Kembali Berfilsafat

Penulis : Abdul Kadir Paduai

Perkembangan ilmu pengetahuan yang kita pelajari di sekolah dan perguruan tinggi sekarang semakin maju, dengan ciri khas positivistik. Semakin ilmiah dan semakin pasti. Adakah di antara kita yang pernah mempertanyakan: mengapa bisa seperti itu? Siapa yang telah melakukannya? Bagaimana caranya?

Tahukah Anda, pertanyaan di atas itu adalah ciri pertanyaan filosofis [Big Question]. Mempertanyakan sesuatu yang jawabannya tidak pasti atau kompleks. Inilah yang membedakan ilmiah dan filosofis. Semakin ilmiah suatu pertanyaan maka jawabannya akan kian pasti atau tunggal, sedangkan pertanyaan filosofis berbeda lagi. Sebuah pertanyaan akan semakin bermacam-macam jawabannya jika semakin filosofis.

Namun, adakah yang tahu di antara pembaca bahwa perkembangan ilmu pengetahuan yang kita rasakan sekarang, itu lahir dari filsafat. Jika kita membuka buku filsafat maka akan ditemukan fakta bahwa sekolah yang paling awal ada adalah Akademia. Sekolah ini didirikan oleh Plato, dia adalah seorang filsuf era Yunani Klasik.

Nah, sebalum ilmu pengatahuan berubah menjadi ilmiah, semua pengetahuan pada era itu bercirikan filosofis. Saya ingin kembali  menjelaskan filsafat kepada seluruh permbaca bahwa sejarah telah memperjelas dari mana ilmu pengetahuan yang posistivistik itu lahir. Tentu dari filsafat yang ciri khasnya kompleks.

Ketika berbicara filsafat, saya teringat organisasi yang mempelajari filsafat dalam proses perekrutannya. Saya ingin menjelaskan satu materi yang ada dalam kegiatan tersebut. Sebab kita tidak boleh melupakan sejarah. Ilmu pengetahuan sekarang memiliki sejarahnya yaitu filsafat. Namun saya tidak ingin menjelaskan sejarah filsafat, melainkan tentang cara berfilsafat.

Jumat (24/01/2020) lalu, saya mengikuti kegiatan dari Lembaga Intelektual dan Risalah (LENTERA), yaitu Enlightenment Series ke-14, berlangsung di Kec. Tinggimoncong, Kab. Gowa. Kagiatan ini, diisi dengan delapan materi, salah satunya Pengantar ke Arah Pemikiran  Filsafat. Materi tersebut, merupakan asupan pertama dan dasar untuk dipahami oleh peserta kegiatan Enlightenment Series ke-14.

Karena saya ingin menjelaskan tentang filsafat, maka saya akan berusaha menjelaskan Materi Pengantar ke Arah Pemikiran Filsafat pada kesempatan ini, karena materi dasar ini sangat penting untuk didahulukan sebelum kita mulai berfilsafat.

Corak Berpikir Filsafat

Sebelum masuk ke isi materi, kita tentu perlu mengetahui apa itu filsafat terlebih dahulu. Filsafat secara etimologi adalah berasal dari dua kata, yaitu  philos dan sophia atau cinta dan kebijaksanaan. Secara istilah adalah suatu ilmu yang mencari jawaban dari suatu pertanyaan besar [Big Question], secara radikal, rasional, sistematis, dan komprehensif.

Secara radikal maksudnya adalah metode berpikir yang mempertanyakan sesuatu hingga ke akar persoalannya. Cara berpikir ini dimulai dengan pertanyaan : Kenapa? Apa? Di mana? Siapa? Kapan? Bagaimana? Kemudian dikali [X] sepuluh atau sepuluh kali mempertanyakannya.

Contoh : Siapa saya? Kenapa saya ada? Kapan saya dapat dikatakan ada? Bagaimana cara saya ada? Di mana waktu yang tepat untuk mengatakan bahwa saya ada?

Setalah mempertanyakan sesuatu secara radikal, maka diperlukan suatu argumen yang rasional dalam menjawab ataupun menyusun pernyataan filosofis. Namun, rasional di era sekarang kadang dimaknai dengan masuk di akal. Namun dalam kajian filsafat, rasional adalah cara berpikir yang menggunakan ciri silogisme atau deduktif [dari umum ke khusus]. Suatu argumen baru dikatakan benar, ketika premis-premisnya bersesuaian dengan konklusinya.

Contoh :

Manusia itu fana

(Premis Mayor)

Sokrates itu Manusia

(Premis Minor)

Maka Sokrates adalah Fana

(Konklusi)

Selain argumen yang rasional, filsafat perlu disusun secara sistematis. Sistematis di sini, adalah ciri berpikir, dimana suatu objek pembahasan diuraikan kemudian dirumuskan kembali secara rasional dengan penjelasan rangkaian sebab akibatnya.

Ciri terakhir filsafat adalah komprehensif. Corak berpikir ini maksudnya, yakni suatu kajian filsafat perlu dirumuskan hingga sampai kepada seluruh kemungkinan akhirnya atau jawaban atas segala persoalan yang mungkin hadir, dari jawaban itu.

Objek Kajian Filsafat

Objek artinya hal yang menjadi perhatian dalam suatu pembahasan, sedangkan kajian berasal dari kata kaji, yang artinya pembelajaran atau penyelidikan. Maka dapat dikatakan objek kajian filsafat adalah suatu hal yang menjadi perhatian dalam pembahasan filsafat, dipelajari, dan diselidiki secara radikal, rasional, sistematis, dan komperhensif.

Objek kajian filsafat, ada yang mengatakan segala seuatau merupakan objek kajian filsafat. Ada pula yang mengatakan, segala realitas secara umum atau realitas yang ada dalam konsep, maupun di luar konsep. Filsafat adalah ilmu yang objek bahasannya sangat luas. Bisa dikatakan segala sesuatu memiliki filsafatnya [filosofi].

Empat Pintu Belajar Filsafat

Ada empat pintu untuk mempelajari filsafat, yaitu sejarah, batang tubuh filsafat, tokoh dan aliran, serta sistematika dan tematik.

Jika mempelajari filsafat dari sejarah, kita tidak hanya menjelaskan bagaimana kehidupan seorang filsuf. Namun, lebih dalam lagi, mempelajari sosial historis di zaman seorang filsuf itu hidup, hingga mampu ditarik relasi antara dia dan zamannya atau mengapa hasil pemikirannya lahir.

Batang tubuh filsafat artinya mempelajari filsafat mulai dari definisi, isi filsafat, hingga konsep-konsep yang ada dalam filsafat sendiri.

Toko dan aliran filsafat dalam pendekatakan ini, mempelajari biografi seorang filsuf dan mengklasifikaskan aliran filsafatnya, dan barulah mendalami ciri, juga cara berfilsafatnya secara menyeluruh.

Lalu yang terakhir adalah, sistematika dan tematik. Maksudnya adalah mempelajari filsafat dengan memulainya dari penguraian dan perumusan filsafat. Mulai dengan menguraikan filsafat menjadi tiga : ontologi, epistimologi, dan aksiologi kemudian merumuskan aliran-aliran yang ada dengan mememperhatikan uraian-uraian terhadap filsafat.

Hubungan Filsafat dan Sains

Hubangannya bisa dilihat dari ciri bepikirnya. Ciri berpikir di sini dibagi menjadi dua, yaitu analitis dan sintetis. Filsafat sebenarnya menggunakan kedua ciri berpikir ini, tapi karena setiap pertanyaan filsafat bercorak Big Question, maka berpikir sintesis (Penyataan filosofis, diuji dengan pernyataan filosofis yang berbeda, dan kemudian dicari jawaban filosofis dari kontradiksinya) umum digunakan dalam filsafat. Sedangkan sains umumnya menggunakan corak pemikiran yang analitis (Membagi-bagi suatu teori menjadi sub-sub), tanpa harus menelaah kontradiksinya dari teori yang berlawanan dengan tesisnya.

Hubungan berikutnya adalah ciri jawaban, semakin ilmiah suatu pertanyaan maka jawabannya akan semakin pasti, ini disebabkan karena pertanyaannya sudah terkhususkan menjadi cabang ilmu yang pasti [matematika, fisika, dan kimia] atau sering dikatakan positivistik.

Sains (Ilmiah) dalam menjawab sebuah pertanyan dan mempertanyakan sesuatu, itu dapat perhatikan cirinya (1). Khusus terhadap satu cabang ilmu dan jawabannya pasti.

Sebagai contoh : 1+1 = 2. Jika jawabanya bukan dua, maka itu salah dan akan meruntuhkan segala pengetahuan tentang matematika yang telah terbangun.

Sedangkan Filosofis, dengan corak kompleksitas dimana bentuk pemahaman yang jawabanya lebih dari satu atau banyak. Cirinya (1). Big Question dan Jawaban lebih dari satu asalkan dia Rasional. Contohnya : Kenapa kemiskinan terjadi di Indonesia? (Big Question). Jawabanya bisa jadi : (1). Orang itu malas bekerja [Rasionalisasi: Jika tidak berkerja maka akan miskin, orang tidak bekerja karena malas, maka orang malas pasti miskin]; (2). Negara salah dalam mengelolah sumber daya manusia [Rasionalisasi: Negara harus mengelolah sumber daya manusia dengan benar agar tidak ada kemiskinan, Negara salah mengelolah sumber daya manusia, maka negara menghasilkan kemiskinan]; (3). Tidak meratanya ekonomi, keuntungan ekonomi dikuasai oleh golongan kaya dan orang miskin hanya terus dimanfaatkan untuk menghasilkan keuntungan itu.
[Rasionalisasi: Keuntungan ekonomi hanya dimiliki orang kaya, orang tidak mendapat keuntungan, maka orang kayak semakin kaya dan orang miskin semakin miskin].

Sebagai kesimpulan dari penulis bahwa mempertanyakan sesuatu yang besar dan filosofis hampir tidak memiliki nilai praktis. Namun, lain hal dengan nilai gunanya. Senantiasa mempertanyakan sesuatu, meragukan sesuatu, menelaah secara rasional dan sungguh-sungguh, sedikit banyak akan mengantar seseorang kepada sebuah akar masalah yang bisa memberikan kita jawaban akan masalah tersebut.

Segala sesuatu memiliki filosofinya, tetapi tidak semua harus difilsafatkan. Di era ilmiah sekarang ini, seakan semuanya bisa dijawab dengan ilmiah saja. Namun, tidaklah demikian, masih banyak pertanyaan yang sebenarnya bernuansa filosofis dalam kehidupan sehari-hari kita. Pertanyaan besar tentang mengapa kemiskinan bisa terjadi? Mengapa pendidikan tidak menghasilkan manusia yang betul-betul cerdas? [atau lebih ekstrem] Mengapa Tuhan mencitpakan keadaan di mana kemiskinan terjadi, perang terjadi, pembuhunan terjadi, kebohongan terjadi? Semua pertanyaan itu cuma bisa dipertanyakan dalam ranah filosofis.

Selamat berfilsafat!

Editor : Chung

Related Posts

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: