Islam Rahmatan Lil’alamin dan Era Dakwah 4.0

Penulis : Andi Muhammad Muslim

Sudah 14 abad lamanya kanjeng nabi Muhammad SAW meninggalkan kita. Dalam ayat “Wamaa arsalnaaka illaa rahmatan lil ‘aalamiin” disebutkan bahwa beliau diutus untuk menjadi “Rahmatan lil ‘aalamiin”, artinya rahmat bagi seluruh alam. Menurut Prof. Quraish Shihab, terjemahan tentang ayat di atas belum sempurna.

Prof. Quraish berpendapat “Ayat ini tidak berkata Muhammad membawa rahmat untuk alam, tetapi ayat ini mengatakan kami tidak mengutus mu kecuali rahmat untuk alam”. Jadi bagi Prof. Quraish, Rasulullah adalah rahmat yang Tuhan hadiahkan untuk seluruh alam, begitu pun dengan ajaran yang beliau bawa yang juga merupakan rahmat bagi seluruh alam semesta, baik dia muslim maupun non muslim, baik itu binatang yang ada di laut maupun yang ada di darat, tumbuhan maupun benda mati.

Kata “rahmat” itu sendiri memiliki banyak arti dalam Al-Quran ataupun menurut ulama, tapi dalam pengertian umum, rahmat digunakan dalam pengertian kasih sayang, kelembutan ataupun rasa kasihan, yang bersumber dari Allah dan bisa juga bersumber dari manusia. Menurut Imam Al-Mawardhi dalam tafsir An-Nukat wal ‘Uyun Tafsirul Mawardhi (Lihat, Nur Khalik Ridwan, Sejarah Lengkap Wahabi, hal 5) memberikan arti kata “rahmat” dengan dua makna, yaitu hidayah untuk taat kepada Allah SWT dan rahmat berupa segala sesuatu yang diangkat dari jenis ‘adzabul ishti’shal, atau rahmat diangkatnya penimpaan azab Allah SWT secara langsung ketika masih di dunia.

Rasulullah SAW sebagai rahmatan lil ‘aalamiin, memulai dakwahnya di Mekkah secara sembunyi-sembunyi selama kurang lebih 4 tahun. Pada periode awal beliau menyerukan dakwahnya kepada orang-orang terdekatnya seperti istri beliau, keluarga, dan sahabat-sahabatnya. Turunnya surah Al-Hijr ayat 94 adalah perintah untuk melaksanakan atau menyerukan dakwahnya secara terang- terangan kepada penduduk Mekkah, kemudian hingga ke Madinah dan daerah-daerah di jazirah Arab.

Perlu kita ketahui, nabi Muhammad SAW, menyampaikan dakwahnya dengan menggunakan kelembutan sebagai metode untuk merangkul orang-orang yang beliau dakwahi. Orang-orang yang membenci islam atau bahkan ingin menghancurkan Islam, beropini bahwa Rasul menyampaikan dakwahnya untuk menyebarkan Islam menggunakan praktik-praktik kekerasan atau jalur peperangan. Pendapat seperti ini dibantah secara tegas dalam Al-Qur’an, bagaimana Allah SWT, menjelaskan metode dakwah bil hikmah.

Allah Swt. berfirman, “Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. An-Nahl : 125)

Dewasa ini, perkembangan dakwah di Indonesia sudah merambah ke berbagai media dan metodenya pun sudah berbeda dengan metode yang klasik.  Seperti metode dari mulut ke mulut yang dilakukan oleh para pedagang Arab, maupun para ulama saat masa awal penyebaran Islam di Nusantara. Awalnya, para ulama yang menyebarkan ajaran Islam di Nusantara juga menggunakan metode yang Rasulullah SAW gunakan, yaitu “dakwah bil hikmah” yang menyerukan Islam dengan kedamaian, cinta kasih, serta tak menggunakan praktik kekerasan atau ujaran kebencian.

Perlu kita ketahui bahwa saat ini kita tengah memasuki era dakwah 4.0 yang ditandai dengan munculnya banyak da’i yang menggunakan teknologi digital sebagai media dakwahnya. Saya pernah membaca di alif.id mengenai penjelasan era dakwah 4.0, dikatakan bahwa “Siapa pun yang punya keberanian meski tanpa literasi agama, asalkan menguasai aspek teknologi digital, komunikatif, dan didukung marketing yang handal, bisa menjadi da’i.” Jadi, apakah ini yang menjadi problem dari diskursus kita kali ini?

Perkembangan teknologi digital sedikit banyak memberikan manfaat untuk kita yang hidup di abad 21 ini, tapi tak menutup kemungkinan juga banyak kemudharatan yang ia berikan. Salah satu manfaatnya, ialah kita dapat dengan mudah mengakses berita, ceramah ataupun informasi lainnya. Nah, salah satu mudharatnya adalah karena banyaknya informasi yang tersebar di berbagai media sosial, tak menutup kemungkinan banyak pula informasi yang keliru, hoaks ataupun fitnah yang beredar. Sejalan dengan diskursus kita kali ini, ternyata banyak pendakwah di era dakwah digital ini yang tidak menggunakan teknologi digital sebagai media dakwah dengan baik. Banyak isi ceramah yang diupload ke channel You Tube, atau pun tulisan yang dimuat di berbagai website dakwah yang mengandung ujaran kebencian, hoaks bahkan ada pula yang menggunakan praktik-praktik takfiri (Mudah memvonis orang lain kafir) dan tabdi’ (Membid’ah-bid’ahkan).

Melihat fenomena dakwah yang isinya mengkafir-kafirkan, membid’ah-bid’ahkan, ataupun ujaran kebencian sampai praktik kekerasan yang merugikan orang lain, jangan terlalu serius apalagi sampai tersulut emosi. Tradisi seperti itu sebenarnya sudah terjadi di era awal perkembangan Islam, tepatnya masa khulafaur rasyidin dan diwakili dalam hal ini adalah kelompok khawarij. Kelompok ini sangat berperan penting dalam menjerumuskan umat Islam pada perang saudara antar sesamanya, mereka juga beranggapan bahwa orang-orang yang tak sepaham, sependapat ataupun semadzhab adalah halal darahnya, tidak hanya itu saja, mereka juga keluar dan melakukan pemberontakan kepada pemimpin yang diangkat secara sah oleh kaum muslimin dengan menggunakan senjata, ujaran kebencian, fitnah serta praktik kekerasan lainnya.

Tujuan utama dakwah, ialah menyebarkan ajaran Islam rahmatan lil ‘aalamiin. Untuk mengemban amanah dakwah tidak mesti berlatar belakang seorang santri yang memiliki pengeahuan agama yang mumpuni ataupun hafidz, walaupun baiknya sih demikian, tapi tak menutup kemungkinan juga orang yang tidak pernah mencicipi dunia pesantren bisa mengemban amanah dakwah tersebut, asalkan punya referensi pengetahuan yang kuat dan sanad keilmuan yang bersambung kepada guru atau kiyai.

Jika melihat kondisi dakwah hari ini, banyak penceramah yang bermunculan, sebut saja Ustadz Sugik Nur, Gus Nur sapaan akrabnya, ia pernah mengakui bahwa dirinya merupakan mantan preman yang mendapatkan hidayah untuk berdakwah. Dilihat dari isi ceramah beliau, tak sedikit dari konten ceramah yang ia bawakan mengandung ujaran kebencian dan baru-baru ini ia menyampaikan ceramah yang sebenarnya agak menggelitik orang yang mendengarkannya.

Gus Nur menyampaikan dalam ceramahnya yang sudah beredar luas di media sosial mengenai definisi ulama, dikatakan bahwa ulama menurut Allah, bisa ular, ayam, kambing, gunung ataupun manusia asalkan mereka takut kepada Allah. Gus Nur menyatakan pendapatnya berdasarkan tafsirannya terhadap surah Al-Fatir ayat 28.

Pernyataan tersebut ditanggapi oleh Muhammad Syakur Dewa atau biasa dipanggil Gus Dewa, menurutnya bahwa pendapat ini adalah kekeliruan yang fatal, karena hanya mengandalkan terjemahan yang tekstual (cek di channel youtube “Gus Dewa Menjawab”). Inilah yang terjadi di era dakwah 4.0 ini. Siapa pun yang punya keberanian meski tanpa literasi agama, asalkan menguasai aspek teknologi digital, komunikatif dan didukung marketing yang handal, bisa menjadi da’i.

Sangat disayangkan jika para da’i yang diberikan kelebihan dalam menjalankan teknologi digital tidak memanfaatkannya dengan cara yang baik, berdakwah dengan dakwah bil hikmah atau menyampaikan dengan arif lagi bijaksana. Dakwah dengan santun, tapi tegas. Sudah banyak contoh kebaikan yang Rasulullah SAW lakukan dalam berdakwah, mengapa harus memilih metode kekerasan ataupun ujaran kebencian?

Sudah sangat jelas bahwa dakwah dengan mencaci-maki bukanlah dakwah islam yang rahmatan lil ‘aalamiin, karena seperti yang kita ketahui bahwa dakwah yang baik sebagaimana dicontohkan nabi Muhammad SAW adalah dakwah yang disampaikan dengan rasa penuh kasih sayang untuk senantiasa menjaga ukhuwah islamiyyah, ukhuwah insaniyyah, dan ukhuwah wathoniyah. Sehingga orang-orang yang mendengarkan baik ia non muslim terlebih muslim itu sendiri akan merasa aman dengan kehadiran Islam sebagai agama kita.

Islam ramah, itulah yang kita butuhkan di era dakwah 4.0 ini agar kehidupan yang dicita- citakan, yaitu hidup dalam kedamaian akan terwujud. Islam marah, yang banyak disampaikan oleh da’i di era ini sangatlah jauh dari nilai-nilai yang tercermin dalam ajaran Islam itu sendiri.

Wallahu A’lam Bisshowab.

Editor : Nanda

*Penulis adalah santri di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia dan merupakan mahasiswa FH UMI.

Related Posts

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: