Kampus dengan Nada Islam yang Sumbang

Ilustrasi kampus dengan nada Islam yang sumbang. / Sumber : google

Makassar, Cakrawalaide.com- Kampus berasal dari bahasa latin “campus” yang berarti, lapangan luas atau tegal. Sedangkan dalam pengertian moderen, kampus berarti sebuah kompleks atau daerah tertutup yang merupakan kumpulan gedung-gedung universitas atau perguruan tinggi. Gambaran sederhananya kampus merupakan lembaga pendidikan dengan struktur bangunan yang besar dan luas dengan kapasitasnya yang mampu menampung sangat banyak penerus bangsa yang sedang bergelut menuntut ilmu didalamnya.

Sedangkan Islam merupakan agama yang paling sempurnah dengan nilai-nilai ajarannya yang dapat kita rasional kan. Islam hadir sebagai pedoman yang kokoh bagi pengikutnya tapi tak satupun ajarannya bernuansa memenjarakan pikiran tiap individu. Tapi justru sebaliknya, Islam hadir dengan berjuta-juta Rahmat bagi siapa saja yang Allah SWT kehendaki. Islam bukanlah agama yang hadir untuk memenjarakan pengikutnya tapi sebagai Rahmat yang salah satunya mampu mengangkat derajat atau memberikan hak yang memang dimiliki oleh tiap individu.

                                                   “اُطْلُبُواالعِلْمَمِنَالمَهْدِإِلىاللَّحْدِ”

Artinya : “tuntutlah ilmu sejak dari buaian hingga liang lahat.”

Mungkin kalimat diatas sudah tak asing lagi ditelinga kita, meskipun kalimat tersebut kebenarannya masih di perdebatkan antara hadits ataukah hanya berupa kata-kata hikmah. Tapi kita tak perlu menjurus lebih jauh ke persoalan perdebatan itu, kita juga perlu bandingkan isi atau makna yang disampaikan kalimat tersebut. Tak ada salahnya juga kita merealisasikan pesan yang disampaikan dari kalimat diatas selama itu merupakan hal yang baik maka kerjakanlah. Bukankah Islam adalah agama yang sangat menjunjung ilmu pengetahuan, “tidak ada agama bagi orang yang tidak berakal.”

Tapi pada kenyataannya fakta yang kita dapat di lapangan justru sangat berbeda dengan apa yang Islam sendiri inginkan. Seperti halnya yang saya rasakan dan semoga kawan-kawan pembaca tak merasakan hal yang sama dengan saya.

Penulis  adalah mahasiswa disalah satu perguruan tinggi di Makassar, fakultas Agama Islam, jurusan Pendidikan Agama Islam, memasuki semester 4 (empat). Penulis  ingin memberikan sedikit gambaran tentang pendidikan yang saya dapatkan yang ngaku-ngakunya berlabelkan islami, katanya. “Kalian ini mahasiswa fakultas Agama Islam , kalian harus menjadi contoh bagi mahasiswa dari fakultas lain.” Itulah kalimat yang selalu terngiang di telingaku, suara yang keluar dari mulut mereka di tengah-tengah kebisuan setelah perdebatan panas di dalam ruangan kelas yang pengap.

Dua tahun berlalu, waktu yang sangat singkat bagiku tapi sudah banyak kejadian aneh kualami yang seringkali di benturkan dengan Islam. Misalnya saja persoalan kecil yang seringkali dibesar-besarkan tentang rambut. Tak terhitung lagi sudah berapa kali saya ditegur oleh dosen dan orang fakultas mengenai rambut. Dari sekian banyaknya teguran yang saya dapatkan, hampir semuanya berujung ke Islam. Timbul pertanyaan sederhana yang mereka tak mampu menjawabnya ketika ku lontarkan pertanyaan? Apakah Islam melarang pengikutnya untuk gondrong ? Banyak juga kok ustad di TV yang rambutnya gondrong, dan bukankah rambut Rasulullah SAW hingga ke bahunya?.

Baru-baru ini, menjelang hari pertama final semester 3 (tiga). Saya hampir tidak mengikuti final hanya karena persoalan rambut. Saya diusir dari ruangan Final oleh pengawas dan disuruh menghadap ke fakultas untuk minta kompensasi dari panitia pelaksana final. Didalam ruangan fakultas saya dikritik habis-habisan setiap kali saya berhadapan dengan mereka yang menangani pelanggaran saya. Hampir semua pertanyaannya sama, “kenapa rambutmu masih panjang, kamu tidak baca aturan yang tertempel di pintu ruanganmu? Sayapun berusaha mengelak dan berkata, aturan yang mana? Apakah saya harus mematuhi aturan yang Anda buat? Dalam perumusan aturan bapak dan ibu sama sekali tidak melibatkan mahasiswa, “apakah kami harus terima begitu saja aturan itu, sedangkan dalam musyawarah perumusannya kami tidak dilibatkan.” Hingga terdengar nada yang begitu keras di telingaku yang mungkin takkan bisa kulupa, “buat apa kamu dilibatkan dalam pembuatan aturan? Sontak ku terdiam akibat dari nada keras yang terngiang-ngiang di telingaku. Hal yang tak ku sangka, pernyataan yang tak sepantasnya keluar dari mulut orang yang sudah gelar pendidikannya sangat tinggi.

Walaupun berlalu dan jawaban yang ku nanti dari pertanyaanku yang masih belum kudapatkan. Hingga tiba final hari ketiga yang mengawas di ruangan ku adalah dosen yang pernah mengajariku tentang psikologi. Sempat di permasalahkan tentang rambutku, hingga ku lemparkan pertanyaan, “apakah ada hubungannya rambut dengan proses belajar mengajar? Berharap saya bisa mendapatkan jawaban yang memuaskan. Suasana ruangan final sesaat terasa bisu akibat dari ulahku yang banyak tanya, namun jawaban yang kudapat hanyalah, “kerjakan saja cepat lembaran soal finalmu, sekarang bukan saatnya untuk membicarakan hal itu.” Ungkapnya. Dengan semangat yang meredah dengan kepala tertunduk sayapun kembali terfokus pada lembaran soal jawaban finalku.

Masih banyak hal yang melenceng dengan jati diri pendidikan di Indonesia kini. Belum lagi peraturan kampus yang lainnya soal fashion. Misalnya saja soal pakaian yang rapi dan harus memakai sepatu, tapi tak usahlah terlalu panjang membahas soal itu, karena jawaban tentang aturan rambut pun hingga kini belum kutemukan jawaban pastinya yang bisa kita rasionalkan.

Realitas yang sangat buruk yang dapat kita temui di rana kampus, sarang para intelek bangsa. Dimana pendidikan di Indonesia kini terlalu melotot ke persoalan fashion atau penampilan luarnya saja dan mengabaikan tujuan mutlak dari didirikannya lembaga pendidikan yaitu untuk melahirkan para kaum inteleg demi memajukan Negara Indonesia. Para penerus bangsa yang sedang bergelut didalam kampus tak henti-hentinya merasakan pembungkaman dari realisasi aturan yang dibuat oleh pihak birokrasi yang tak pernah melibatkan mahasiswa.

Hal yang sangat lazim tak semestinya terjadi didalam kampus apalagi yang berlabelkan islami. Adanya sifat individualisme yang dilakukan oleh pihak birokrasi kampus yang menganggap dirinya adalah subyek dan menganggap mahasiswa adalah obyek dari pendidikan. Sehingga mahasiswa hanya diperbolehkan menerima apa saja yang diberlakukan oleh pihak birokrasi kampus tanpa perlu mengkritisinya. Bahkan tak jarang SK skorsing hingga SK Drop Out (DO) dikeluarkan oleh Rektorat jika ada mahasiswa yang berani mengkritik birokrasi.

Kembali dengan kalimat yang sering didengung-dengungkan oleh dosen saya  “Kalian ini mahasiswa fakultas Agama Islam , kalian harus menjadi contoh bagi mahasiswa dari fakultas lain,” Ini adalah sebuah pilihan bukanlah proses doktrinan dari senior yang harus kita terima begitu saja tanpa perlu kita kritisi. Saya rasa pun kalimat itu bisa keluar dari mulutnya itu buah dari akal yang dimilikinya. Demikian pula dengan saya yang juga memiliki akal, dan buah dari akal saya memilih untuk tetap pada pendirian saya dengan islam sebagai perlawanan ku. Sebab, sebagaimana Islam hadir dimuka bumi ini sebagai pedoman sekaligus dengan gagah berani melawan segala bentuk penindasan dan memerangi kebodohan sekaligus memanusiakan manusia.

Jadilah contoh yang baik, “bangkit melawan segala bentuk penindasan” bukankah itu satu contoh yang baik. Jangan pernah mendiamkan kesalahan karena itu merupakan kejahatan. jangan menjadi contoh mahasiswa yang pasrah Dengan segala bentuk penindasan yang dialaminya karena tanpa perlawanan penindasan itu akan abadi. Dengan tulisan ini tak ada sedikitpun niat untuk menghasut semua kawan pembaca. Pilihan ada di tangan Anda, terserah anda mau memilih menjadi contoh yang mana tapi ingat masa depan bangsa ada ditangan kita.

Terkhusus buat mereka yang sering melantunkan nada-nada Islam untuk membungkam dan perlahan secara halus merampas hak mahasiswa. Berhenti lah menjadikan islam sebagai alat untuk menindas, karena sesungguhnya hal subtansi dari pendidikan islami tak seperti dengan apa yang sering kalian komandankan untuk membodohi kami.

Penulis : Parle

Red: Anjas

Related Posts

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: