Kami Belum Patah Arang

Oleh : Cuncung

Wahai orang-orang berseragam dalam barikade tertib keamanan
Apa yang kalian takutkan?
Dari kami yang penuh senyuman, warna beragam, dan siap merangkul mereka yang mungkin tuan hinakan
Tuk jadi satu dalam barisan melawan tiran

Apa yang tuan risaukan?
Ketika kami turun ke jalan
Tanpa balok, tanpa parang, tanpa senapan
Hanya ada kepalan-kepalan tangan yang terselip setangkai bunga sebagai simbol perdamaian
Berbagai pataka dan spanduk-spanduk berisi pesan kebenaran

Wahai orang-orang yang nampak geram terlihat sesekali kau menggigit bibirmu, begitu erat menggenggam sebuah tongkat pemukul
Kami datang, hanya atas dasar gusar akan ulah mereka yang tukang ngibul

Tidakkah tuan-tuan sadari keadaan yang timpang di negeri pertiwi?

Hutan-hutan dibakar oleh korporasi
malah KPK yang dibikin mati
Demi investor berbagai regulasi dihadirkan
sumber penghidupan petani dan nelayan rawan dihilangkan
RKUHP era kolonial mau diganti
alih-alih memberi solusi
justru rentan over kriminalisasi
Diharapkan memberi perlindungan
malah pemidanaan massal yang bakal dihadiahkan
UU Ketenagakerjaan mau direvisi
Bukannya menjamin kehidupan buruh hingga esok nanti
malah gawat pemecatan sesuka hati

Aku bertanya sekali lagi
Apakah tuan-tuan memang sudah diindoktrinasi?
Sehingga tak ada lagi
rasa kemanusiaan
merasa nyaman akan semua ini
dan akan ikut diuntungkan?

Tempo hari, seekor burung bertengger di pepohonan depan gedung angkuh
Tempat berlindung orang-orang congkak yang katanya sebagai representasi dari rakyat
Matanya yang tajam menyaksikan dengan terang
seolah peristiwa Haymarket Martyrs di Chicago terulang

Saat itu, kawan-kawanku yang ingin menyampaikan aspirasi malah kalian halang-halangi
dihujani dengan water cannon
ditembaki gas air mata kedaluwarsa

Sore hari, suasana makin mencekam
Mata perih tak terhindarkan
Terdengar jeritan menyebut nama Tuhan dalam kepanikan di jalan-jalan
Tiang-tiang listrik dibunyikan, disusul teriakan
Pertanda semua harus siaga
lalu batu-batu mulai dilemparkan dengan sekuat tenaga
akan tetapi, kalian terus menggempuri seakan peluru gas air mata tak ada habisnya

Mereka yang berlarian terpencar
terus menerus kalian kejar
Bahkan hingga masjid tempat suci dimasuki tanpa buka sepatu laras Polri

Ratusan anak-anak muda yang peduli dengan nasib negeri
Kalian pukuli, diinjaki, dan ditendangi dengan penuh emosi
ditahan bagai pencuri
Dengan bertelanjang dada
terlihat darah mengucur dari kepala
dan sekujur tubuh mereka dipenuhi luka-luka

Hari itu jalanan niscaya menjadi medan pertempuran
Namun belum temukan pemenang

Untukmu tuan : Kami belum patah arang!

Related Posts

Leave A Comment