Cinta dan Demokrasi Dikorupsi

Oleh: Nurul Waqiah Mustaming

 

Mataku berbinar, ketika menyaksikan berbagai siaran di televisi yang memberitakan kondisi realita bahwa ibu pertiwi kini sedang tidak baik-baik saja. Inikah wujud terima kasih kita atas hadiah kemerdekaan dari para pahlawan yang rela mengorbankan nyawanya?

Namaku Lusi Citra Arini, aku akrab disapa Lusi. Aku merupakan salah satu mahasiswi di Universitas swasta yang ada di Makassar. Namun, sebelum terlalu jauh aku mengotori kertas putih ini dengan coretan-coretanku, aku ingin mengatakan bahwa aku sedang geram dengan para tikus berdasi, para pembuat kebijakan tanpa mementingkan hak rakyat dan semua pihak yang merusak negeriku.

Pagi yang cerah, matahari menampkkan dirinya di ufuk Timur. Dengan penuh semangat aku bergegas berangkat ke kampus, dengan mengenakan alamater hijau tua kebangganku dan tentunya jilbab orange yang kukenakan sebagai identitas fakultas ku, yakni sastra. Yang mana hal itu sudah menjadi tata tertib bagi mahasiswa baru sebagai atribut wajib.

Suasana kampus nampak berbeda dari hari-hari sebelumnya, tak ada kegiatan proses belajar mengajar berlangsung. Yang nampak hanya kumpulan mahasiswa dengan rentetan spanduk dan pataka yang berisi pesan-pesan kebenaran. Memang betul ribuan mahasiswa yang tergabung dalm berbagai aliansi turun ke jalan menyuarakan hak rakyat serta untuk mengingatkan kembali janji-janji manis pemerintah yang hobinya ngibul.

Mataku tertuju pada sosok laki-laki yang memimpin massa aksi, sembari menyuarakan “hidup rakyat, hidup mahasiswa,” dengan suara yang terdegar parau. Disusul pula teriakan kumpulan massa yang penuh dengan semangat. Terlihat tak ada rasa takut, hanya ada semangat juang menyuarkan kebenaran ditengah saman dimana demokrasi sedang dikorupsi.

Sosok laki-laki itu ialah kak Hanif, aku menyapanya seperti itu. Sedikit kujelaskan tentang dia, ia merupakan salah seorang mahasiswa yang memiliki sikap kritis terhadap berbagi kebijakan yang timpang di negeri ini. Semangat juang dan keberaniannya patut diacungkan jempol. Ia identik dengan alis tebal, mata bulat, hidung mancung dan lesung pipi sebagai pelengkapnya, ia nampak begitu manis ketika tersenyum, dan kini ia yang mengisi satu ruang di hatiku.

Kembali ketopik. Jalanan dipenuhi dengan berbagi aliansi mahasiswa yang saling merangkul menjadi satu untuk menyuarakan hak-hak rakyat yang kini telah ditelan oleh gemerlapnya saman eforia demokrasi dikorupsi oleh mereka para dewan penghianat rakyat.

Aku kembali teringat ujaran bapak proklamator “perjuangan ku lebih muda karena melawan para penjajah, tapi perjuangan kalian akan lebih berat karena melawan saudara sendiri.” Mana mungkin ada yang lebih berat dari melawan para penjajah. Namun, ketika menelisik keadaan sekarang memang benar adanya.

Kemerdekan melawan penjajah memang telah usai. Namun, mengapa keadilaan belum sepenuhnya kita rasakan? Sebab masih banyak manusia-manusia egois yang mementingkan dirinya sendiri dan lebih parahnya lagi, kini mereka yang duduk di kursi pemerintahan yang seharusnya memberikan keadilan itu, tapi malah seakan menutup telinga dan membungkam hak rakyat.

“Alangkah lucunya negeriku, negeri yang katanya kaya dan gandrung akan keadilan, tapi rakyatnya tak pernah menjadi tauan di negerinya sendiri, harus tunduk dan pasrah kepada mereka yang menduduki tahta. Negeri yang katanya beragama dan bermoral, tapi kebanyakan para pemimpinnya lebih memilih menjadi penghianat rakyat dan teramat lihai mengingkari sumpah dan janjinya kepada sang Pencipta,” gumam ku dalam hati dengan penuh kecemasan.

Namun sekarang kecemasan ku bukan lagi perihal negeri ini saja, tapi juga kepada kak Hanif yang sedang memimpin aksi, sebab melihat perlakuan para aparat keaamanan yang tak berperikemanusian dalam menangani massa aksi.

Adsan Magrib telah berkumandan, namun kampus masih saja dipadati dengan mahasiswa, dosen dan beberapa staf kampus lainnya. Tak ada akses jalan untuk bisa sampai ke rumah, keadaan jalan masih sangat macet dipenuhi para mahasiswa yang malakukan demonstrasi. Aku berdiri di depan gerbang pintu masuk kampus sambil menyaksikan para mahasiswa yang tetap setia menyuarakan hak rakyat.

Jemariku bolak-balik membuka akun WhatsApp di ponsel ku, harap-harap mendapat kabar dari kak Hanif, namun rasanya itu mustahil. Tiba-tiba ada sosok laki-laki yang menepuk pundak ku.

“Kenapa belum pulang, sudah magrib!” ujar laki-laki itu yang teryata adalah kak Hanif. Terlihat keringat mengucur dari wajahnya yang nampak kusam akibat seharian berada dijalan, namun ia masih saja terlihat manis di mataku.

“Aku takut kak,” jawab ku. “Sini kakak antar pulang!” pinta kak Hanif. Jarak rumah ku dari kampus terbilang dekat hanya berjarak 700 meter, tinggal menyebrang ke sebrang jalan.

“Kakak tidak dipukuli sama polisi kan?” tanya ku semabari menggenggam tangannya, melewati kumpulan mahasiswa yang kini duduk di pelatarn jalan. “Heheheheh tidak mungkin polisi berani memukuliku, malah polisi yang takut,” balas kak Hanif sambil menatapku, disertai gelak tawa.

“Lain kali kamu tidak usah takut, kan ada kakak,” sambung kak Hanif ketika sampai di depan rumah. “Makasih yah kak, kakak juga tidak boleh sakit atau sampai terluka,” jawabku dengan tersipu malu.

“Kekerasan yang dilakukan oleh aparat keamanan tak ada sakitnya dibandingkan kesakitan yang akan dirasakan oleh rakyat ketika keadilan tidak ditegakkan,” tutur kak Hanif lalu meninggalkanku yang masih terpaku dengan perasaan kagum ku padanya.

Related Posts

Leave A Comment