Menulis untuk Keabadian

Penulis : Mansyur

Setiap orang punya jalan cerita. Masing-masing orang punya pengalaman hidup
dan masing-masing punya keahlian.

Setiap cerita, pengalaman, dan keahlian bisa ditularkan atau disampaikan ke orang lain lewat tulisan. Tulisan dapat meneruskan cerita, pengalaman, dan keahlian kita melebihi usia kita sendiri.

Sangat disayangkan apabila kita sebagai orang yang pintar, punya keterampilan, dan pengalaman, tetapi hanya bermanfaat untuk pribadi sendiri dan orang-orang terdekat saja.

Bukankah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam pernah bersabda :
“Apabila seorang anak adam meninggal dunia, maka terputuslah segala amalannya, kecuali tiga perkara, yaitu : sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat, dan anak sholeh yang selalu mendoakan  (H. R Muslim).”

Manfaat dari ilmu sejatinya adalah ketika diamalkan dan disampaikan kepada orang lain, melalui jalan dakwah. Dakwah tidak hanya dengan lisan, akan tetapi juga dengan qalam (tulisan).

Bayangkan ketika apa yang kita kuasai, pengalaman kita, serta gagasan kita dituangkan dalam tulisan. Tentu akan membawa dampak yang lebih luas, bisa berpengaruh dan bermanfaat bagi masyarakat, bahkan sampai ke generasi selanjutnya.

Contoh saja, Imam Syafi’i salah satu dari empat Imam Mazhab yang sampai hari ini ilmu dan pengetahuannya tentang agama masih diamalkan. Mazhab Syafi’i paling dominan dianut oleh kaum muslim di Indonesia.

R.A. Kartini salah seorang pejuang emansipasi perempuan yang paling dikenal di Indonesia, karena melalui keberaniannya menyuarakan pemikiran lewat tulisan, berupa surat.

Siapa yang tidak kenal Pramodya Ananta Toer , salah satu penulis/pengarang yang juga merupakan pahlawan gerakan anti kolonial di Indonesia, seorang pejuang HAM, dan kebebasan berbicara di muka umum. Beliau terkenal lewat karya-karya sastranya seperti buku Bumi manusia, Jejak Langkah, Sang Pemula dan masih banyak lagi karya-karyanya yang telah diterjemahkan ke dalam 40 bahasa.

Juga perlu diingat bahwa salah seorang perintis utama kebangkitan nasional adalah seorang jurnalis/penulis, yaitu R.M. Tirto Adhi Soerjo, atau yang kita kenal Minke salah satu tokoh yang dikisahkan Pram dalam buku Bumi Manusia. Juga dalam Sang Pemula.

Saya dan anda tentu tidak pernah mengenal mereka secara langsung. Mereka memang sudah meninggal dunia sejak puluhan, ratusan, bahkan ribuan tahun yang lalu. Namun, mereka tetap dikenal dan dikenang lewat tulisan dan karya-karyanya.

Coba bayangkan apabila mereka tidak pernah menulis. Dijamin hari ini kita tidak bakalan mengenal mereka dan pemikiran atau gagasannya tidak berpengaruh saat ini.

Mungkin anda beranggapan bahwa mereka, tokoh-tokoh itu memanglah berbakat, sedangkan saya? Satu paragraf pun sulit untuk dituliskan.

Pemikiran semacam itu juga dulunya yang saya pegang. Namun sebenarnya menulis tidaklah begitu sulit karena sejak pendidikan tingkat Sekolah Dasar, kita telah diajarkan untuk bagaimana cara menulis.

Kuncinya hanyalah biasakan diri untuk menulis. Menulis, menulis, dan menulislah!
Tidak usah terlalu muluk-muluk, yang terpenting mulai saja belajar menuangkan pemikiran, gagasan, dan apa yang direnungkan ke dalam tulisan.

Pada awalnya mungkin tulisan itu tidak karuan, itu hal biasa karena tidak ada orang yang langsung begitu saja hebat. Namun, dengan terus menulis maka nantinya akan semakin terampil. Ingat, ala bisa karena biasa.

Kata bung Pram (Pramodya Ananta Toer) “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”

Terakhir, catatan penting : Tidak ada penulis yang baik, tanpa menjadi pembaca yang baik.

 

Red : Izhanide

Related Posts

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: