24 April 1996 yang menewaskan tiga mahasiswa Universitas Muslim Indonesia.

Melalui spanduk bertuliskan “Melawan Lupa AMARAH Dan Wujudkan Demokratisasi Kampus” Aliansi Mahasiswa UMI berupaya merefleksi ingatan sejarah Mahasiswa dan penggambaran kondisi kampus UMI hari ini yang semakin mengekang ruang Demokrasi mahasiswa. Namun selang beberapa saat kemudian, spanduk tersebut yang merupakan salah satu bentuk ekspresi mahasiswa, dicabut tanpa adanya komunikasi yang jelas.

Hal ini bermula dengan kedatangan pihak SATPAM menegur mahasiwa yang memasang spanduk dan meminta agar spanduk tersebut segera dilepas. SATPAM mengaku teguran itu berdasarkan perintah bidang kemahasiswaan UMI. “Mungkin spanduk yang kita pasang didepan bisa dicabut, karena nanti diambil sama pihak kemahasiswaan”. Ucap salah satu Satpam.

Menanggapi teguran tersebut, Uye yang juga tergabung dalam Aliansi Mahasiswa UMI segera mengubungi Wakil Rektor III (Bidang Kemahasiswaan) UMI via telepon untuk menanyakan alasan dicabutnya salah satu spanduk aksi. “Ini anak-anak tadi disuruh bede’ lepas spanduk. Alasan apa itu pak sampai harus dilepas itu spanduk ?” Namun dari percakapan tersebut, Nasrullah selaku WR III malah mengarahkan untuk berkomunikasi dengan Kepala Satpam. Tentunya arahan itu terkesan mengoper tanggung jawab, yang semestinya diputuskan oleh pihak kemahasiswaan sendiri.

Berlanjut pada percakapan via telepon dengan Kepala Satpam, Uye kembali menanyakan persoalan yang sama, namun malah diarahkan kembali untuk berkomunikasi kepada WR III. “Ada lagi ini informasi yang masuk mau dicabut spanduk peringati amarah, apa masalahnya kalau pasang spanduk begitu ?” Ungkap Uye. Dengan begitu, Kepala Satpam menegaskan bahwa persoalan tersebut mestinya dikomunikasikan dengan pihak kemahasiswaan. “Ohhh, itu kan harus ada izin dari pimpinan, semua spanduk atau baliho harus ada izin dari pimpinan. Jangko tanya saya, saya hanya menjalankan pimpinan.” Tegas Kepala Satpam menerangkan.

Aliansi Mahasiswa UMI menilai Pihak Birokrasi UMI melalui tindakannya tersebut turut menggambarkan kondisi Kampus UMI yang tak demokratis. “Penyempitan ruang demokrasi semakin kuat terjadi di kampus UMI. Penghalang-halangan kebebasan berekspresi sangat berbahaya, kami khawatir kebebasan akademik sudah tidak ada lagi di Kampus UMI,” Ungkap Rafi selaku Humas Aliansi.

Editor: Munes

Related Posts

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: