Mengenal Sosok Christopher McCandless dan Gagasannya Dalam Film “Into The Wild”

Penulis : Nopri Aan Saputra

“Aku ingin pergerakan dinamis, bukan kehidupan yang tenang. Aku mendambakan kegairahan, bahaya, dan kesempatan untuk mengorbankan diri bagi orang yang kucintai. Aku merasakan di dalam diriku, tumpukan energi sangat besar yang tidak menemukan penyaluran di dalam kehidupan kita yang tenang.” -Leo Tolstoy (Family Happines)

Judul Film: Into The Wild

Genre: Drama

Tanggal rilis21 September 2007

Produser: Sean Penn, Art Linson, dan Bill Pohlad

Sutradara: Sean Penn

Durasi Film: 2 jam 28 menit

Penulis: Jon Krakauer

Film Into The Wild merupakan sebuah film drama asal Amerika Serikat pada tahun 2007 yang berdasarkan pada sebuah buku non-fiksi “Into The Wild yang ditulis oleh Jon Krakauer. Film Into The Wild merupakan film petualangan yang merangkum kisah nyata Christopher Johnson McCandless sebagai tokoh utamanya dan diperankan oleh Emile Hirsch.

Dalam film ini menceritakan tentang seorang pemuda dari keluarga kaya yang memilih bertualang dan hidup bebas di alam liar Alaska. Christopher McCandless memilih menjauh dari hingar bingar kehidupannya yang terbilang sudah nyaman dan mapan demi menyatu dengan alam.

Christopher McCandless adalah pria kelahiran El Segundo, California pada tanggal 12 Februari 1968 dan merupakan anak pertama dari dua bersaudara. Dia menjadi lulusan terbaik di Emory College, dan juga telah mendapatkan tawaran untuk melanjutkan kuliah di Harvard jurusan Hukum. Ayahnya bernama Walter McCandless ‘Walt’, seorang antenna specialist yang bekerja untuk NASA dan juga memiliki perusahaan konsultan di bidang teknologi. Ibunya bernama Wihelmina Johnson ‘Billie’ bekerja sebagai konsultan sukses di tempat tinggal mereka. Dari kedua orang tuanya, McCandless mendapatkan semua fasilitas yang dibutuhkan dan memiliki hidup yang terbilang sudah mapan.

Meski dalam kehidupan sosial orang tua McCandless adalah sosok yang ideal  dengan kesuksesannya, akan tetapi McCandless justru berpikir lain. Bagi Chris,  kedua orang tuanya hanyalah figur masyarakat kelas menengah yang hipokrit dan penuh dengan kemunafikan.

“Rather than love, than money, than faith, than fame, than fairness.. Give me truth”

Idealisme dan motivasi yang dimilikinya ini dipengaruhi oleh pemikiran Leo Tolstoy, Jack London, dan Henry David Thoreau sebagai penulis favoritnya, hingga membuat Christ tumbuh sebagai pemuda yang idealis dan cenderung menjauhkan diri dari kehidupan modern yang teratur. Dengan ini, idealisme yang ia miliki membawa Christ untuk memutuskan untuk menggantungkan hidup pada alam sepenuhnya, mengabaikan resiko apa pun yang akan terjadi di luar sana dan mencoba untuk tetap bertahan hidup di tengah kebekuan dan kesunyian Alaska, The Last Frontier, dataran kejam yang tak mengenal belas kasihan kepada siapun yang berkunjung.

Perjalanan Christopher McCandless ke Alaska

Awal perjalanan panjangnya menyusuri keheningan Alaska adalah setelah dia lulus dari jurusan Sejarah dan Antropologi di Emory University dengan nilai sempurna, membuat Christopher McCandless lulus dengan predikat cumlaude dan diberikan hadiah mobil baru oleh orang tuanya. Namun Christ menolak. Uang sisa kuliahnya yang seharusnya dimanfaatkan untuk melanjutkan pendidikannya justru disumbangkan ke Oxfam International, sebuah yayasan amal yang berjuang melawan kelaparan sebesar $24.000. Tidak hanya itu, sebelum petualangannya dimulai Christ menghancurkan semua kartu identitas, kartu ATM, kartu kredit yang ia miliki. Christ kemudian mengendarai mobil Datsun B210 kesayangannya hingga ke suatu tempat di Arizona yang akhirnya harus ia tinggalkan, lalu melakukan perjalanan ke arah barat Atlanta.Tidak seorang pun yang mengetahui Christ akan merencanakan kepergiannya ke alam liar dan keinginannya untuk memisahkan diri dari kehidupan dan orang terdekatnya.

Christ memutuskan untuk melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki dan menyatu dengan alam bebas. Ia pun juga mengganti namanya menjadi Alexander Supertramp sehingga orang tuanya, Walt dan Billie tidak bisa melacak identitasnya. McCandless sebenarnya memiliki permasalahan dengan orang tuanya. Sehingga membuatnya makin yakin untuk menjauhi keluarga yang sangat menyayanginya itu. Kemudian dia menciptakan model kehidupan baru untuk dirinya sendiri, menetap di tengah alam liar di luar lingkungan masyarakat, mencari pengalaman yang murni dan transedental.

Banyak sekali orang-orang yang berpengaruh bagi kehidupan McCandless selama perjalanannya ke Alaska. Orang-orang ini berjasa baginya karena memberi tumpangan ketika McCandless berjalan di tengah jalan, memberi pekerjaan bagi McCandless untuk melanjutkan hidup, atau sekedar memberi inapan satu dua malam. Orang-orang ini tidak pernah dilupakan oleh McCandless karena ia selalu berjanji pada mereka untuk mengirim kartu pos ketika berpisah untuk kembali melanjutkan perjalanan ke Alaska yang memakan waktu selama dua tahun.

Begitu banyak cerita dari berbagai orang yang Christ temui di sepanjang perjalanannya menuju Alaska. Dalam setiap perjalanan Christ menemukan tempat baru, teman baru, dan pengalaman baru yang selalu ia tulis dalam buku perjalanannya. Di perjalanan Christ juga sempat bekerja di sebuah peternakan yang dimiliki oleh Wayne Westerberguntuk menyambung kehidupannya. Selama bekerja di tempat Wayne, Christ sangat senang dengan pekerjaan baru yang ia dapatkan. Sayangnya, Christ tidak bisa lama bekerja di tempat Wayne setelah tak beberapa lama, Wayne ditangkap polisi sebagai buronan.

Christ kembali pergi ke arah Sungai Colorado dan ketika dia ingin meminta izin kepada petugas keamanan sungai dan Christ tidak mendapatkan izin, ia tetap nekat pergi dengan perahu dayungnya hingga ia diikuti oleh Petugas yang sedang berpatroli di Sungai Colorado. Mendayung ke hilir sungai hingga pada akhirnya membawa Christ menuju ke Meksiko. Disini, Christ merasa tidak mudah untuk menumpang kendaraan di tempat ini, kemudian ia pun pergi ke Los Angeles dengan menumpang kereta barang. Namun, nasib sial kembali menimpa Christ, petugas setempat yang menemukannya memukul Christ hingga babak belur karena Christ tidak memiliki Kartu Tanda Pengenal untuk bekerja.

Pada akhirnya Christ memutuskan untuk tetap melanjutkan perjalanannya ke Alaska. Namun, sebelum ke Alaska ia bekerja di sebuah restoran dan bertemu dengan Jan & Rainey kembali di sebuah tempat hiburan. Disini, ia bertemu juga dengan Tracy sosok perempuan yang tertarik kepada Christ. Tak terasa waktu cepat berlalu, Christ memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Alaska setelah merayakan natal bersama Jan & Rainey dan merasakan kebersamaan dan cinta bersama teman-temannya ini.

Di tengah perjalanan menuju Alaska, Christ bertemu dengan seorang kakek pensiunan tentara bernama Ron Franz di California yang kesepian karena keluarganya dibunuh oleh perampok. Christ memutuskan untuk tinggal beberapa bulan di tempat Ron sembari mempersiapkan keberangkatan ke Alaska. Disini, Ron membantu Christ menyiapkan perlengkapan yang akan dibutuhkan Christ selama di Alaska.

Saat Christ sudah siap untuk pergi ke Alaska, Ron menawarkan kepada Christ untuk menjadi cucunya. Namun, Christ menolaknya dengan halus, dan mengatakan, ia harus membicarakannya kepada Ron setelah kembali dari Alaska. Kepergian Christ membuat Ron sangat sedih setelah kebersamaan keluarga yang terbangun selama beberapa bulan ini. Di sisi lain, keluarga Christ sangat mengkhawatirkan keberadaan Christ yang belum diketahui juga.

McCandless, Fairbanks dan Petualangannya

Pada April 1992 McCandless tiba di Fairbanks. Saat di sana, ia berangkat menuju suatu jalan setapak yang dinamai Stampede Trail dengan membawa perlengkapan yang amat sedikit dan mengharapkan kehidupan yang sederhana di tengah-tengah alam. 1 Mei 1992 ia menemukan bus nomor 142 terdampar di sebelah barat Kota Healy, Alaska. Bus yang hanya tinggal kerangka saja itu adalah buatan International Harvester yang merupakan bagian dari Sistem Transit AntarkotaFairbanks. Bus itu sengaja ditinggalkan ketika cairan salju dan banjir musiman memotong rute sebuah proyek pertambangan biji besi.

             christ dan magic bus miliknya

McCandless menikmati bus itu sebagai rumah barunya di alam liar. Ia hidup dengan berburu berbagai binatang liar salah satunya adalah berburu landak, rusa, dan bebek dan memakan umbi-umbian dan buah raspberry. Christ sangat menikmati kehidupannya. Sering kali ia menyempatkan waktunya untuk mendaki ke gunung yang tinggi hanya untuk merasakan kebebasan yang hakiki menurutnya.

Di Fairbanks, Christ belajar menemukan jati dirinya. Ia belajar bagaimana manusia bertahan hidup dan bahagia di alam bebas tanpa perlu memikirkan materi. Di tempat ini, Christ tinggal di sebuah bangkai bus yang sudah lama ditinggal oleh pemiliknya. Ia pun menamakan bus ini “Magic Bus”. Sampai disini , Christ merasa obsesinya menjauhkan diri dari kehidupan modern tercapai.

Namun, kebahagiaan ini berlangsung sangat singkat. Seiring berubahnya cuaca dan musim, Christ menemukan dirinya mulai kesulitan menemukan bahan makanan karena hewan buruan sudah semakin sedikit. Rusa yang ia buru pun tidak bisa dijadikan stok makanan karena tidak ada lemari pendingin, sehingga rusa ini dikerubuti oleh lalat dan belatung. Christ mulai memahami, bahwa alam kasar dan tidak peduli. Saat mencoba menyeberangi sungai untuk kembali pulang, sungai tersebut cukup deras untuk bisa dilewati oleh Christ seorang diri. Ia terjebak dan tidak bisa kembali.

Ia kembali lagi ke dalam bus, Christ mulai kelelahan dan kelaparan. Tidak ada makanan yang bisa ia makan. Dengan hanya berbekal pengetahuan survival seadanya dan sebuah buku Field Guide tentang Edible Plant (Botani Praktis) yang ia bawa, Christ mencoba mengidentifikasi tanaman untuk makanan sehari-harinya, bahan makanan apa yang bisa ia temukan dan dimakan. Christ mencari dan menemukannya di sekitar Magic Bus yang ia tinggali. Christ kembali ke dalam bus dan mulai mengkonsumsinya. Namun, esok harinya ia malah demam tinggi, dan tidak ada obat yang ia bawa untuk mengurangi rasa sakit yang diderita Christ. Saat ia membaca bukunya kembali, Christ menyesal dan mengetahui bahwa ia keracunan, maksud hati hendak memakan HedysarumAlpinum (Sejenis Kentang), dia malah memakan Hedysarum Mackenzii tanaman sejenis yang morfologinya hampir sama namun mengandung racun dan dapat menyebabkan kematian.

Dalam kesendiriannya itu, Chris berjuang untuk melawan racun yang telah masuk ke dalam tubuhnya selama beberapa hari. Hingga pada akhirnya, ia lemas dan tidak bisa bergerak, hanya berbaring di tempat tidur. Secara perlahan, air matanya mengalir, dibukanya buku Doctor Zhivago yang dia bawa. Matanya terpaku pada deretan kalimat:

“… and that an unshared happiness is not happiness..”

Lalu Christ mengambil pena dan dengan tangan yang bergetar, dia menggoreskan kalimat:

“HAPPINESS ONLY REAL WHEN SHARED”

Saat mengalami epiphany, Christ membayangkan wajah orang-orang yang disayanginya, dan dia benar-benar merindukan kedua orang tuanya. Christ akhirnya mati di tanah impiannya, Alaska. Dalam catatan terakhir Alexander Supertramp:

“I have had a happy life and thank the Lord. Goodbye and may God bless all”

Editor : Nandaa

Related Posts

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: