Kisah Hidup Pele Dalam Layar Lebar

Kisah Hidup Pele Dalam Layar Lebar. / Sumber : www.google.com

Kisah Hidup Pele Dalam Layar Lebar. / Sumber : www.google.com

Makassar, cakrawalaide.com – Sepak bola adalah wabah yang tak bisa dihindari di Brazil. Tahun 1950 adalah tahun kelam persepakbolaan di Brazil. Tahun tersebut, Brazil gagal menjurai kompetisi sepak bola tertinggi di dunia. Kekalahan tersebut membuat masyarakat Brazil yang begitu gila terhadap bola sangat bersedih dan kecewa dengan kekalahan yang dialami tim Nasional Brazil. Kondisi tersebut digambarkan dalam salah satu adegan film PELE, Birth of a Legend.

Film yang disutradarai oleh Jeff Zimbalist dan Michael Zimbalist mulai beredar pada bulan Mei lalu mengisahkan kisah hidup Pele dari sebuah lingkungan kumuh. Dico sapaan kecilnya hidup sebagai anak seorang pembantu rumah tangga dan seorang ayah yang bekerja sebagai teknisi dan tukang bersih bersih pada sebuah rumah sakit.

Dico adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Sebagai seorang kakak, ibunya melarang Dico menjadi seorang pemain bola. Ibunya ingin Dico fokus sekolah saja dan tak bermain bola seperti yang dilakukan ayahnya.

Ayahnya dulunya adalah salah seseorang yang sangat menggilai bola, bahkan ayahnya pernah menjadi pemain profesional yang akhirnya berhenti setelah cedera yang dialaminya. Tapi cedera yang dialami ayahnya tak lantas menghentikan cintanya terhadap sepak bola. Kecintaan dan semangat itulah yang tumbuh pada anak pertamanya Dico. Ayahnyalah yang mendorong dan meyakinkan Dico untuk terus bermain bola. Walaupun ibunya tak mengiInkannya.

Pele adalah ejekan yang dialamatkan pada Dico kecil oleh anak majikan tempat ibunya bekerja. Nama itulah yang kemudian melekat dan kini sangat dikenal dalam sejarah sepak bola.

Masa kecil Pele dia sudah bekerja sebagai tukang semir sepatu. Dia juga memiliki 4 teman yang selalu menemaninya bermain bola bersama. Namun, salah satu temannya harus meninggal dunia karena tertimbun lumpur pada saat bersembunyi dari kejaran pedagang yang ia curi barang dagangannya untuk Membeli sepatu bola.

Peristiwa tersebut membuat Pele kemudian merasa bersalah dan ingin berhenti bermain bola. Namun, sosok ayahnyalah yang terus mendorongnya agar tidak patah semangat dan terus berusaha mewujudkan impiannya.

Dengan bakat sepak bolanya, ia kemudian diajak oleh seorang pencari bakat untuk berlarih dan bermain profesional. Santos adalah klub sepak bola yang menjadi pijakan awalnya untuk menjadi pemain profesioanal. Walaupun pada hari-hari awalnya ia hampir meninggalkan Santos karena merasa tak bisa beradaptasi dan bermain sesuai keinginan pelatihnya. Cara bermainnya dianggap Primitif.

Beruntung, didekat Pele banyak orang yang sangat peduli dan terus memberi semangat agar ia tidak berhenti dalam mewujudkan impiannya.

Dari Santos ia pun masuk dalam skuad tim Nasioanal untuk berlaga pada pada kejuaraan dunia di Swedia. Keberangkatannya ke Swedia terhalang oleh cedera yang dialaminya, sehingga ia tak dimainkan pada perfandingan awal.

Usianya pada waktu itu masih menginjak 17 tahun. Ia adalah pemain paling muda pada skuad Brazil. Walaupun pada awal awal dimainkan ia sempat bermain buruk, tapi setelah itu ia menampilkan pemain terbaiknya dan membius penonton dengan aksi-aksi memukaunya.

Tahun 1958, di usianya yang masih 17 tahun ia berhasil membawa Brazil juara dunia. Dan keberhasilan tersebut yang semakin melambungkan namanya sebagai seorang pesepak bola.

Bagian akhir dari film ini adalah pada saat Brazil telah berhasil menang dan menjadi juara dunia pada tahun 1958. Tahun tersebut menandai kembali bangkitnya sepak bola Brazil, dan salah satu orang yang menjadi sosok dibalik semua itu adalah Pele.

Penulis : Cappa
Red : Hutomo

Related Posts

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: