Harapan Mahasiswa Pada Milad UMI ke-67

Penulis : Muh. Abirama Putra

Makassar, Cakrawalaide.com – Universitas Muslim Indonesia (UMI) menggelar milad yang ke-67 di Auditorium Aljibra Rabu (23/6/2021). Dengan mengusung tema “Pencapaian Terbaik dengan Adaptasi dan Inovasi”, Universitas yang berdiri sejak 23 Juni 1954 terus berbenah dan gencar melakukan pembagunan.

Salah satu prestasi UMI yang diraih pada milad sebelumnya atau ke-66 adalah telah meraih Akreditas A dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN PT) yang mengantar UMI menjadi Perguruan Tinggi Swasta (PTS) pertama di luar Pulau Jawa. Itu diungkapkan secara virtual oleh Rektor Prof. Dr. H. Basri Modding, SE, M.Si pada milad tahun 2020.

Namun sejumlah persoalan masih tetap dimiliki oleh UMI dan belum mampu menjawab keresahan dari berbagai mahasiswa seperti Biaya Penyelenggaraan Pendidikan (BPP) yang mahal, kekerasan akademik, serta fasilitas kampus yang belum memadai. Hal itu bisa dilihat dari beberapa fakultas yang masih kekurangan ruang belajar. Sehingga memunculkan respon dari berbagai mahasiswa ketika memberi harapan pada milad UMI ke-67.

Seperti yang diungkapkan Ahmad mahasiswa Fakultas Teknik angkatan 2017, kedepannya UMI bisa menjalankan fungsinya sebagai lembaga pendidikan yang mampu memenuhi kebutuhan mahasiswa, yaitu menyediakan sarana dan prasarana yang layak.

“UMI sebagai kampus islami seharusnya mampu menjawab segala keresahan mahasiswa salah satunya menyediakan fasilitas yang lengkap, sebab masih ada fakultas yang kekurangan kelas,” ungkapnya.

Ia menambahkan, perlunya pihak kampus mengevaluasi kinerja para dosen untuk mencapai kualitas pembelajaran yang baik. “Saya berharap pihak kampus juga memperhatikan hal ini, meningkatkan kinerja dosen untuk pencapaian terbaik dan menciptakan inovasi,” tambahnya.

Lain halnya dengan Aiman mahasiswa Fakultas Pertanian angkatan 2017 yang mengkritisi pembayaran BPP di UMI. Ia mengatakan  masih banyak aspirasi mahasiswa yang tidak didengarkan, salah satunya terkait biaya perkuliahan pada masa pandemi. Dimana pihak kampus tidak memberikan potongan BPP kepada mahasiswanya, sedangkan sistem perkuliahan dilakukan secara online serta fasilitas kampus tidak digunakan.

“Saya rasa UMI sebagai institusi pendidikan harusnya mencerminkan kebijaksanaan terhadap mahasiswanya, namun yang terlihat malah mengambil kebijakan yang mengarah kepada penggemukan finansial institusi,” tegasnya.

Senada dalam menanggapi milad UMI yang ke-67, Fadel juga mengharapkan birokrasi tidak lagi bungkam dan menjawab segala kegelisahan mahasiswanya, serta kampus diharapkan mampu mencetak generasi yang unggul bukan hanya serta merta kampus  mencetak ijazah.

“Kampus perlu mendengar  dan kemudian menjawab keluhan mahasiswa. Tidak hanya menyebar citra di media-media sedangkan mahasiswa luput untuk didengar,” pungkasnya.

Selanjutnya, ia juga menambahkan masalah yang terjadi terkait biaya Kuliah Kerja Nyata (KKN) 2 atau 3 tahun belakangan yang berubah drastis. Sebelumnya, pembayaran 1,3 juta rupiah sudah termasuk dengan biaya program kerja, dan makan saat di posko KKN. Namun saat covid melanda, pembayaran tetap 1,3 juta rupiah dan mahasiswa hanya mendapat jaket seharga kurang lebih 100 ribu rupiah, sedangkan biaya operasional, seperti makan dan program kerja ditanggung oleh mahasiswa atau kelompok tersebut.

“Kita sebenarnya tidak mempertanyakan kemana? Hanya saja kita butuh transparansi uang yang digunakan itu dikemanakan sih!” tutupnya.

Redaktur : Nurul Waqiah Mustaming

Related Posts

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: