Lompo Golo

Ilustrasi Lompo Golo./ Sumber : www.google.com.

Cakrawalaide.com, – Di sebuah daerah bernama Kajang salah satu daerah terpencil di selawesi selatan tepatnya di kabupaten Bulukumba. Hiduplah sepasang suami-istri yang miskin. Kehidupannnya bisa dibilang sangat sederhana. Mereka serba kekurangan, sepasang suami istri itu hanya bertani untuk bisa menghidupi dirinya. Sebagian hasil panennya mereka simpan dan sebagian mereka jual untuk memperoleh kebutuhan lainnya. Selain mereka bertani mereka juga memelihara ternak milik tetangganya. Sepasang suami istri  ini sudah lama menikah namun belum  juga di karuniai anak. Oleh karena itu, mereka sangat sedih.

Di suatu hari, sang suami  pergi ke sawahnya. Sedangkan istrinya pergi menjual sebagian hasil panennya untuk memenuhi kebutuhan lainnya yang cukup jauh ia tempuh, biasanya sang istri membutuhan waktu satu hari untuk menempuh perjalanan ke pasar tersebut. Akhirnya mereka lupa memberikan air minum hewan peliharaannya yang sang suami ikat di belakang rumahnya. Untungnya tetangganya kebutulan lewat, sehingga ia melihat hewan ternaknya yang sedang haus akibat panas matahari seharian ditinggal pemiliknya ke kebun. Sepulangnya dari sawah barulah sang suami mengingat  bahwa ia lupa menyampaikan kepada istrinya untuk memberikan air minum hewan ternaknya. karena ia akan bekerja di sawah seharian.

Pada suatu hari sang suami berkata kepada istrinya, “O tau pekerjaan kita yang begitu banyak, percuma kita bekerja keras. Tidak ada yang mewarisinya, bahkan ada pekerjaan kita yang terabaikan,” tanya sang suami.

Mendengar tuturan kata suaminya, hati sang istri sangat sedih, “Aku pun sudah lama memikirkan hal itu. Hanya saja aku tidak berani mengatakannya kepada tau, aku takut tau tersinggung,” pinta sang istri.

Sejak itu, mereka selalu berdoa bersama memohoan kepada Tuhan yang maha kuasa lagi pemberi agar diberikan seorang anak. Akhirnya doa mereka pun dikabulkan. Sang istri melahirkan  seorang anak laki laki yang di beri nama Lompo Golo. Lompo artinya besar sedangkan Golo artinnya bulat. Nama Lompo Golo dimaknai sebagai orang yang tubuhnya besar dan bulat, bukan hanya tubuhnya besar ia juga orang yang rakus dan malas. Sejak kecil, Lompo Golo selalu dimanjakan oleh kedua orangtuanya, sebab ia adalah anak satu-satunya  dan diminta-minta.

Akhirnya  Lompo Golo tumbuh besar  menjadi anak yang malas, namun tubuhnya kuat dan perkasa. Semua keinginannya harus dipenuhi, hampir setiap harinya Lompo Golo melempar apa yang dilihatnya dalam rumah, apabila keinginannya tidak terpenuhi. Lompo Golo selalu melawan kedua orantuanya, apabila ibu ataupun ayahnya terlambat memenuhi keinginannya. Membuat kedua orangtuanya sangat sedih melihat perlakuan anaknya.

Pada suatu hari, kedua orangtuanya sedang mengadakan syukuran. Syukuran rutin yang biasa mereka lakukan setiap tahunnya, apabila meraka selesai panen. Sang Ibu sedang sibuk memasak makanan yang enak enak, makanan yang paling disukai Lompo Golo. Sedangkan sang ayah sibuk mencabut bulu ayam yang akan digunakan dalam syukuran tersebut. Lompo Golo hanya tertidur nyenyak di kamarnya, seolah olah ia tidak mengetahui kesibukan kedua orangtuanya. Sehingga ia tidak terbangun untuk membantu kedua orangtaunya. Namun kedua orangtuanya tetap memanjakannya, sebab mereka menganggap anaknya Lompo Golo masih berusia sangat mudah. Padahal usia Lompo Golo ketika itu sudah berusia kurang lebih sepuluh tahun. Suami istri ini tak kenal lelah, meraka  rela mengerjakannya sendiri tanpa mengharapkan bantuan dari anaknya. Seusai  sang ibu telah memasak ayam dan mempersiapkan semuanya untuk keperluan syukuran. Barulah ia membangunkan anaknya dan memintanya agar Lompo Golo memanggil pak Iman untuk membacakan permohonan rasa syukurnya kepada Tuhan.

“Oh Lompo Golo, bangunlah nak!”  Pinta sang ibu dengan suarah lemah lembut membangunkan anaknya.

“hmm…hmm…hmm!”  respon Lompo Golo yang kelihatan masih mengantuk, lalu melanjutkan tidurnya.

“Lompo Golo, Bangunlah nak!”  Ibu sudah selesai memasak ayam nih buat kamu, dan beberapa makanan kesukannmu, rayu sang ibu yang lemah lembut memanggil kembali anaknya.

Barulah Lompo Golo terburu buru terbangun dari tempat tidurnya, mendengar ibunya menyebut makanan. Ia hanya mengusap kotoran matanya. Lalu menghampiri ibunya yang sedang sibuk memasak di dapur.

“ibu…! Ayamnya kan masih dipanci, aku kira sudah tersedia?”  nyesal Lompo Golo.

“Iya ayamnya masih di panci! Tapi sudah masak kok, Lompo Golo lupa ya hari ini kita syukuran jadi kamu pergi panggil pak Iman untuk membacakan permohonan rasa syukur kita kepada Tuhan?” perintah sang ibu.

Lalu Lompo Golo pergi memanggil pak Iman walau dalam hatinya tidak ikhlas. Ia menuju rumah pak iman yang biasa membacakan rasa syukur kepada Tuhan di kampungnya. Namun muncul didalam hatinya rasa rakusnya, ketika pak Iman datang membacakan syukurannya maka pasti akan banyak orang yang bertamu di rumahnya. Sehingga porsi makanannya berkurang, apalagi ia sudah melihat ibunya sedang memasak ayam tadi, Pikirnya.  Akhirnya Lompo Golo tak jadi memanggil pak iman, melainkan melewati rumahnya. Lalu kembali kerumah menemui ibunya, menyampaikan bahwa pak iman sedang keluar kampung.

“Lompo Golo! Benar, bahwa pak Iman sedang keluar kampung, kok bisa. padahal  dia sendirilah yang menjanjikan  waktu untuk hari syukuran? ”  heran sang ibu.

“Iya ibu! Benar pak Iman tidak ada di rumahnya, kata istrinya ia sedang keluar kampung!”  Jawab Lompo Golo dengan terbata-bata.

Lalu Lompo Golo masuk ke kamar sambil mengintip ngintip masakan ibunya. Terpaksa Sang ibu yang pergi mencari pak Iman, seketika Lompo Golo mengetahui bahwa ibunya sedang tidak ada di dapur. Maka ia pun melangkah pelan pelan menuju dapur, sambil berjaga jaga melihat ibunya sedang keluar pintu rumah. Lompo Golo tak habis pikir melihat paha ayam yang beraroma pedas nan lesat. Ia langsung menyantapnya dengan lahapnya. Ia menghambur-hamburkan tulangnya.

“Nyam…nyam…nyam!”  Masakan ibu betul-betul lesat! Pinta Lompo Golo sambil mengunyah paha ayam masakan ibunya.

Lalu ia bersembunyi ke loteng rumahnya, sedang duduk jongkok di mulut loteng tersebut. Tiba-tiba ia ingin membuang air besar, namun ia takut untuk keluar dari loteng. Sebab ia takut dilihat oleh ayahnya. Sehingga ia hanya menutup anusnya dengan tongkol jagung. Tak lama kemudian ibunya pun datang bersama dengan pak Iman. Sang ibu langsung ke dapur mengambil persiapan dan perlengkapan lainnya. Alangkah terkejutnya sang ibu ketika ia melihat semua makanan telah habis dan hanya tinggal tulang-tulangnya yang berhemburan di dapur.

“Lompo  Golo owo…owo…owo!”  teriak sang ibu yang sedang marah melihat kejadian tersebut. Lalu sang ibu mencari Lompo Golo di rumah, tapi ia tak menemukannya.

“Tolong…tolong …tolong!”  Aku sedang tertusuk tongkol jagung nih,” rengek Lompo Golo di atas loteng rumah. Lalu pak Iman terburu-buru menolong Lompo Golo. Ia mencabut jongkol jagung yang sedang menonjol di mulut loteng rumah tersebut. Akhirnya pak Iman pun terkena kotoran dari Lompo Golo. Membuat ia sangat kecewa dengan keluarga Lompo Golo, atas perlakuannya. Hal demikian membuat kedua orangtuanya sedih, Lalu pak Iman kembali dengan kecewa.

Kehidupan suami-istri ini sejak dulu sampai memasuki masa tuanya mereka hanya bertani dan bercocok tanam. Apabila kedua orang tuanya pergi ke ladang maka ia hanya tinggal di rumahnya saja tidur, dan bermain–main sama temannya. Membuat kedua orangtuanya semakin heran campur sedih melihat anak.

Di suatu hari, di musim penghujan telah tiba. Tanaman padinya terlihat tumbuh subur, sebentar lagi akan berbuah. Namun, banyak rumput yang sedang meliliti di batang padinya, yang dapat menghambat pertumbuhannya. Akhirnya sang ibu memerintahkan Lompo Golo untuk pergi membersihkan padinya di sawah. Sang ibu bertanya kepada Lompo Golo.

“Lompo Golo! Berapa  orang yang akan kau temani besok nak, untuk membersihkan di sawah besok, karena ibu akan mempersiapkan bekal untuk mereka?”  Tanya sang ibu kepada Lompo Golo.

“Sekitar sepuluh orang ibu! Karena aku akan memanggil tetangga yang lain!”  Jawab Lompo Golo sambil tersenyum.

“O iya ibu, ketika ibu telah sampai di bukit, simpan saja bekalnya bair aku yang akan mengambilnya,” pinta Lompo Golo.

Keesokan harinya, Lompo Golo pergi ke sawah membersihkan padinya. Lalu ia membuat patung orang, sebanyak sepuluh agar ibunya melihat bahwa benar merekalah yang membantu Lompo Golo. Padahal hanyalah hiasan semata, agar ia dapat makan bekal sendiri yang cukup banyak dengan lauk yang enak enak yang di persiapkan oleh ibunya untuk sepuluh orang temannya.

Matahari mulai menghantui bayang bayang pohon. Sehingga ibunya datang membawa bekal yang ditujukan oleh sepuluh orang. Setiba dibukit yang di maksud Lompo Golo, sang ibu pun menyimpan bekal di rumah rumah kecil. Lalu beranjak pulang, sebab ia melihat anaknya sedang bekerja bersama dengan sepuluh temannya. Padahal yang ia lihat adalah patung. Lompo Golo  tergesa gesa mengambil bekal tersebut, ketika ia melihat ibunya sedang pergi. Ia tak sabar menyantap masakan ibunya dengan lauk yang enak. Namun Lompo Golo tidak bisa menyelesaikan pekerjaan tersebut hingga tiba terbenam matahari. sehingga ia terburu buru kembali kerumah, menyampaikan kepada ibunya bahwa sawahnya sudah bersih. Ia lupa membuang patung tersebut.

Suatu hari, sang ibu pergi melihat lihat keadaan padinya. Setibanya, ia masih melihat patung tersebut yang ia anggap teman yang membantu Lompo Golo kemarin. Sang ibu kecewa melihat padinya yang masih dililit oleh rumput. Sejak itu sang ibu kehilangan kesabaran ia memukuli anaknya. dan ingin sekali membuangnya, namun ia takut kepada suaminya.

Suatu hari sang suami istri ini membicarakan anaknya, mengenai perlakuannya. Lalu sang istri berkata, “Ayah! Mengapa anak kita seperti itu, kemarin ia membohongiku,   katanya, ia menyelesaikan pembersihan di sawah bersama dengan sepuluh orang temannya. Namun nyatanya ia  tidak mengerjakannya, melainkan patung patunglah yang ia pasang di setiap sudut sawah.” Mendengar hal itu, sang suami juga bersedih campur marah. Akhirnya mereka sepakat untuk membuang anaknya.

Pada suatu hari, di persiapkanlah bekal yang cukup banyak dengan lauk yang enak enak kesukaan Lompo Golo. Melihat ibunya memasak, Lompo Golo  bertanya kepada ibunya.

“Ada acara apa sehingga ibu memasak makanan yang lezat lezat, apakah kita akan syukuran lagi? Biasanya syukuran selesai panen? Tanya Lompo Golo,”  Lalu ibunya menjawab bahwa ayahnya akan pergi ke hutan mencari kayu bakar bersama Lompo Golo. Hati Lompo Golo  sangat senang mendengar jawaban ibunya. Kemudian ia berangkat membawa panci bersama ayahnya  kehutan belantara.

Akhirnya, sampailah mereka di tengah hutan. Pepohonan di hutan tersebut sangat lebat dan besar besar. Tibalah mereka pada sebuah pohon Tokka yang paling besar. Sang ayah berhenti lalu berkata kepada Lompo Golo.

“Anakkku, kita berhenti disini, inilah pohon Tokka yang ayah cari. yang besar tangkainya, lagi pula ada obat yang melilit di atas tangkai pohon Tokka ini yang ayah cari untuk pengobatan ibumu di rumah. Kita tebang pohon ini, kita akan banyak mendapatkan kayu bakar dan obat. Agar obat itu tidak lepas dari lilitan tangkai kayu ini, ketika pohon Tokka ini akan tumbang, kamu harus menahannya,” jelas sang ayah.

“Iya… ayah, aku siap! Hati hati menebangnya Ayah?” jawab Lompo Golo.

Begituh ketika pohon Tokka itu tumbang, Lompo Golo menahannya dengan tubuhnya yang besar dan kuat. Namun pohon Tokka itu terlalu besar dengan ranting rantingnya yang bermuara, membuat Lompo Golo  tidak kelihatan, sehingga ayahnya beranggapan tubuh Lompo Golo  hancur tertindih oleh pohon Tokka tersebut.

Setelah beberapa saat, ayahnya menunggu dan tidak ada tanda tanda lagi Lompo Golo akan hidup, senanglah hati sang ayah. Walau bercampur sedih kehilangan  anak satu satunya. Lalu ia kembali kerumah. Sesampainya, diceritakanlah kepada istrinya semua peristiwa yang terjadi.

Malam telah menampakkan dirinya. Sang istri ini memasak makanan yang lezat, untuk suaminya yang kecapean dihutan seharian. Begitu makan malam di mulai, suami istri ini sangat terkejut. Tiba tiba Lompo Golo  telah berdiri di depan pintu. Akhirnya, semua makanan yang telah di siapkan untuk ayahnya dimakan oleh Lompo Golo  dengan lahapnya.

Setelah peristiwa itu, Lompo Golo  tidak berubah perangainya. Bahkan kenakalannya semakin menjadi jadi. Oleh kerena itu, membuat kedua orangtuanya semakin sedih. Mereka merencanakan membawa dia ke sungai yang cukup jauh melewati hutan belantara yang pernah ia datangi kemarin, untuk di jadikan mangsa buaya. Seperti biasanya, ibunya memasak nasi dan lauk yang banyak sekali dan lezat.

Mereka harus menempuh perjalanan selama tujuh hari tujuh malam lamanya. Sampailah mereka di tepi sungai yang dituju. Di tepi itu terdapat batu besar yang di tumbuhi bunga bunga indah dan beberapa pohon besar, tempat biasa buaya berkerumung. Ketika itu, sang ayah menyuruh Lompo Golo  untuk mengambil bunga yang tumbuh dia atas batu besar. Lalu Lompo Golo  menyebrangi sungai tersebut untuk mengambil yang di perintahkan oleh ayahnya.

“Currr…currr…currr!” Lompo Golo segera menyebrangi sungai tempat perkumpulan buaya tersebut. Sungai itu di kenal dengan kampung buaya.

Akhirnya datanglah sekolompok buaya menyerang Lompo Golo. Sehingga sang ayah meninggalkannya. Sebab air sungai tersebut penuh dengan darah, ia menganggap bahwa tubuh Lompo Gololah yang telah habis di makan buaya. Dengan tubuh dan kekuatan yang dimiliki Lompo Golo ia berhasil mengalahkan buaya tersebut, lalu ia membawanya kedarat. Malam mulai  tiba. Seperti biasanya, sang ibu memasak, untuk makan malam suaminya. Yang kecapean menempuh perjalanan tujuh hari tujuh malam.

Alangkakah terkejutnya sang suami istri tersebut ketika ia melihat Lompo Golo berdiri di depan pintu membawa seekor buaya. Akhirnya, semua makanan yang telah di siapkan di makan oleh Lompo Golo dengan lahapnya.

Kedua orangtuanya semakin sedih, sebab mereka tidak bisa membunuh anaknya walau berbagai cara mereka gunakan. Sang suami istri ini menyerah atas perlakuan anaknya. sebab, kekuatan yang di miliki Lompo Golo di luar dugaannya. Akhirnya mereka tetap merawatnya dengan baik, mendidik selayaknya.

“Ayah! Mungkin Tuhan tak membiarkan anak kita lenyap dari tangan kita. Sehingga Lompo Golo selalu selamat! Tapi mengapa sikap Lompo Golo serakus itu?” tanya sang istri kepada suaminya.

“Mungkin begitulah anak yang di minta minta! Sebab kita sendirilah pada awalnya yang memanjakannya!” Jawab sang suami.

Beberapa tahun kemudian, Lompo Golo golo menjadi tumbuh besar, kuat dan mulai patuh kepada kedua orangtuanya. Seketika kedua orangtuanya, pergi ke sawah atau keladang. Maka ia pun ikut membantu kedua orangtuanya. Bahkan ia sanggup bekerja di luar kemampuan orangtuanya. Lompo Golo mulai hidup mandiri, ia rajin kesawah atau keladang. Bahkan ia menggarap lahan sendiri.

Di suatu hari, Lompo Golo mulai jatuh cinta pada seorang gadis. Gadis itu tinggal diseblahan rumahnya, sehingga ia sering melihat lewat di depan rumahnya. Ketika ia hendak membawakan bekal ayahnya di sawah. Lompo Golo semakin jatuh cinta, di balik paras yang dimiliki gadis tersebut. Waktu semakin berkurang hilang ditelan bumi, menanti waktu yang akan datang. Pepohonan semakin tumbuh subur, mata air semakin deras mengalir. Awan mulai menghitam, petir mulai berkilau menimbulkan tetesan air hujan, pertanda bahwa waktunya musim tanam. Itulah pertanda simbolis masyrakat Kajang ketika hendak memulai menanam padi.

Suatu hari, seusai penanaman padi. Lompo Golo tak sabar ingin menikahi gadis tersebut, namun ia takut menyampaikan kepada kedua orangtuanya. Lama kelamaan Lompo Golo tak bisa menahan keinginannya untuk menikahi gadis tersebut. Sehingga ia menahan diri untuk menyampaikan keinginannya kepada kedua orangtuanya.

“Ayah dan ibu! Sangat mendukungmu nak, ketika kau ingin menikahi gadis tetangga kita!” jawab sang ayah. Lompo Golo sangat senang mendengar ayah dan ibunya mendukung untuk menikahi gadis impainnya.

“Jangan senang dulu! Kau harus bekerja keras untuk garap lahan. Ketika kau berhasil dan hasil panennya mencukupi. Maka saat itu pun ayah dan ibu melamarkan gadis impianmu. ” jelas sang ayah.

Akhirnya Lompo Golo sangat senang mendengarkan hal itu. Tak henti hentinya ia menggarap sawah. Bahkan biasanya, ia lebih duluan menanami di bandingkan msyarakat tani lainnya. Setiba musim penghujan, Lompo Golo melombai tani lainnya. Ia rajin memeliharanya, setiap waktu ia datang melihat keadaan padinya. Bahkan ia sesekali bermalam di sawahnya. Musim pun telah berlalu, hingga tiba waktunya musim panen. Lompo Golo membuahkan hasil yang sangat memuaskan, hatinya mulai senang melihat keberhasilan panennya. Lalu ia menagih janji ayahnya bahwa ia telah membuahkan hasil yang sangat memuaskan. Ia tak sabar menikahi gadis impiannya.

“Ayah dan ibu tidak mungkin melupakan janji nak!” Tapi kau harus lebih bekerja keras lagi untuk menggarap lahan. Ketika kau berhasil dan hasil panennya sangat mencukupi. Maka ayah dan ibu akan melamarkan gadis impianmu di musim yang akan datang! Jadi, untuk kali ini ayah dan ibu masih tidak sanggub untuk mencoba melamar gadis impianmu, sebab maharnya sangat mahal. Dia bukanlah gadis biasa, ia adalah gadis anak bangsawan!  Sedangkan uang dan hasil panen yang keluarga kita miliki, belum cukup untuk menebus gadis yang Lompo Golo maksud! Kau harus lebih  semangat lagi nak! Jelas sang ayah.

Akhirnya Lompo Golo agak kecewa mendengarkan hal itu. Sebab musim lalu, ia di janjikan oleh kedua orangtuanya untuk menikahi gadis impiannya. Apabila ia mematuhi syarat yang di lontarakan ayahnya. Namun dengan kekuatan dan semangat yang dimilki Lompo Golo, ia tak henti hentinya menggarap sawah. sepert biasanya, ia lebih duluan turun ke sawah menanam di bandingkan masyarakat tani lainnya. Setiba musim penghujan berikutnya, Lompo Golo melombai tani lainnya. Ia rajin memeliharanya, setiap waktu ia datang melihat keadaan padinya. Bahkan ia sesekali bermalam di sawahnya. Musim pun telah berlalu, hingga tiba waktunya musim panen yang kedua kalinya. Lompo Golo membuahkan hasil yang sangat memuaskan lebih dari sebelumnya, hatinya sangat senang melihat kebehasilan penannya. Lalu ia kembali menagih janji ayahnya bahwa ia telah membuahkan hasil yang lebih memuaskan dari musim sebelumnya. Ia tak sabar menikahi gadis impiannya. Namun sang ayah masih belum merestuinya, sebab Lompo Golo belum bisa menjangkau yang di maksudkan ayahnya. Hingga enam musim berturut turut lamanya. Lompo Golo membuahkan hasil panen, namun masih belum juga terpenuhi keinginannya.

Akhirnya Lompo Golo sangat kecewa kepada ayahnya. ia sangat sedih memikirkan gadis impainnya. Tubuhnya yang besar, seolah olah tak punya daya. Semangatnya yang sangat tinggi, seolah olah menjadi daun. Ia patah semangat memikirkan janji janji ayahnya. sawahnya yang begitu luas, bahkan ¼ adalah miliknya di persawahan tersebut. Tak terawat lagi, ia kembali malas. Akibat janji ayahnya yang tak terpenuhi.

Di suatu hari, ia terbaring sakit memikirkan gadis impiannya. Belum ada tanda tanda yang terlihat dari ayahnya, bahwa ia akan menepati janjinya. Lompo Golo semakin sedih memikirkan nasibnya. Di suatu musim, hujan gerimis telah melambai perkampungannya. Lalu sang ayah tiba tiba mengeluarkan ohang dari lemari tuanya. ia berkata kepada anaknya.

“Ayah dan ibu tidak mungkin melupakan janji nak! Ini buktinya (ohang). Tapi kau harus lebih bekerja keras lagi untuk menggarap lahan. Ketika kau berhasil dan  atau pun tidaknya pada musim yang akan datang. Maka ayah dan ibu akan segera melamarkan gadis impianmu di musim yang akan datang! Walau hasil panen belum cukup untuk persiapan pernikahanmu. Ayah dan ibu akan mengusahakannya. Tapi, untuk kali ini ayah dan ibu masih belum sanggub untuk mencoba melamar gadis impianmu, sebab maharnya sangat mahal. Dia bukanlah gadis biasa, ia adalah gadis anak bangsawan!  Bukan persoalan uang atau hasil panen yang keluarga kita miliki. Tapi persoalan waktu, sehingga ayah dan ibu  takut untuk menebus gadis anak bangsawan pada musim seperti ini, yang Lompo Golo maksud! Kau harus lebih  semangat lagi nak!” jelas sang ayah.

Lompo Golo sangat senang mendengarkan hal itu. Tiba tiba ia terbangun dari pembaringannya. Tak henti hentinya ia menggarap sawah. Ia kembali merawat sawahnya yang tidak sempat terpelihara beberapa waktu. Sebab ia jatuh sakit.

Setiba musim penghujan, Lompo Golo melombai tani lainnya. Ia lebih rajin memeliharanya di bandingkan musim sebelumnya, setiap waktu ia datang melihat keadaan padinya. Bahkan ia selalu bermalam di sawahnya. Musim pun telah berlalu, hingga tiba waktunya musim panen. Lompo Golo membuahkan hasil yang sangat memuaskan di bandingkan dengan musim sebelumnya, hatinya mulai senang melihat keberhasilan penannya.

Alangkah terkejut dan kecewanya Lompo Golo. Ketika ia melihat gadis impainnya sedang menggendong bayi. Gadis tersebut menikah satu tahun yang lalu. Akhirnya Lompo Golo, tetap semangat melihat keadaan nasibnya. Sehingga Lompo Golo tak jadi menikah dengan gadis impainnya, melainkan ia menikahi seorang gadis pulau jawa. Akhirnya Lompo Golo membuka lembaran baru dengan keluarga di tanah jawa. Makanya, jangan heran kenapa perampuan konjo (Kajang) ataupun beberapa daerah di selawesi selatan. Seperti bugis dan masih banyak daerah yang menjunjung nilai nilai budaya tomariolo.

Bekerja keraslah  karena, usaha tidak akan pernah menghianati hasil. Tumbuhkan rasa cinta pada kekeluargaan, agar selalu menumbuhkan rasa nyaman yang kokoh dan sejahtra. Cintailah seseorang apa adanya, bukan ada apanya. Karena ketulusan cinta tidak bisa di ukur dari segi materi, melainkan sebuah pengorbanan. Cintailah seseorang sama seperti tuhan, tapi jangan sesekali sembah dan mengtuhankan manusia. Karena (dia) bukan Tuhan.

Penulis : R.U Mallatong’DS

Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik UNIFA           

Related Posts

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: