Menelusuri Air Mata

Oleh : Chung

Mula-mula memasang segala perangkat yang ada

lalu menengadah

membaca langit  biru tua

dan memeriksa kembali seluruh kantong di celana

juga tas berisi kitab penuh bahasa sastra

 

Hari itu kumelangkah di bawa siang nan terik

sesekali  kuperbaiki ikat tali  sepatu di kaki

memastikannya kuat

seperti tekadku yang sudah bulat

 

Aku mesti lakukan ini

walau tak seperti Dandhy

dengan pengalaman dan kru telatennya

pergi menuju sarang kerumunan orang mendaku  sebagai pahlawan

Pahlawan palsu bak selebrits penuh skandal

yang bersujud di atas altar feodal

rela dianal oleh imperialis lokal

 

Barisan orang-orang marah berkumpul di sana

dengan mulut menganga

dengan tangan kirinya

selalu menunjuk ke segala arah

mengutuk siapa saja yang ada di hadapannya

seakan  ia manusia tak bersalah dan tanggal dari dosa

 

Kami tahu apa yang terjadi nanti

jika kalian para iblis pengaman investasi

tak membiarkan kami membawa aspirasi

 

Kehancuran akan hadir di berbagai lini di negeri ini

Izin Amdal abal-abal

Masuknya ribuan tenaga kerja illegal

Hingga terus terjadinya perampasan tanah dan  ruang hidup yang dianggap halal

 

Ah.. sialnya, iblis itu lebih paham untuk melakukan apa

Mereka sudah pernah menggunakan caranya

Siap dengan pelindung tubuh

tak termakan benda tumpul bahkan busur panah

Tongkat cambuk, pistol, dan helm aneh pun sudah bercokol di kepalanya

Siap menumpas dan menghancurkan siapa saja

Batu-batu yang sengaja digembala

juga botol-botol peledak yang tak seberapa

Tak ada apa-apanya

 

Keringatku semakin deras mengalir

Ketakutan mulai membenamkan

Air pun  keluar dari nozzle-nozzle truk dengan deras

disusul letusan demi letusan keras

dan asap putih tebal sudah di mana-mana

Udara yang tadinya tak berwarna

berubah membiru dan kemudian jadi merah dan kemudian hitam

lalu aku termangu

lalu tiba-tiba membatu

 

Keberanian coba memompa darahku dengan begitu kuat

Aku harus bisa melawan dalam segala keadaan

sebelum mata pena mengering

sebelum darah dibekukan

dan mentari pagi tak lagi datang

 

Mendadak alzheimer menghujani

Entah  untuk alasan  apa aku datang di sini

Yang kuingat adalah setiap tahunnya ribuan perempuan

remuk harapan

tak tahu ke mana mesti temukan

Temukan  perlindungan dan keadilan

Yang kuingat hanyalah  setiap harinya para pekerja outsourcing

semakin  menjerit

anak-anak mereka mesti terus bersekolah sementara utang  terus menghimpit

Yang kuingat firman Tuhan

semakin terbuktikan

di mana-mana telah terjadi kerusakan

kerusakan di darat dan lautan

 

Wajar saja beramai-ramai

orang- orang marah itu datang ke tempat  ini

Dan aku di sini

seorang diri

berjalan kembali

menelusuri air mata dan darah

yang tertumpah di tanah

Kembali  ke cerita ini

sesekali  kuperbaiki ikat tali sepatu di kaki

memastikannya kuat

seperti tekadku yang sudah bulat

memeriksa seluruh kantong di celana

dan tas berisi kitab penuh bahasa sastra

yang mungkin tak ada aku dan kisah ini muncul.

Related Posts

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: