Darurat Iklim: Solidaritas Perempuan Anging Mammiri Gelar Konferensi Pers

Penulis : M. Furqan Razak

Makassar, Cakrawalaide.com- Solidaritas Perempuan Anging Mammiri (SPAM) mengadakan konferensi pers terkait hasil temuan penelitian Gender Into Urban Climate Change Initiative (GUCCI). Dengan mengusung tema “Kota Impian Perempuan: Kebijakan dan Aksi Iklim yang Responsif Gender di Kota Makassar”. Di Red Corner Cafe Jl. Yusuf Ngawing Tidung Kecamatan Rappocini, Jumat (25/6/2021).

Solidaritas perempuan anging mammiri bersama aksi untuk keadilan Gender, sosial dan ekologi melakukan sebuah penelitan untuk melihat sejauh mana program dan kebijakan perubahan iklim perkotaan berprespektif Gender di Kota Makassar. Penelitian ini dilakukan sejak tahun 2016 hingga 2021,  dengan melibatkan 3 kelurahan yakni ; Kelurahan Tallo, Cambayya, dan Buloa. Hasil penelitian ini menemukan persoalan serius mengenai perubahan iklim yang berdampak terhadap kerusakan lingkungan hidup, kehidupan sosial masyarakat di Kota Makassar termasuk perempuan dan kelompok rentan lainnya.

Dalam konferensi pers tersebut, membahas tentang perubahan iklim yang telah memberikan dampak kerugian besar kepada masyarakat khususnya masyarakat urban di kota-kota besar termasuk Kota Makassar. Seperti cuaca ekstrim, banjir, naiknya permukaan air laut, meningkatnya penyakit menular, dan sebagainya. Dalam merespon ancaman iklim di Kota Makassar pemerintah juga melakukan beberapa upaya diantaranya peningkatan dan penambahan Ruang Terbuka Hijau (RTH), peningkatan kualitas infrastruktur dan layanan publik, peningkatan kesejahteraan ekonomi dan sosial.

Salah satu program adaptasi perubahan iklim pemerintah Kota Makassar untuk peningkatan dan pemenuhan 30% RTH, berkontribusi menurunkan emisi Gas Rumah Kaca (GRK), pemenuhan pangan keluarga,  pemberdayaaan warga di lorong, memperkuat ketahanan kota terhadap perubahan iklim yaitu program Lorong Garden.

Musdalifah Jamal mengungkapkan dalam aksi atau program iklim yang dilakukan oleh pemerintah Kota Makassar terjadi kesenjangan yang mana tidak melibatkan partisipasi bermakna perempuan pada tahap proses penyusunan kebijakan dan tidak terlibat dalam mendesain program atau aksi perubahan iklim. Sehingga kebijakan tersebut belum mencerminkan integrasi Gender. Dalam program ini masih terjadi praktek diskriminasi yang melanggengkan ketimpangan Gender.

“Program Lorong Garden ini justru menambah beban perempuan dan tidak menjawab kebutuhan perempuan pesisir dalam menghadapi ancaman iklim,” ungkapnya.

Ia menambahkan dalam penyusunan perencanaan awal program pemerintah hanya melibatkan kader  perempuan yang aktif pada Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) atau dekat pemerintah kelurahan, sehingga perempuan yang tinggal di pesisir terkena dampaknya, salah satunya program ini tidak didukung dengan fasilitas yang memadai seperti penyediaan air bersih.

“Program ini dapat memberikan manfaat tambahan khususnya bagi perempuan pesisir, jika didukung dengan fasilitas yang memadai dan programnya berkelanjutan,” tambah Ketua Badan Eksekutif Komunitas SP Anging Mammiri.

Risma Umar dalam konferensi pers mengingatkan saat ini, terjadi situasi bencana iklim di Indonesia dan global, perempuan butuh kota berkeadilan Gender dan berketahanan iklim untuk mengatasi dampak bencana iklim dan kesenjangan Gender.

“Pemerintah harusnya segera melakukan review kebijakan Nationally Determined Contributions (NDC) Indonesia dengan memastikan integrasi Gender dalam NDC dan seluruh kebijakan iklim nasional dan daerah. Memastikan adanya Gender Action Plan (GAP) pada kebijakan dan aksi perubahan iklim di Indonesia, Sul-Sel, dan seluruh kota termasuk Kota Makassar.” tuturnya

Salmiah perempuan penggerak komunitas Kelurahan Buloa berharap pemerintah dalam menyusun sebuah kebijakan program atau aksi iklim di Kota Makassar responsif  terhadap Gender.

“Kami meminta pemerintah jika membuat program mengenai perubahan iklim memperhatikan juga situasi, kebutuhan, dan kepentingan perempuan di Kota Makassar karena kami yang mengalami beban yang lebih banyak kalau ada bencana,” tutupnya.

Redaktur : Nurul Waqiah Mustaming

Related Posts

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: