Perempuan di Sore Hari yang Cerah

dilema-perempuan-ilustrasi-_121226123408-631

ilustrasi

cakrawala.ide.com — Sore hari yang cerah. Langit bermandikan warna biru dan awan putih yang bersih. Hembusan angin selembut kulit bayi. Aku duduk di halaman rumah, menyapa hijaunya rerumputan. Aku sangat menikmati suasana sore yang indah ini.

Arya Andrinata. Nama itu terlintas di benakku. Ah, kenapa mengingatnya lagi? Oh tidak, aku tidak hanya sekedar mengingatnya. Aku bahkan ingin dia di sini, duduk bersamaku. Bercanda, tertawa riang dan menangis di taman ini lagi. Sayangnya saja, masa lalu tidak bisa kembali berputar.

“Jangan tinggalkan aku arya, aku sayang sama kamu.” Pintaku sambil tersedu-sedu. Aku tak bisa menahan air mata yang jatuh terurai. Ini sakit, ini perih.

Sore yang cerah tiba-tiba diguyur air mata. Tidak terasa sudah 1 tahun lamanya Arya pergi dari kehidupanku, namun tidak satupun hal tentangnya bisa aku lupakan. Bahkan untuk sekedar pura-pura tidak mengingatnya saja aku tidak mampu. Iya. Aku perempuan yang payah perihal melupakan seseorang.

“Aku harus pergi vy, ini demi masa depanku. Aku janji akan kembali. Kamu mau kan menungguku?” Tanya Arya diselingi oleh jarinya yang lembut menyapu air mataku.

Sungguh perpisahan yang amat menyedihkan untukku. Arya pergi meninggalkanku dengan sebuah janji yang tidak bisa ku genggam kebenarannya. Baru saja tertawa riang bersamanya, tiba-tiba dia berubah bak pesulap profesional yang mengganti tawa dengan tangis dalam waktu sekejap. Ini sulit aku percaya.

Hari demi hari. Hari berganti bulan. Setiap detik, setiap jam bahkan setiap waktu dalam hidupku, aku menunggu Arya. Aku menunggu dia pulang. Menepati janjinya dan kembali merengkuhku dalam pelukannya. Namun Arya tidak juga datang. Arya ingkar. Dia bohong. Aku benci.

Sosok lelaki yang ku cintai itu belum juga kembali. Dia masih betah di kota peraduannya. Atau mungkin betah dengan orang di sana. Ntahlah. Aku tidak ingin meracuni hati dan pikiranku seperti itu. Aku percaya Arya akan pulang. Dia akan segera pulang.

***

DUA TAHUN telah berlalu. Aku masih duduk di taman rumah. Rumput hijau yang tertanam di tanah halaman rumahku mulai berubah warna, dan Arya belum juga kembali. Aku sudah mencoba menghubunginya namun tidak ada jawaban. Terakhir kali aku menelponnya, nomornya disibukkan. Setelah itu sudah tidak pernah aktif lagi. Aku email, mention di twitter dan menulis pesan di wall fbnya namun hasilnya tetap nihil. Aku frustasi. Kenapa Arya seperti menghindariku? Sesibuk itu kah dia? Sampai kabarnya saja aku tidak boleh tahu. Kenapa Arya? Kamu di mana? Baik-baik kah?

Kala senja berganti malam, aku mulai bercerita kepada Tuhan. Kenapa Arya setega itu? Pipiku kembali basah oleh air mata, rasa sakit di hatiku masih berdarah-darah. Tapi sedetikpun, pikiranku tidak bisa berpaling darinya.

“Arya, kamu di mana?” aku bergeming. Merasakan tetes demi setetes air mataku terjatuh.

Tok. Tok. Tok. “Non Devy, ada tamu di luar.”

Devy artanti, begitu nama lengkapnya dikenal. Dia langsung berlari menuju ruang tamu. Berharap Arya yang datang, namun hatinya kembali kecewa ketika melihat seseorang yang duduk di ujung sana bukanlah pria yang ia tunggu selama ini. Tapi tunggu, ada apa ya Rian ke sini? Terakhir bertemu dengan dia kan waktu di bandara ngantarin Arya. Hmm, perasaan Devi mulai tidak enak. Ada apa ya?

“Rian?”

“Hay devy. Ini ada surat,” suaranya terdengar lemas.

Karna Devy begitu penasaran dan Rian juga tidak sedikitpun menjelaskan. Ia segera membuka amplop yang berwarna coklat itu. Tangan Devy dingin, perasaannya campur aduk. Setelah selesai membuka amplopnya, ia cepat-cepat menyelesaikan kata demi kata dalam surat itu.

Aryaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa :’( hiks hiks hiks. Kenapa kamu tega Aryaaaa?

“Sabar vy,” kata Rian mencoba menenangkan mantan pacar sahabatnya itu.

Bersama dengan tenggelamnya matahari sore itu, Devy dan segenap perasaannya juga ikut tenggelam. Semuanya gelap.

Maafkan aku vy. Kau pun harus bahagia. –Arya Andrinata.

Penulis: Selvy Apriani Rama
Red: Kambuna

 

Related Posts

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: