Perjuangan Dari Aceh

Penulis :  Nur Azizah Ismail

Mahasiswi Angkatan 2017, Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik Industri, Universitas Muslim Indonesia

Judul Buku       : Lingkar Tanah Lingkar air

Penulis            : Ahmad Tohari

Penerbit           : PT  Gramedia Pustaka Utama

Tebal Buku     : 165 Halaman

Perang mempertahankan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) di Aceh semakin memuncak. Amid dan Kiram seorang penduduk lokal di Aceh mau tidak mau harus ikut mempertahankan kampung halamannya.

Pada suatu malam keduanya dipanggil oleh Kiai Ngumar. Beliau meminta agar mereka ikut bergabung dengan Tentara Republik untuk mencegat pasukan Belanda yang akan melewati kampung mereka. Keesokan harinya mereka berangkat ke Kota kecil Bumiayu, lokasi penghadangan. Kiram tak henti-hentinya memandangi ratusan Tentara Republik yang menyandang senjata. Mereka bersiaga di atas bukit kiri-kanan jalan, ada juga yang berjaga di dekat jembatan di Lembah. Namun sayangnya, hari itu pencegalan gagal terjadi sebab Tentara Belanda mengetahui rencana dari Tentara Republik, sehingga memutuskan untuk mengubah jalur perjalanan mereka. Seorang keturunan Cina telah menjadi mata-mata pasukan Belanda yang kerap membocorkan rencana Tentara Republik.

Suatu hari Amid, Kiram beserta 3 orang temannya mendatangi Kiai Ngumar untuk meminta restu. Mereka berencana akan membentuk pasukan melawan Belanda. Sebelumnya Kiai Ngumar sudah menyarankan agar mereka bergabung dengan Tentara Republik. Namun salah satu teman Amid bernama Kang Suyud menolaknya dengan alasan Tentara Republik banyak yang merekrut orang komunis dan tidak ingin berdekatan dengan orang-orang komunis. Sehingga Kiai Ngumar merestui pergerakan mereka. Kiai Ngumar memberi nama pasukan mereka dengan nama “Hizbullah” yaitu berjuang dengan berlandaskan syahadat.

Hari demi hari Amid dan Kiram berjuang melawan belanda. Tentara Hizbullah menerima surat dari Tentara Republik perihal penangkapan seseorang yang dicurigai seorang mata-mata Belanda bernama Mantri Karsu. Alhasil keduanya berhasil menyergap seorang mata-mata Belanda tersebut. Saat digiring menuju markas Tentara Republik menggunakan rakit, tahanan tersebut lompat ke sungai. Kiram menembak tahanan tersebut tetapi tak mengenai target, akhirnya ia melompat ke sungai membawa Badik-nya. Tak lama kemudian Kiram muncul di permukaan sungai, ia bersama tahanan tersebut. Tetapi hanya kepala tahanan tersebut yang ia bawa, badannya sudah terpisah dengan kepala. Kepala mata-mata itulah yang dibawa ke markas Tentara Republik.

Sejak saat itu Amid serta temannya turun gunung melawan Tentara Belanda dan sudah memiliki pasukan sendiri. Hingga pada suatu ketika Tentara Belanda sudah terusir dan terdapat kabar dari pemerintah pasukan Hizbullah akan dilebur menjadi Tentara Republik. Namun karena suatu insiden yang menyebabkan pasukan Hizbullah merasa dikhianati oleh Tentara Republik.

Sehingga pasukan Hizbullah membentuk pasukan yang disebut Darul Islam / Tentara Islam Indonesia (DI/TII). Mereka berperang melawan Tentara Republik. Perang itu berlangsung sangat sengit, tetapi Tentara Republik berhasil menangkap pimpinan tertinggi DI/TII. Kabar tersebut sampai ke telinga Amid dan kawan-kawannya. Seluruh pasukan DI/TII jatuh mental, tetapi ada pasukan yang berencana ingin menyergap markas Tentara Republik.

Mereka berembuk di tengah hutan untuk membahas kondisi DI/TII saat itu. Tentara Republik tidak diam, mereka membuat seruan agar pasukan DI/TII segera menyerahkan diri dan akan diberikan pengampunan. Awalnya Amid dan teman-temannya tidak ingin menyerahkan diri karena merasa perjuangannya selama ini akan sia-sia jika mereka menyerah begitu saja. Namun tidak ada pilihan lain, mereka akhirnya turun dari bukit persembunyian, menuju ke kota untuk di beri pengampunan. Sesampainya di kota mereka mendapat banyak penghinaan dari berbagai kalangan, yang menurut mereka itu hanyalah sebuah kesalahpahaman yang membuat mereka semakin ciut.

Setelah beberapa hari berada di kota mereka akhirnya bisa kembali ke kampung halaman mereka setelah mendapat pengampunan. Amid dan temannya akhirnya bisa hidup dengan tenang tanpa pengejaran lagi setelah kurang lebih 10 tahun harus turun naik gunung untuk bersembunyi.

Sampai suatu hari datanglah Tentara Republik berkunjung ke kampung mereka. Mereka membawa berita bahwa Amid dan kawan-kawannya dipanggil oleh Jendralnya, “Ini adalah sebuah perintah” ujar salah satu Tentara Republik. Amid dan rekannya akhirnya ikut dengan Tentara tersebut untuk bertemu Komandannya. Setelah sampai ternyata mereka diperintahkan untuk bergabung dengan Tentara Republik untuk menumpas orang-orang komunis yang diketahui selama ini telah meresahkan masyarakat. Namun Amid mengalami kemalangan pada saat perang terjadi. Dia gugur dalam pertempuran tersebut.

Editor : Abdul Kadir Paduai

Related Posts

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: