Pendidikan Rasa Atlet

Ibarat waktu berubah menjadi arena panjang, didahului star dan finis menjadi akhirannya.
Dikala gedung-gedung fakultas berganti menjadi supermarket ecekan.

Para dosen berubah lakon menjadi pegawai yang apik mempromosikan barang dagangannya.

Melahirkan realitas palsu, sesosok atlet yang tanpa sadarnya sedang diperlombakan.
Semua harus berlari, tidak boleh tidak ! Jika tetap ingin berada di zona waktu.

Sosok yang telah kehilangan ke-maha-annya.
Seorang teknisi, dokter, pengacara, sastrawan, nelayan, petani, para kiai pun dipaksa berlari.

Mereka terus berlari dalam janji kepastian yang fana.
Ayo sadarlah, keluarlah dalam ilusi fatamorgana.
Pada hakikatnya, mereka tak peduli dengan mimpimu.
Persetan dengan mimpi, toh mereka hanya penanti.

Berlari, terus berlari dengan seluruh energi membuat tubuh mu hampir mati.
Terus menyoraki mu agar terus berlari, serupa anjing yang kegirangan mengejar pencuri.

Dalam penak, perut keroncongan, kehausan yang kian melanda kerongkongan.
Setibanya merekapun hadir, dengan paras wajah yang ramah nampak peduli.
Layaknya tupai habis melepas kentut lalu pergi.

Pelarian panjang menyisihkan keringat bertubi-tubi membasahi sekujur badan tengil penuh daki.

Mereka nampak berdiri depan supermarket, berbaris mewarnai bibir jalan arena lari.
Menjajajakan beragam makanan dan minuman, mau tak mau, kau menjadi pembeli.
Sebuah ilusi yang berhasil membuat kaki tak henti berlari.

Sekali lagi, kau wajib membeli demi melanjutkan kompetisi.
Mau tak mau kau harus membeli, tak peduli produknya sudah basi.
Demi kompetisi, agar kau tidak mati dan tetap berlari.

Mereka tertawa, berhasil menciptakan semua ilusi.
Iming-iming menjadi juara meski melukai nurani dan kau pun dibodohi.
Sekali lagi kukatakan, mereka tidak akan peduli, stop dengan mimpi, bagi mereka kau adalah atlet pelari.

penulis : Parle

Related Posts

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.