Demokrasi Indonesia Tidak Sehat, Kemenkes Ikutan Gagal

Indonesia merupakan negara yang menganut sistem demokrasi dengan prinsip-prinsipnya yang dilekatkan pada sistem pemerintahan. Dalam hal ini adanya pergantian pemimpin secara teratur, Indonesia menyelenggarakan pemungutan suara mulai dari Pileg, Pilkada, sampai Pilpres. Upaya tersebut merupakan praktik demokrasi, sekaligus antisipasi terhadap munculnya sistem politik otoritarian.

Namun, melihat fenomena yang ada bahwa sistem peradilan masih bermasalah dalam memutuskan suatu perkara. Hal ini menandakan belum adanya komitmen dari pihak terkait untuk mewujudkan negara yang benar-benar demokratis.

Bagi penulis, Indonesia dengan prinsip demokrasi yang substansial hanya sebatas “label” saja. Demokrasi di Indonesia saat ini masih berbentuk prosedural, layaknya seperti “siluman”.

Pemilihan Umum (Pemilu) serentak yang diselenggarakan di tahun ini membawa duka yang mendalam, sekaligus sangat mengecewakan. Meninggalnya para petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) menandakan adanya sistem yang gagal.

Entah desain perekrutan KPPS seperti apa atau seperti yang sebagian pihak menyebutnya cukup ideal, tapi yang menjadi permasalahan yaitu dimana peran atau keterlibatan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dalam mengawal demokrasi ini? Apakah upaya mencegah atau mengantisipasi kejadian yang menelan korban jiwa ini tidak pernah terpikirkan? Semua dilaksanakan serentak, sampai pada kematian pun serentak. Miris!

Menteri Kesehatan RI  Prof. Nila Moeloek mengatakan, hasil audit menerangkan bahwa yang menjadi sebab kematian para petugas KPPS adalah penyakit bawaan. Sekali lagi Kementerian Kesehatan mempertontokan ketidakprofesionalan dalam mengawal demokrasi. Setelah menelan ratusan korban jiwa barulah melakukan himbauan untuk audit setiap kasus yang ada di setiap provinsi atau daerah.

KPU RI menyebutkan petugas KPPS meninggal dunia akibat kelelahan (karena beban kerja yang berlebihan). Hal ini sebenarnya tidak bisa dijadikan alasan atau penyebab kematian. Kelelahan tidak bisa menjadi penyebab suatu kematian. Masih diperlukan faktor lainnya sehingga kelelahan bisa dikatakan sebagai pencetus kematian seseorang, seperti faktor mental condition dan health problem, sebagaimana yang disampaikan dr. Moh. Adib Khumaidi, Sp.OT.

Paradigma sehat yang diagung-agungkan Kemenkes yaitu pola pikir pembangunan kesehatan yang bersifat holistik, proaktif dan antisipatif itu dikemanakan? Apakah mungkin hanya sebuah label saja?

Paradigma sehat yang katanya berorientasi kepada peningkatan pemeliharaan dan perlindungan  terhadap penduduk agar tetap sehat dan bukan hanya penyembuhan penduduk yang sakit. Ternyata itu hanya sebatas konseptual saja.

Seyogianya, Kemenkes harus terlibat sejak sistem perekrutan petugas KPPS untuk menghindari kejadian seperti ini. Pelaksanaan uji coba kelayakan fisik dan psikis berupa tahapan screening untuk menjadi petugas KPPS itu sangat perlu. Langkah seperti ini sekiranya salah satu upaya preventif berdasar pada pola paradigma sehat.

Melihat kasus pilu bangsa ini, Kementerian Kesehatan harus lebih responsif menangani kejadian. Perlunya tim investigasi khusus yang memecahkan masalah ini sampai tuntas. Jangan hanya menunggu atau minta laporan setiap Dinkes Provinsi untuk melihat hasil audit medik dan audit verbal.

 

 

 

Penulis : Ahmad Syauqi, mahasiswa FKM-UMI (Sekjend ISMKMI)

 Red : Cung

Related Posts

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.