Kronologis Demonstrasi Berujung Bentrok Di Makassar

Layar handphone sudah menunjukkan jam 10.40 WITA, saya tiba di bawah Fly Over Makassar. Saat itu, terlihat sudah ada beberapa massa dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Makassar, Anti Corruption Committe (ACC) Sulawesi, Solidaritas Perempuan Anging Mammiri (SPAM).

Beberapa menit kemudian, menyusul Sentral Gerakan Buruh Nasional (SGBN), Pergerakan Pelaut Indonesia (PPI), Front Mahasiswa Kerakyatan (FMK) Makassar, Srikandi, Konsorsium Pembaruan Agraria Sulawesi Selatan (Sulsel), dan Walhi Sulsel. Mereka tergabung dalam “Koalisi Masyarakat Sipil Menggugat Keadilan”.

Disaat yang bersamaan, ada ratusan massa aksi dari Poltekes Muhammadiyah Makassar gelar aksi. Bagi saya, ini adalah fenomena yang langkah dan menegaskan bahwa keadaan negeri ini sedang tidak baik-baik saja.

“Ini baru sebahagian, kampus memang diliburkan untuk turun aksi, yang lain masih dalam perjalanan, om!,” ujar salah satu mahasiswa peserta aksi yang saya temui.

Terlihat berbagai pataka-pataka yang dibawah oleh massa aksi Poltekes Muhammadiyah Makassar ini bertuliskan ‘RIP Demokrasi Indonesia’, ‘Hutan Dibakar KPK Dipadamkan’, ‘Menolak Revisi UU KPK’, ‘Tolak RUU Yang Tidak Prorakyat’, Selasa (24/09).

Juga dari pengamatan saya, sudah ada ribuan anggota Polri yang telah disiapkan untuk menangani aksi hari itu. Diantaranya, yakni berada di bawah fly over bagian barat, di halaman kantor DPRD Provinsi Sulsel, dan Gedung Keuangan Makassar.

Mobil Komando (Mokom) Koalisi Masyarakat Sipil Menggugat Keadilan tiba ketika pukul 11.49 WITA, bersama massa dari Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar. Jendral lapangan aksi, Ady Anugrah, menaiki mokom dan mengerahkan massa untuk bergeser ke belakang agar tidak tercampur dengan massa lain.

“Massa aliansi masyarakat sipil menggugat keadilan, ke belakang mokom semua. Jangan berbaur dengan massa dari aliansi lain,” pekik Cappa sapaan akrab jendlap.

Sementara itu, ‎Aliansi Mahasiswa UMI pun tiba dengan ribuan orang mengenakan almamater hijau kampus Universitas Muslim Indonesia (UMI). Jalan Urip Sumoharjo siang itu, menjadi hijau sejauh mata memandang. Mereka melewati jalur atas fly over.

Mokom pun mulai bergerak ke kantor DPRD Provinsi Sulsel, bersama lautan massa aksi yang sudah tergabung. Setelah tiba di depan gerbang masuk gedung DPRD, jendlap mengintruksikan agar menunggu massa aksi dari UMI. Saat itu, kabarnya Federasi Mahasiswa Unhas juga sudah dalam perjalanan, mereka long march dari kampus Universitas Hasanuddin.

“Kita jangan masuk dulu. Kita tunggu kawan-kawan dari UMI dan Unhas merapat,” teriak jendlap di depan gerbang yang tak mau dibuka oleh Polisi.

Dilain sisi, beberapa massa Koalisi Masyarakat Sipil Menggugat Keadilan yang memakai pakaian hitam-hitam sempat cekcok (saling dorong) dengan massa aksi dari Aliansi Mahasiswa Hukum UMI yang sudah ingin masuk secara paksa.

“Jangan dulu kita masuk kawan-kawan. Kita rapikan massa aksi dulu, agar bisa teridentifikasi mana kawan aliansi kita, sembari kita tunggu kawan dari Unhas,” seru jendlap dengan suaranya yang sudah cukup parau karena terus menenangkan massa aksi.

Pada akhirnya, mokom agak mundur sedikit dari gerbang. Jendlap mengintruksikan untuk rapikan massa aksi. Spanduk-spanduk tuntutan dijadikan sebagai pembatas, agar tidak bercampur baur dengan massa dari aliansi lain.

Kemudian, perwakilan dari tiap organisasi yang tergabung dalam aliansi ini bergiliran menyampaikan orasi. Mulai dari KPA Sulsel, menyampaikan orasi terkait penolakan RUU Pertanahan, dan gambaran berbagai konflik agraria yang telah terjadi.

Lalu, perwakilan orator dari ACC Sulawesi, orasinya mengenai keadaan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang sedang dilemahkan dengan Revisi Undang-undang KPK dan pimpinan terpilih yang dinilai bermasalah.

Selain itu, adapula orator dari ‎Walhi Sulsel, diwakili oleh Muhaemin Arsenio. Ia menyampaikan orasi tentang kondisi lingkungan yang genting, sebab telah terjadi pembakaran hutan dan lahan yang tidak ditindak tegas oleh pemerintah.

Saat itu, beberapa massa aksi sudah tidak sabar ingin masuk ke dalam kantor DPRD. Namun, jendlap belum mengomandoi untuk masuk karena massa belum terkonsentrasi dengan baik, dan mahasiswa Unhas belum bergabung, tapi masih dalam perjalanan.

Sekitar pukul ‎13.20 WITA, beberapa massa yang tidak dikenali mulai merangsek masuk ke dalam halaman kantor DPRD Provinsi Sulsel. Pihak Kepolisian menyemprot massa aksi tersebut dengan water canon, terdengar pula suara letusan petasan. Massa mulai menyerang balik dengan batu. ‎Bentrok dengan pihak kepolisian pun tak terhindarkan.

Polisi menembakkan puluhan gas air mata ke massa aksi. Mokom yang tadinya di depan gedung DPRD Provinsi Sulsel terpaksa mundur hingga ke RS.Awal Bros. Massa aksi pun panik dan berlarian. Polisi terus menerus menembakkan gas air mata, mobil water canon menyemprotkan air ke arah massa aksi.

Polisi mengejari peserta aksi hingga ke lorong-lorong. Pengamatan saya, tak sedikit peserta aksi yang mendapat tindakan kekerasan, bahkan wartawan. Untung saja hari itu, saya yang hanya seorang anggota Pers Mahasiswa masih dalam lindungan Allah.

Oknum Polisi terlihat begitu emosional, mahasiswa dipukuli, ditendang, dan mencambok dengan pentungan sampai berdarah-darah di kepala dan lebam.

Memasuki 16.00 WITA, massa aksi yang bertahan kembali ke depan gedung DPRD Provinsi, kembali orator bergantian sampaikan orasi. Hingga 16.30 WITA, massa memaksa masuk karena tak kunjung dibukakan pintu gerbang dan tak satupun perwakilan DPR keluar temui massa aksi.

Setelah gerbang rubuh, baru beberapa langkah hendak masuk ke halaman kantor DPRD, massa kemudian dilempari batu menyusul beberapa kali suara tembakan gas air mata.

Kembali massa aksi berlarian menghidari kejaran dan serangan Polisi. Beberapa mahasiswa melawan. Gas air mata seakan tak ada habisnya mereka tembakkan. Polisi mengejar massa aksi ke lorong-lorong, bahkan masuk masjid dengan mengenakan sepatu laras.

“Kenapa pakai sepatu masuk di masjid. Sepatu ta pak!,” teriak seseorang dalam video yang viral di media sosial.

Polisi juga masuk hingga ke halaman kampus Pascasarjana UMI.

Jarum jam menunjukan ‎17.30 WITA, ada sekitar 60 massa aksi bertelanjang dada dan penuh luka-luka lebam habis dipukul yang ditempatkan di bahu jalan, seberang kantor DPRD Sulsel. Kemudian, dari ‎17.40 sampai 18.10 WITA, Polisi mulai membawa peserta aksi masuk ke dalam. Hari itu, mereka tidak memperbolehkan siapapun masuk ke kantor DPRD, pun Pers.

60 orang demonstran ditahan oleh Polisi, ditempatkan di bahu jalan Urip Sumoharjo, seberang Kantor DPRD Sulsel.

Kabarnya ada total 208 orang yang disekap malam itu, di salah satu ruangan dalam kantor DPRD Sulsel.

Menurut Firmansyah, salah satu advokat yang tergabung dalam Aliansi Bantuan Hukum Anti Kekerasan yang dibentuk untuk mendampingi massa aksi yang ditahan. Tindakan polisi sangatlah tidak manusiawi dan sudah tidak sesuai prosedur kepolisian dalam menangani aksi demonstrasi.

“Apapun alasannya, tindakan mereka (Polisi) jelas tidak manusiawi. Upaya-upaya yang mereka lakukan menangani aksi sangat purba,” tegasnya, saat saya wawancarai.

 

Penulis : Cuncung

Editor: Shim

Related Posts

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.