Isi Hati Seorang Anak Broken Home

Ilustrasi Isi Hati Seorang Anak Broken Home. /Sumber : Google

Makassar, Cakrawalaide.com – Siang itu angin berhembus begitu sangat sejuk seperti hawa dingin  saat kita sedang duduk di bawah pepohonan pinus, lalu berhembus  memasuki pintu, dan kaca jendela yang terbuka disegalah sisi ruangan. Mungkin karena banyaknya pepohonan di sekitar rumahku. Saat itu aku sedang duduk termenung di depan meja kerjaku dengan sebuah laptop yang sedang menyala di hadapanku.

Waktu itu aku sedang memikirkan sesuatu hal. Mungkin saat ini hidupku sedang dilandah sebuah masalah yang sangat begitu rumit, dulunya aku adalah seorang pengacara dan dosen, yang memiliki titel sarjana hukum dari lulusan terbaik di Universitas, dan ternama di Jakarta, tapi sekarang hidupku tidak ada apa-apanya lagi, semenjak orang yang selama ini yang aku percaya ternyata  musuh dalam selimut, dan telah berhasil menghancurkan semua karir dan kesuksesanku.

Tapi aku bersyukur aku masih bisa bangkit dari semua permasalahan ini, aku berusaha untuk bisa memulai itu semua dari nol. Beberapa jam aku termenung di depan meja kerjaku, tiba-tiba suara bell berbunyi dari luar pintu rumah, lamunanku terhenti oleh suara bell itu, aku kemudian berjalan menuju pintu rumah, lalu aku buka pintu itu.

Ternyata di balik pintu itu adalah Ayla sepupu aku. “oh kamu, aku pikir siapa” kataku. “iya” jawabnya dan melangkah masuk ke dalam rumah. “Ada apa kamu datang kemari ?” tanyaku kepadanya. “enggak kok aku cuman ingin menawarkan sesuatu kepadamu” jawabnya sambil matanya melihat-lihat kebeberapa sisi ruangan. “Maksud ucapanmu apa ?” dengan wajah bingung. “ engak, ngak ada maksud apa-apa kok, tunggu sebentar aku pengen nanya deh, emang kamu betah tinggal disini ?” seketika aku menjadi sedikit emosi dengan pertanyaannya. “iya emangnya kenapa sih, kamu datang kesini dengan maksud apa? Pengen menghina-hina aku gitu?”.

Dia menarik tanganku dan menyuruku duduk di kursi “wettssss…. bukan seperti itu Riani, maksud aku itu, ingin membantu kamu. Tapi itu pun kalau kamu mau”. Aku jadi lebih penasaran apa yang ayla ingin katakan kepadaku. “aku punya seorang teman, papanya adalah salah satu direktur di sebuah sekolah swasta  menengah keatas, aku sudah menceritakan tentang masalah yang sedang kamu alami, dan ternyata dia berniat ingin menolongmu. Itulah alasan kenapa aku datang kemari”. Seketika aku berfikir mungkin tuhan memberikan jalan keluar ini sebagai peluang untuk membangun kembali karirku yang sudah hancur.

Beberapa menit aku termenung, ayla menepuk bahu kananku “bagaimana kamu tertarik dengan tawaran temanku ini?”. “iya aku setuju dan akan mencobanya”. Ayla tersenyum “baguslah kalau begitu. Besok aku akan jemput kamu jam 09:00 pagi, untuk bertemu dengan temanku itu”. Kata ayla dengan wajah yang senang. “iya, terima kasih kamu sudah ingin membantuku”  lalu aku memeluknya. Tapi ia mendorongku dan berkata “sudahlah terima kasihnya lain kali saja kalau kamu sudah mendapat pekerjaan”. Aku pun tersenyum kepadanya. Dan ia berpamitan untuk pulang.

Keesokan harinya Jam menunjukkan pukul 08:30. Aku sudah bersiap-siap dan semuanya sudah rapi. Ini merupakan agenda wajib yang aku lakukan ketika ingin bertemu dengan seseorang yang penting, terlihat rapi dan bersih.

Tak lama kemudian suara klaksong mobil terdengar dari luar pintu pagar, aku melihatnya di kaca jendela ternyata itu adalah Ayla. Kemudian aku bergegas keluar pintu pagar, “apa kah kamu sudah siap” kata Ayla. “iya aku sudah sangat siap” jawabku. “kalau kamu sudah siap sekarang ayo masuk kedalam mobil tunggu apa lagi?” sambil membukakan pintu mobilnya dari dalam. Aku pun masuk kedalam mobil dan berangkat. Sepanjang perjalanan ayla menceritaka sepintas tentang  situasi di sekolah tersebut.

Setelah sampai di depan pintu gerban sekolah tersebut. Aku melihat sekolah itu, begitu sangat bagus dan bersi, siswa-siswinya pun terlihat begitu rapi. Ayla langsung memarkir mobilnya di tempat parkir khusus Guru, Staf, Kariawan, dan Direktur.

Setelah itu kami turun dari mobil dan berjalan menuju ruang Wakil Direktur yaitu teman Ayla. Sampai  di ruanganya dia mempersilahkan kami berdua untuk duduk. “oh ayla, senang bisa bertemu lagi” katanya menyapa. “iya aku juga senang bisa bertemu kamu lagi” jawab ayla. “oh yah maksud kedatangan mu kemari ada apa yah?”. Dia bertanya. “kenalkan ini adalah Riani sepupu aku yang perna aku ceritakan ke kamu”. Ayla menjelaskan. “oh Riani” dia pun mengulurkan tangannya kepadaku “ perkenalkan namaku adalah Hery gunawan, senang bisa bertemu dengan kamu Riani. Aku sudah tahu beberapa tentang dirimu”. Aku tersenyum kepadanya dan berkata “ terimakasih saya pun senang bisa bertemu anda, oh ya terima kasih anda ingin membantu saya”. Dia kembali tersenyum kepadaku dan mengangukkan kepalanya.

Ia pun menjelaskan kepadaku pekerjaan apa yang ingin ia berikan, aku sempat  berfikir mungkin aku akan dijadikan sebagai staf, atau kariawan di sekolah ini. “ baiklah aku langsung saja menjelaskannya,” aku sudah tau dari Ayla bahwa kamu adalah sarjana Hukum, kebetulan sekolah kami kekurangan guru mata pelajaran PKn, maka dari itu aku ingin memberikan pekerjaan ini kepada kamu, apa kah kamu sanggup mejalaninya.?”

Sepintas aku terdiam dan aku tidak menyangka ternyata aku ditawarkan untuk menjadi seorang guru PKn, tapi mungkin Tuhan sudah mengatur semuanya, semua jalan hidupku. Hery kembali bertanya kepadaku “apa kah kamu siap menerima pekerjaan ini?”. Akupu menjawab dengan tenang dan penuh percayadiri. “baiklah aku menerima tawaran anda untuk mengajar di sekolah ini”. Hery dan Ayla pun tersenyum kepadaku. “Baiklah mulai hari senin kamu sudah bisa masuk mengajar di sekolah ini dan sudah resmi bergabung di sekolah kartini ini”, katanya kepada ku dan mengulurkan sebuah map dihadapanku, ternyata itu adalah surat perjanjian kontrak, lalu aku pun menandatanganinya.

Pagi ini udara begitu sejuk dan sangat segar, tak biasanya aku merasakan udara sesegar ini, mungkin saat ini aku sedang sangat bahagia. Sehingga aku lebih dapat merasakan elemen-elemen positif disekitarku.

Saat aku berjalan memesuki gerbang utama sekolah yang akan aku tempati mengabdi, seorang sekuriti menyapaku dengan begitu ramah, “selamat pagi bu” sapanya. Aku pun tersenyum dan membalas sapaanya, “iya pagi pak sekuriti”.  Melanjutkan langkahku menuju ruang Wakil Direktur.

Aku mengetok pintu ruangan pak Hery. Tok…tok…tok.. “iya silahkan masuk” kata pak Hery, aku pun membuka pintu itu, dan melangkah masuk kedalam. “Selamat pagi pak Hery” sapaku kepadanya. Dia tersenyum dan menjawab “iya selamat pagi, kamu datang begitu cepat, sepertinya kamu sangat semangat untuk memulainya hari ini”. “yah seharusnya seperti itulah pak”. Lalu pak hery mengambil sesuatu berkas dari laci meja kerjanya dan memberikannya kepadaku. “ini untukmu, ini adalah jadwal mengajar kamu, mungkin hari ini kamu bisa mulai mengajar di kelas 3 IPA3”. Aku sedikit heran, karena kelas yang aku ajar adalah kelas 3, tapi aku sudah siap apapun tantangan yang akan terjadi selama aku di sekolah ini.

Tak lama kemudian suara bell pun berbunyi pertanda bahwa pelajaran akan dimulai.  Pak Hery mengantarku menuju kelas 3 IPA3. Kami berjalan di depan koridor kelas-kelas.  Sampai di depan kelas 3 IPA3, pak Hery menyuru menunggu di luar sebelum ia memanggilku untuk masuk kedalam, “ bu Riani anda tunggu sebentar sebelum saya memanggil anda”. Aku pun tersenyum dan menganggukkan kepala. Pak Hery pun melangkah masuk kedalam kelas IPA3 .

Setelah pak Hery sampai di dalam, seketika aku mendengar dari luar kelas suara siswa dikelas itu menjadi hening, yang tadinya sebelum pak Hery masuk kelas itu agak sedikit ribut. Dari luar aku mendengarkan mereka. “selamat pagi anak-anak?” kata pak Hery kepada murid-murid. “selamat pagi pak” jawab mereka serentak. “baiklah kedatangan saya kesini, adalah ingin memperkenalkan seorang guru baru yang akan mengajar mata pelajaran PKn kepada kalian, menggantikan pak furqan karena pak furqan sekarang mengajar di kelas 2, baiklah langsung saja, ibu Riani silahkan masuk.”

Setelah pak Hery memanggilku untuk masuk, aku pun melangka perlahan-lahan masuk kedalam kelas. Pandangan para murid tertuju  ke pintu, dan setelah aku di dalam para murid tersenyum kepadaku, sepertinya mereka menyambut kedatanganku dengan baik. “silahkan bu Riani, baiklah anak-anak saya pamit dulu karena masih ada yang harus saya kerjakan, saya serahkan kepada bu Riani” lalu pak Hery pun tersenyum kemudian pergi.

Setelah pak Hery keluar dari ruang kelas, perlahan-lahan rasa gugup ku mulai menjadi, tapi aku berusaha untuk tenang, pada hal aku sudah sering berdiri di muka umum, dengan perlahan-lahan mengambil nafas dan membuangnya. “ Selamat pagi anak-anak” sapa ku, “selamat pagi bu” jawab mereka serentak”. Aku mulai memperkenalkan diri, dan bercerita beberapa hal kepada mereka, seperti halnya untuk memulai pendekatan terhadap mereka semua.

Kemudian setelah menceritakan beberapahal, aku mulai mengambil absen kelas, dan mengabsen mereka semua, tapi ada satu murid yang tidak hadir. Saat aku mengabsen  namanya di antara nama-nama murid, ada satu kejanggalan dalam kehadirannya dalam seminggu hanya satu atau dua kali hadir saja, aku heran melihat kejadian ini, kemudian aku bertanya. “Leni Adhyasastro kenapa hari ini dia tidak masuk sekolah ?” tanyaku kepada anak-anak, ada satu siswa menjawabnya namanya adalah Karine “hari ini kayanya ia membolos lagi deh bu” jawabnya, kemudian ada siswa lagi menambahkan jawaban karine “iya bu’ tadi aku lihat Leni di depan pagar turun dari angkot trus langsung naik angkot yang lain bu.”

Kemudian aku terdiam sejenak, aku berfikir, kenapa ada siswa seperti leni yang sering absen masuk sekolah tidak ditanggulangi oleh pihak sekolah, aku penasaran dan ingin mencari tahu tentang hal ini. “eemmm….. emangnya Leni tidak perna dikasih surat peringatan oleh sekolah atau surat panggilan orang tua ?”. seorang murid menjawab “emm… sering sih bu kalau surat atau panggilan seperti itu, malah rumahnya perna di datangin beberapa kali oleh wali kelas atau pun dari pihak sekolah, tapi dia ngak perna berubah, kami juga ngak tau tuh bu kenapa pihak sekolah ngak mendrop outnya saja” jawab Ridho ia adalah ketua kelas ipa 3. Aku pun semakin penasaran ingin melihat anak ini dan bertemu secara langsung dengannya. Tak lama kemudian bel pun berbunyi pertanda jam mata pelajaran aku sudah habis. “Anak-anak karena jam pelajaran ibu sudah habis, maka kita lanjut nanti dan ibu akan memulai materinya”, “iya bu terimakasih” jawab mereka semua.

Lalu aku pun tersenyum dan berjalan keluar koridor, lalu menuju ruang guru, sampai disana aku disambut dengan hangat oleh beberapa guru, tapi ada juga guru yang kayaknya agak terganggu dengan kehadiranku disini, lalu aku menuju meja kerjaku, syukurlah, aku beruntung punya tetangga meja kerja yang ramah dan kayaknya asik untuk ditemani  ngobrol. Ia mengulurkan tanganya kepadaku dan berkata “hallo, selamat bergabung dengan kami, kenalkan nama aku cindy, aku mengajar mata pelajaran bahasa Indonesia” aku pun juga mengulurkan tanganku dan berkenalan denganya, dia pun begitu ramah kepadaku.

Karena jam selanjutnya jadwal aku kosong, maka aku memutuska untuk pergi ke Ruang perpustakaan sekolah, untuk meminjam beberapa buku yang aku perlukan sebagai bahan yang akan aku ajarkan kepada murid-murid. Sampai disana, perpustakaan begitu sepi, hanya beberapa orang yang ada di dalam, mungkin karena masih jam pelajaran. Kemudian aku bertemu dengan penjaga perpustakaan. “pak biasa kah anda tunjukkan di bagian mana buku khusus pelajaran PKn?” tanyaku kepada penjaga perpus yang kelihatanya lagi sibuk memainkan jarinya di atas keybord komputer. “Ia pun menjawab pertanyaanku tanpa menoleh kearahku. “letaknya paling ujung urutan ke 4, tumben ada siswa yang mencari buku PKn biasanya kalau ada tugas palingan cari di internet”. Aku pun hanya tersenyum mendengar jawabannya, lalu aku langsung berjalan menuju tempat yang di tunjukkan.

Setelah aku dari meminjam buku di perpus sekolah, aku pun pulang kerumah, karena mata pelajaran yang aku ajarkan hari ini hanya satu, aku pulang dengan menaiki angkutan umum, atau sering disebut dengan angkot, saat perjalanan pulang, seseorang di pinggir jalan kelihatannya ingin menaiki angkot ini, sepertinya ia adalah pelajar, tapi karena dia memakai sweter, sehingga aku tidak mudah mengenali dia bersekolah dimana. Aku berfikir seperti itu karena saat ini jam pulang sekolah masih lama, kenapa ada anak sekolahan yang berkeliaran di luar sekolah. Ia  melihatku dan tersenyum dengan ramah. Tapi sepertinya, dari raut wajahnya ia terlihat punya banyak masalah. Beberapa menit kemudian terdengar suarahnya, “kiri di depan” katanya kepada pak sopir, lalu angkot pun berhenti di depan sebuah pasar buah, ia pun turun, lalu angkot berjalan lagi.

Hari berlalu begitu cepat, sudah 2 minggu aku mengajar di sekolah kartini ini, aku juga sudah semakin akrab dengan para murid-murid, mungkin karena kemauanku yang begitu besar untuk mengenal dan akrab dengan mereka , tapi sudah seminggu pula leni tidak perna masuk sekolah, dan aku tidak perna sama sekali bertemu dengan dia, dan setiap aku menanyakan kepada teman kelasnya, kenapa leni  tidak masuk sekolah pasti alasan sama seperti yang kemarin-kemarin yang aku dengar.

Saat jam pelajaran aku sudah selesai di kelas Ipa 3, aku pun berjalan menuju ruangan pak Hery, karena ada suatu hal yang ingin aku katakan kepadanya. Sampai di depan ruangan pak Hery kelihatannya ia sedang kedatangan tamu, jadi aku kembali keruangan guru.

Sampai di sana aku bertemu dengan pak Dika dan sempat bercerita-cerita degannya, salah satu guru di sekolah ini, saat aku menanyakan tentang Leni, dia hanya tersenyum kepadaku, dan tertawa kecil seperti expresi yang sudah males mendengar namanya.  “Kenapa pak Dika, hanya tersenyum” tanyaku agak sedikit heran melihatnya“ “tidak kok bu Riani, aku sudah muak untuk menyelesaikan kasusnya itu, hanya bikin pusing saja” jawabnya dengan nada yang sedikit mengeluh. “trus kenapa dia tidak di drop out saja pak.?”. Ia kembali tersenyum mendengar pertanyaanku. “ Hemm… begini bu Riani, dalam peraturan sekolah siswa yang sudah kelas 3 ngak bisa lagi di keluarkan ataupun di Drop out karena itu sudah peraturan. Sejenak aku terdiam dan berfikir Sekarang aku sudah mengerti, tentang beberapa permasalahan Leni ini. Tapi hanya ada satu jalan keluar untuk masalah ini, yaitu hanya dia yang bisa mengubah dan menyelesaikan permasalahannya karena semua orang sudah angkat tangan tentang kasusnya ini.

Setelah beberapa hari kemudian aku masuk mengajar seperti biasanya hari ini jam pertama aku mengajar di kelas IPA 8, kemudian setelah itu aku mengajar di kelas IPA 3, saat di depan koridor kelas IPA 3, Ridho ketua kelas IPA 3 menghapiriku dan sepertinya ia ingin mengatakan sesuatu kepadaku. “ Bu Riani” katanya, “ iya ada apa Ridho” jawabku. “ begini bu, hari ini Leni masuk sekolah, dan dia sekarang ada di dalam kelas”, aku pun seketika menjadi begitu legah, mendengar ucapan Ridho. “ oh,, baguslah kalau begitu, mari kita masuk lalu kita mulai pelajaran”. Kataku kepada ridho. Aku pun melangkah masuk kedalam ruang kelas. Mata ku langsung mengarah ke bagian pojok kiri kelas, karena aku sudah lama ingin melihat seperti apa wajah leni, tapi saat aku memperhatikannya wajahnya menunduk kebawah meja, dan sepertinya ia sedang sibuk menulis sesuatu.

“Baiklah anak-anak, saya akan mengabsen kalian, tolong diperhatikan”. Kataku kepada murid-murid. Saat selesai mengabsen, aku kembali memperhatikan leni, tapi kelihatanya ia masih sibuk menulis, lalu aku berjalan menuju ke arahnya, para mata siswa seperti mengikuti langkahku dari belakan. “emm… kamu sedang kerja apa, kelihatanya sibuk sekali”, tanyaku kepadanya dengan suara yang begitu ramah. Ia pun langsung menoleh kepadaku dan segera menutup buku yang sedang ia tulisi. “ em… ngak kok bu’ aku hanya menulis beberapa catatan yang belum aku tulis bu” jawabnya. Aku pun berfikir bahwa anak ingin mungkin mempunyai banyak masalah, tapi sebenarnya ia ingin belajar. “oh kalau begitu, menulis catatanya, di tunda dulu yah, nanti dilanjut lagi, karena sekarangkan mata pelajaran PKn” , ia pun menganggup dan sepertinya ia mengerti dengan ucapanku ia pun meminta maaf kepadaku. “kalau begitu aku minta maaf ya bu aku tidak bermaksud kok”. Katanya. “ oh iya ngak apa-apa, kali ini ibu maklumin, oh yah.. sesudah pelajaran ibu, ibu ingin mengobrol denganmu Leni, temui ibu di perpus sekolah di jam istirahat”. Sekilas ia menjadi kaget dan wajahnya menjadi bingung,”oh iya bu” jawabnya dengan singkat. Lalu aku berjalan kedepan dan memulai pelajaran.

Saat bell berbunyi, tanda bahwa sekarang saatnya jam istirahat. Aku pun berjalan menuju ruang perpus sekolah, dan menunggu leni di meja paling belakan dibagian pojok, aku duduk di sana sambil membaca sebuah novel. Tak lama kemudian aku mendengar sebuah langkah kaki yang berjalan menuju ke arahku. Tatapanku pun langsung menoleh ke arah langkah kaki tersebut.  Ternyata itu adalah leni, “oh kamu… ayo silahkan duduk leni”, ia tersenyum kepadaku “iya bu terima kasih, oh yah bu ada apa ibu memanggilku untuk datang kesini ?” tanya leni, seperti begitu penasaran. “oh tentang itu, tidak kok, ibu hanya ingin mengobrol-ngobrol denganmu beberapa hal”. Ia pun sepertinya sedikit nyaman dengan jawabanku dan tidak sama sekali tampak wajah rasa tidak nayaman di wajahnya. “Ibu hanya ingin mengetahui beberapa hal tentang dirimu, walau pun aku ini guru baru di sini, dan mungkin kamu heran, kenapa di awal pertemuan kita, aku langsung memanggilmu seperti leni”. “oh… iya sih bu aku juga agak sedikit heran karna ibu langsung memanggilku seperti ini”, jawabnya sambil tersenyum. Ia pun sepertinya semakin nyaman mengobrol denganku, aku pun mengajukan beberapa pertanyaan kepadanya dan beberapa nasehat, tapi aku belum berani menanyakan hal-hal yang serius menyangkut masalahnya.

Hari demi hari aku dan leni semakin akrab, walau pun iya masih suka membolos masuk sekolah. Aku pun belum tahu apa masalah leni yang sebenarnya. Saat aku menanyakan tentang kasus Leni kepada pak Hery, ia pun malah memberiku tugas untuk menyelidiki, dan mengubah karakter Leni, dengan rasa sedikit tertantang dengan tugas tersebut aku pun mengabil tugas tersebut.

Hingga pada suatu malam, saat aku sedang pergi keluar ke mini market, untuk membeli beberapa makanan ringan, pada saat aku keluar dari mini market tersebut, aku melihat sebuah peristiwa kecil, seorang anak perempuan yang masih memakai seragam sekolahnya, di paksa untuk masuk oleh seorang lelaki tua yang umurnya parubaya ke dalam mobil lelaki tersebut. Entah apa yang terjadi di antara mereka, aku sedikit heran tapi aku tak bisa melakukan apa pun karena ia langsung pergi dengan kecepatan mobil yang begitu cepat.

Saat aku berjalan pulang menuju rumah, karena mini market cukup dekat dengan rumahku, sehingga aku tidak perlu memakai kendaraan untuk kesana, sepanjang perjalanan, aku memikirkan peristiwa tadi. Kemudian aku tiba-tiba teringat pada leni, “anak perempuan tadi agak mirip dengan leni”, kataku dalam hati tapi aku juga tidak bisa memastikan dengan baik, karena aku tak melihat wajahnya dengan jelas.

Siang ini setelah jam istirahat selesai aku mengajar di kelas Ipa 3, aku lihat hari ini leni tampaknya tidak masuk sekolah, aku merasa khawatir. Sekilas terpintas di pikirinku bahwa itu adalah leni  yang semalam aku lihat, akan tetapi aku juga takut jika dugaanku itu salah. Lalu aku pun berencana untuk mencari tahu ke rumahanya sendiri sekaligus mencari tahu beberapa informasi tentang dirinya.

Siang itu sepulang dari mengajar, aku sempat ke ruang sekolah untuk mencari alamat rumah leni, lalu aku pun menuju ke alamat yang di berikan oleh pihak sekolah. Beberapa menit perjalanan menuju alamat rumah leni, akhirnya aku berhenti di depan sebuah rumah yang kelihatanya begitu sederhana dan terlihat sedikit kumuh. Perlahan-lahan kakiku melangkah menuju rumah tersebuh,  setelah jarakku dengan rumah itu sekitar 5 meter, seorang ibu-ibu parubaya mendekatiku berjalan dari arah samping rumah menuju padaku.

“maaf anda siapa ya,?” tanya ibu itu padaku. “maaf bu,  kenalkan saya gurunya leni, kalau boleh tau ini betul rumahnya leni ?” tanyaku sambil mengulurkan tangan mengajak berkenalan.  “oh gurunya leni, “kenalkan kalau saya dengan tantenya leni. Oh ya ada apa ibu datang kemari?”. Aku mulai merasa agak sedikit risih karena ia tak menawarkanku untuk duduk, atau pun mengajak untuk masuk kedalan rumah.

“oh tidah buk, aku hanya ingin mengatakan beberapa hal tentang leni”. Jawabku. “oh emang leni kenapa bu’? ia kembali bertanya tampa menawarkanku untuk duduk. Setelah aku memberi kode dengan memegang betisku, akhirnya pun ia mengerti dan mengajakku untuk masuk kedalam rumah. “ oh maaf bu, mari kita bicara di dalam saja”. “iya terima kasih bu”, perasaanku sekarang menjadi sedikit legah. Setelah didalam rumah, aku melanjutkan percakapan tadi.

“begini bu, leni sering malas datang ke sekolah, trus dia juga anaknya agak sedikit tertutup” aku berusaha menjelaskan dengan baik tentang masalah leni. “oh, tentang itu, wajar saja lah bu, dia itu keluarga yang broken home, jadi wajar kalau dia berperilaku seperti itu” sekilas aku menjadi heran dengan jawaban tante leni, seolah-olah ini hanyalah hal yang sepeleh baginya. Setelah beberapa jam mengobrol dengan tantenya leni, sekarang aku sudah tahu semua apa masalah leni sebenarnya.

Ternyata leni selama ini, sering tidak datang ke sekolah karena ia harus bekerja paru waktu untuk menghidupi dirinya dan neneknya, sedangkan kedua orang tuanya, sudah bercerai dan mereka sudah tidak peduli dengan anaknya yaitu leni dan lebih mementingka kepentingannya masing-masing. Walau leni dan neneknya tinggal serumah dengan tantenya sekarang. Tapi ia tidak ingin menyusahkan tantenya dan ingin hidup mandiri. Walaupun tujuanya itu baik tapi ia tidak harus mengorbangkan pendidikannya, mungkin karena ia masih labil dan hanya memikirkan hal itu saja.

Sepulang dari rumah leni. Aku berfikir bagaimana cara mengubah pemikiran dan tingkah lakunya selama ini dan menyadarkannya bahwa ia keliru dengan apa yang ia fikirkan. Aku juga sudah meberi tahu tantenya supaya leni disuruh ke sekolah besok agar aku bisa bicara dengan serius dengannya.

Siang ini setelah jam istirahat selesai aku bertemu dengan leni di perpustakaan. Kebetulan mata pelajaran setelah istirahat adalah seni budaya dan aku pun sudah meminta izin kepada guru yang bersangkutan agar leni diberi izin.

Setelah Leni duduk dihadapanku sepintas menjadi hening, aku tidak tahu harus memulai pembicaraanku dari mana. Tapi setelah nenarik nafas dengan perlahan dan mengeluarkannya. Aku mulai berbicara kepadanya. “ Leni apa kah kamu ingin, berubah demi masa depanmu?” tanyaku kepadanya dengan tegas dan tampa keraguan. “ maksud ibu, berkata seperti itu?”. Aku menatap matanya seperti aku memegang keras tanganya. “tolong kamu cukup menjawab pertanyaan ibu”. Sekilas ia meras agak ragu ingin menjawab apa mendengar pertanyaanku itu, tapi ia mulai memberanika diri menjawabnya. “ iya bu aku ingin berubah dan sangan ingin, tapi aku takut menjalankan ini semua seorang diri, aku takut bu dengan dunia luar yang sangat kejam”. Jawabnya dengan mata berkaca-kaca dan terpecah dengan berlinang air mata membasahi pipinya. “ syukurlah kalau kamu ingin berubah, kamu tidak perlu takut, leni, dunia tidak sekejam apa yang kamu fikirkan. Intinya sekarang yang perlu kamu tahu kamu ingin berjuang dan bekerja keras, ibu yakin suatu saat nanti kamu bisa berhasil dan sukses. Orang tuamu akan menyesal telah memperlakukan mu seperti ini ibu yakin itu.”

Leni hanya terus meneteskan air matanya dan berusaha perlahan-lahan menenangkan diri dan berbicara kepadaku. “kenap ibu begitu yakin suatu saat nanti aku akan sukses, pada hal aku ini tidak ada apa-apannya semua orang saat mendengar namaku mereka sudah berfikir tidak-tidak tentangku, sebenarnya aku tertekan sekali dengan hal ini tapi aku berusaha tegar dan hanya bisa terdiam saja.”. aku memegang kedua pundak leni dan memutarnya mengarah kepadaku, “leni tatap mata ibu, dengarkan baik-baik, kamu tidak sendiri ada ibu disampingmu. Pokoknya kalau kamu ingin masa depanmu sukses mulai dari sekarang berubah dan dengarkan semua perkataan ibu, dan jagan perna membolos masuk sekolah hanya karena bekerja oke, leni kamu mengerti ?” iapun mengangguk dan perlahan-lahan ia menghapus air matanya.

Setelah kejadian itu percakapanku dengan leni di perpus, sekarang ia sudah mulai rajin datang kesekolah, dan perlahan-lahan ia mulai berubah, tidak seperti sebelumnya. Aku mulai bangga dengan perkembanganya itu. Pak hery pun berterima kasih kepadaku karena aku telah menjalankan misi yang di berikannya kepadaku dengan sangat baik. Setiap pulang sekolah kecuali hari selasa, rabu, dan sabtu karena leni harus bekerja sebagai pelayang cafe, aku sering membimbingnya dan memberikan pelajaran tambahan kepadanya serta mengajarkan dan mengembangkan hobinya karena ia suka mengambar dan mendisain baju atau gaun.

Setelah beberapa bulan, semua anak kelas tiga akan mengikuti Ujian Nasional atau UN, setiap sekolah telah sibuk mempersiapkan para siswannya untuk membekali mereka semua ilmu dan kepercayaan diri menghadapi UN tersebut. Begitupu juga leni ia sepertinya sudah begitu siap untuk menghadapi UN. ***

Pagi ini semua para siswa kelas 3 terlihat memadati halaman sekolah, terlebih di depan mading sekolah. Terlihat seorang siswi yang sedang sibuk mencari namanya diantara ratusan nama siswa. “146 alhamdulillah aku lulus “ kata leni dengan sangat bahagia, dan ia pun berlari menuju ke arahku yang sedang berdiri di pinggir lapangan bersama para guru, dan memelukku dengan begitu bahagia lalu mengatakan, “bu terimakasih atas perhatian mu selama ini kepadaku, aku lulus bu’ dan engkaulah orang pertama yang aku beritahu sekali lagi terimakasih bu”. Pada hari itu aku merasa bahwa kesuksesanku pun mulai kembali dari diriku, karena aku telah menjalankan kewajibanku dan menjalankan tugasku dengan baik, aku juga meras bahwa kesuksesan pula bukan cuman sekedar materi semata ataupun sebuah kehormatan, tapi kesuksesan ketika kita bernilai di mata seseorang dan berguna bagi orang lain. Air mataku terurai mendengar ucapan Leni kepadaku, aku sangat bahagia.*** Satu tahun kemudian ***

Aku sedang bersantai di ruang keluarga sambil nontong sebuah talkshow favorit aku, tema kali ini adalah tentang bisnis. Setelah beberapa menit menontongnya. Aku langsung heran karena bintang tamu kali ini adalah seorang murid aku dulu, dan sekarang ia sudah menjadi seorang pengusaha muda di bidang desainer ia adalah anak yang sering membolos ke sekolah dan sekarng ia masuk tv, sunggu mengagetkan. Sunggu aku meras sangat bangga dan aku sampai tidak sadar air mataku jatuh.

Dan air mataku bertambah deras setelah mendengar ucapan leni bahwa. “kesuksesanku ini semua karena oleh seorang guru pkn ku dulu sewaktu SMA ia adalah ibu Riani, aku berterima kasih banyak kepada ibu yang telah mensupor aku selama ini, kalau ibu sedang menontong acara ini, aku ingin katakan bahwa sehabis acara ini aku ingin mengunjungi rumah ibu, dan jagan lupa menyiapkan makanan enak yah bu hehehe,,, bercanda ”. Katanya, aku sekilas tertawa dengan penuh kebahagiaan.

 

Penulis : Rismayanti

Red. Baso

Related Posts

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: