Lelaki Bernama Habibie

Ilustrasi Sekolah. Sumber : www.google.com

Cakrawalaide.com, – Suaranya yang berat memenuhi ruangan dengan banyak orang baru yang baru ia kenal. Semua mata memandang kagum kearahnya. Didalam ruangan dengan jendela kelas yang terbuka, terasa asing baginya, udara pagi masuk menerobos lewat jendela hingga udara terasa sangat- sangat dingin.

Banyak orang yang bilang, lelaki itu, ia memiliki paras yang tampan dengan pahatan wajah sempurna, kulit sawo matang dan otak yang brilian yang membuat banyak orang menganga dengan cerita kehidupan yang ia miliki. Selain memiliki wajah tampan, ia juga sangat ramah terhadap semua orang.

Namun dibalik itu. Banyak pula orang yang tak sadar dengan kehidupan yang telah ia rasakan sampai saat ini. Seperti dalam sebuah kisah yang diangkat menjadi novel ataupun film, semua kehidupan tak berjalan dengan mulus, Pasti ada bagian yang membuat orang merasa sedih saat membaca titik konflik cerita itu.

Awalnya hanya ada suara tawa yang terdengar saat ia memperkenalkan dirinya didepan umum. Seiring berjalannya waktu ia berbicara tentang pribadinya. Semua siswa seakan bungkam hanya dapat menganga mendengar kisah hidupnya.

Cerita dari mulut ke mulut membuat orang penasaran dengan jati dirinya. Semua mata menatap kagum kearahnya. Siapa gerangan lelaki yang sedang berdiri dengan ribuan karisma yang keluar  saat tiap kata keluar dari mulutnya hingga suara lantangnya menggema didalam ruangan kelas ini. Lelaki yang berdiri didepan teman barunya, sementara yang lainnya duduk memperhatikan dan menyimak tiap kalimat yang keluar dari mulutnya.

Asalnya dari Wajo. Namanya Ahmad Barcelona,  namun ia dipanggil Habibie, mungkin ketika mendengar namanya saja sudah aneh bagi kalian. Nama lengkap Ahmad Barcelona dan dipanggil Habibie, rangkuman dari mana hingga nama sapaannya adalah Habibie?

Namun mereka yang hanya mendengar memang hanya bisa tertawa, itu bagi mereka yang tak tahu history Habibie. Tentu yang sudah mengenal Habibie pastinya tak dapat menertawakan dia lagi, sebab apa gunanya menertawakan orang yang memang memiliki segudang prestasi seperti Bacharuddin Jusuf Habibie, presiden ke 3 Republik Indonesia, sekaligus orang pertama di Indonesia yang telah membuat pesawat.

“Saya jatuh cinta dengan Pak Habibie, hingga pada saat saya kecil, saya selalu membawa foto beliau kemana pun saya pergi. Orang-orang memanggil saya Habibie.” Sehutnya saat ia mendapat pertanyaan mengenai nama panggilannya.

Entah apa yang ada didalam pikiran ayahnya saat ia dilahirkan ke dunia, jika orang yang pertama kali mendengar nama lengkap Habibie, pasti mereka akan tertawa geli mendengarkan nama itu, Barcelona? Siapa yang tidak mengenal nama salah satu tim sepak bola asal Spanyol yang banyak memiliki penggemar dan memenangkan beberapa kali piala emas dan membanggakan nama tim sepak bola asal Eropa tersebut.

Menuru Habibie sendiri, berita tentang namanya ia tanyakan langsung kepada sang ayah, berkaitan saat lahirnya Habibie. Saat itu sedang musim piala dunia, hingga sang Bapak begitu terobsesi dengan Barcelona. Saat ia tahu kelahiran putra pertamanya, maka tak segan sang Bapak langsung memberi nama Ahmad Barcelona, yang diharapkan dapat menjadi pemain kelas dunia seperti Messi ataupun Christian Ronaldo yang namanya telah dikenal luas oleh penduduk bumi.

Habibie mengangumi banyak ilmuan yang menemukan benda-benda yang sampai saat ini masih digunakan oleh masyarakat bumi, dari ratusan bahkan ribuan tokoh terkenal yang ia tahu. Salah satunya adalah Henry Ford. Siapa yang tidak mengenal beliau? Namanya tak asing lagi ditelinga. Ford Motor Company, produsen mobil asal Amerika yang menjual mobil merek Ford dan mobil mewah lainnya. Pemeran utama dibalik perusahaan besar ini adalah beliau. Seorang anak yang memiliki kemampuan financial yang besar dan hasrat akan ketertarikan di dunia permesinan.

Kisah Habibie dengan Henry Ford memiliki kesamaan , yaitu bukan anak yang terlahir dari golongan yang kaya raya. Mereka hanya anak petani miskin yang membuatnya membatasi diri untuk merasakan dunia keilmuan hingga masa mudanya terjebak disawah untuk membantu orang tua, alasannya adalah kurangnya ekonomi yang memberi kenyamanan untuk bersantai.

Ia bukan dari kalangan yang memiliki dompet tebal dengan keluarga yang tergolong bangsawan, ia hanya anak desa yang memiliki kemampuan otak genius hingga dapat mengalahkan anak kota yang hidup dipenuhi dengan kepuasan dunia teknologi yang memabukkan. Ayahnya hanya seorang patani padi yang miskin dan emmaknya hanya ibu rumah tangga yang terkadang turut andil untuk membantu sang suami.

Habibie terdidik dari lingkungan yang religus, kedua orang tua yang taat beragama walaupun tergolong keluarga miskin dan tak mampu,mereka tetap mengusahakan untuk sang anak mengenyam dunia keislaman hingga Habibie sebagai anak pertama yang sudah duduk dibangku kelas X SMA disekolahkan di salah satu Pondok Pesantren yang masyhur di pulau Sulawesi, Madrasah Aliyah As’adiyah Putera Macanang.

Macanang, sebagian orang yang mengenal desa itu hanya menganggapnya hutan tak berpenghuni. Namun jauh dari kesadaran banyak orang, Macanang adalah tempat yang dijadikan sebagai sarana belajar untuk para santri yang dapat dikondisikan dengan nama pondok.

Daerah terpencil yang jauh dari kota, memasuki lorong kecil tak berpenghuni yang sepi tambah  jalanan rusak yang beraspal namun berlubang pula . Hutan yang berpadang dengan banyak hewan ternak bertebaran sebagai penjemput para pendatang yang berkunjung kesana. Bukan hanya hewan ternak yang didapatkan disetiap jalan,bahkan kotoran ternak adalah salah satu oleh-oleh wajib bagi setiap berkunjung yang kesana. Baik pejalan kaki maupun pengendara motor atau mobil.

Lokasinya Pondok sangat jauh dari keramain, tinggal ditengah hutan dengan dikelilingi gunung hingga udara terasa sejuk, daerah yang sepi dan jarang terdapat rumah penduduk. Sangat menguji mental’kan?.

Para santri diajarkan untuk lebih mandiri disana, bisa dilihat dari jalanan masuk ke Pondok saja sudah amazing, apalagi saat berada di lokasi Pondok. Ada banyak asrama sebagai tempat tinggal para sanrti. Menurut beberapa orang ,sebagian asrama itu dibuat oleh sanrti sendiri dengan bahan alam yang dimanfaatkan.

Penananman sikap mandiri terhadap santri  dapat meningkatkan kekreatifan para santri.

Sebelum Habibie kembali ketempat duduknya,Habibie menahan nafas, ia mengedarkan pandangannya diseluruh ruangan ini. Menatap balik satu persatu mata yang menatap kearahnya.

Pandangannya berhenti pada seorang lelaki yang sedang menenggelamkan wajahnya diantara kedua lengannya. Mungkin sedang tidur, pikir Habibie.

Setelah dipersilahkan untuk duduk, ia mengangguk dan berjalan meninggalkan tempatnya tadi berdiri, perkenalannya selesai, jika ada pertanyaan privat yang ingin ditanyakan , mereka adalah anak asrama. Anak asrama memiliki kedekatan lebih dari saudara, saat Habibie kembali duduk ditempat duduknya, Senior menunjuk seorang santri baru untuk maju kedepan memperkenalkan diri.

“Yang disana,” semua mata mengikuti kemana arah telunjuk Kak Afra tertuju, Habibie ikut menoleh dan menyipitkan matanya untuk memperjelas kemana arah telunjuk Kak Afra berakhir. Santri baru yang tidur itu.

Rasa penasaran Habibie makin besar pada teman kelasnya itu, saat ditunjuk untuk memperkenalkan diri, santri yang diketahui namanya adalah Umar hanya bergeming. Bergerak dari tempatnya saja tidak. Ia masih tertidur, pikir Habibie enggan tuk memperbaiki posisi duduknya. Matanya terus melihat Umar yang tak kunjung bergerak walaupun namanya telah dipanggil sekian kali oleh Kakak Panitia MOS.

“Mungkin tidur , kak..” sehut Arif, teman sebangku Habibie. Kak Afra mengangguk setuju. Beliau sebagai ketua OSIS memiliki sikap kepemimpinan yang sangat teladan. Jika hanya dilihat sejenak, Tidak ada kekurangan yang dia miliki. Semua situasi yang Kak Afra tangani pasti terselesaikan dengan baik. Namun pada hakikinya, kesempurnaan hanya-lah milik Allah SWT.

Umar mendongakkan kepalanya saat Kak Afra menyentuh pundaknya, tangan Umar memegang benda berukuran persegi yang kecil. Sebuah al-qur’an. Habibie dengan seksma memperhatikan teman barunya itu. Dia tidak tidur , Umar menghapal Al-Qur’an.

Satu kesimpulan yang ia dapat saat melihat ekspresi Umar, Umar tidak tidur selama perkenalan, ia sibuk melancarkan hapalan qur’annya. Ia hanya tak mendengarkan perkenalan teman barunya. Karena Umar tuli.

“Tidur?” Tanya Kak Afra pelan, Umar melongo sejenak. Matanya menatap heran semua teman sekelasnya yang melihat kearah dirinya. Umar menggeleng.

“Maaf Kak, saya tuli..” jawabnya saat melihat gerakan bibir Kak Afra.

Umar hidup dengan kekurangan yang membatasi dirinya untuk berbaur dengan orang banyak.

Habibie kagum dengan sikap Umar. Umar tidak tidur, ia menunduk karena melancarkan hapalan qur’annya hingga tak ada orang yang sadar, ia sedang mengaji.

“Nanti saya kenalan, kak..” Arfa meminta maaf atas hal ini. Ia merasa bersalah telah berfikiran negatif dengan Umar.

Sedari tadi Umar hanya membaringkan jidatnya hingga siapapun yang melihat hal itu akan berfikir hal yang sama, ia sedang tidur.

“Keren tadi perkenalanmu, Habibie..” seru Arif dengan amat antusias   Habibie hanya tersenyum dan terkekeh.

Arif adalah teman pertamanya di Macanang, Arif sangat ramah dan menyenangkan. Dua sifat yang membuat orang lain senang bersama dengannya.

Setelah perkenalan selesai, Kakak panitia MOS meninggalkan kelas  Keagamaan  yang disingkat menjadi MAK. Ini adalah hari pertama baginya di Pondok. Bukan hal yang membosankan bagi Habibie, ia mempunyai banyak teman baru.

“Umar, kenalan ki’ dulu..” awalnya, hanya Alif yang berdiri disamping Umar. Lama-kelamaan para santri juga ikut berkumpul di kursi belakang tempat Umar duduk  hingga terasa sesak dengan banyaknya santri baru yang ingin kenalan dengan Umar.

Umar hanya terdiam tak mengeluarkan ekspresi saat sebagian dari sekelasnya datang ketempat duduknya untuk berkenalan.

Habibie tak ingin ketinggalan untuk bisa mengenal sosok Umar. Ia penasaran, siapa Umar ini.

“Mau semua ki’ kenalan?” Sebelah alisnya terangkat saat sadar bahwa dirinya berada ditengah kerumunan santri yang berdiri mengelilingi meja duduknya. Senyum Umar terukir saat ia melihat anggukan bersama . Emak, tidak salah kita pilihkan ka sekolah. Batinnya saat melihat wajah tulus teman baru yang ingin berkenalan dengannya.

Umar memperhatikan wajah-wajah teman sekelasnya.

“Umar as-Siddiq, orang Sengkang”

“Dimana di Sengkang?” tanya Habibie cepat.

Umar tak menanggapinya, awalnya Habibie merasa kesal diabaikan tanpa dijawab pertanyaannya. Namun ia sadar, Umar tidak mendengar pertanyaannya. Habibie mengurungkan niatnya untuk bertanya. Ia memilih untuk kenalan dilain waktu dengan Umar.

Penulis : Besse Elfisraq Fauziah
Siswi Madrasah Aliyah As’adiyah Puteri Sengkang

 

Related Posts

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: