Andai Aku Bukan Perempuan

Penulis : Nurul Waqiah Mustaming

Mayat hidup mulai bangkit dari pembaringan, matanya sembab dengan lelehan air mata yang membanjiri pipi, bibirnya bergetar, serta hidungnya memerah. Langkahnya tidak terarah sesekali ia berpegangan pada dinding untuk menyeimbangkan tubuhnya. Semalaman matanya tak pernah terlelap, menahan sakit di sekujur tubuh.

Mayat hidup itu adalah aku. Dengan luka lebam di hati yang sedari dulu membabi buta namun aku hanya bungkam atas dasar sebuah pemakluman dan semuanya akan kembali seperti tak terjadi apa-apa.

Pagi yang suram, aku berdiri menghadap sebuah cermin yang tergantung pada tembok berwarna biru menjadi warna yang mendominasi ruangan 4 x 6 meter itu. “perempuan malang,” gerutuku dalam hati. Akulah perempuan yang tak pernah meminta dilahirkan sebagai seorang perempuan, harus terlahir memiliki lubang vagina pemuas hasrat kaum laki-laki. Mataku  mulai menjajaki sekujur tubuhku yang nampak hanyalah luka dan sebentar lagi aku akan mati dan menjadi mayat sungguhan.

Betapa menyedihkannya aku tak bisa meloloskan diri dari kepungan rasa sakit ini. Bahkan dalam keadaan terpuruk seperti ini kenangan bersamanya terus saja mengepungku dan mencengkram kuat-kuat ingatan di kepalaku.

Saat ini diriku seakan ditarik mundur oleh waktu, melinting ke masa lalu awal pertemuanku dengan sosok laki-laki yang akrab ku sapa Arif. Terbanting dan terlentang tepat pada awal mula penderitaan ini.

***

 Kurang lebih satu tahun waktuku  kuhabiskan untuk mencintai seorang laki-laki yang mungkin saja sebentar lagi ia akan ke rumahku bukan untuk melamarku seperti janji manis yang kerap ia ucap ketika sedang dimabuk cinta denganku, melainkan untuk mengunjungi jasadku terakhir kalinya. Dia laki-laki yang manis memiliki tahi lalat tepat di pelipis kanannya, ia juga sangat revolusioner, matanya bulat dengan tatapan yang tajam. Ia pula merupakan seniorku di kampus. Mungkin bisa dibilang aku adalah korban dari rayuan maut kakanda terhadap juniornya (adindanya).

Menjadi seorang mahasiswa baru (Maba) yang dibalut dengan kepolosan membuatnya lebih mudah untuk mendaptkan hatiku, membuat aku hampir gila karena jatuh cinta kepadanya. Semua berjalan dengan begitu  indah setiap harinya kami memadu kasih, dan sesekali kami akan melakukan perjalan untuk sekedar liburan agar rasa bosan tak datang menghampiri. Namun rasa bahagia itu tak berlangsung lama. Ketika dirinya merasa memiliki kuasa atas relasi yang kami bangun.

Ia mulai bertindak seakan aku harus memenuhi semua keinginanya, mengontrol segala aktivitasku, bahkan aku merasa sudah tak memiliki otoritas atas tubuhku sendiri. Dia akan membentakku dan mengeluakan kata-kata kotor (anjing,tai dll) ketika sedang marah yang jelas, sangat melukai hatiku. Biasanya aku hanya akan menangis semalam meringkuk di atas kasur dengan mata lebam sembari berusaha memakluminya atas dasar sebuah relasi dan rasa cinta.

Aku selalu bertanya tentang apa yang membuat hubunganku dengannya seperti ini, dan mengapa, aku malah bertahan sedangkan aku telah ditindas olehnya. Aku sempat teringat kata-kata yang Ayahku bilang ke Ibu ketika sedang marah “Kau itu perempuan, jangan melawan”, gertaknya. Aku hanya memandangi wajah ibuku pada saat itu yang sedang berlumuran air mata. Apakah perempuan memang dilahirkan sebagai manusia kedua? Yang hanya bisa tunduk kepada laki-laki?

Tidak. Aku akan menolak hal itu, aku tak bisa selamanya seperti ini walaupun aku sangat mencintai Arif. Aku sadar akan hal itu tapi rasanya sulit untuk lepas dari cengkraman laki-laki biadab itu. Ia berusaha menguasaiku dengan cara melakukan hubungan intim denganku kemudian mendoktrin bahwa aku tak lagi berharga dan tak ada satu orang pun yang mau lagi dengan ku ketika aku berani meninggalkannya.

Malam itu, malam yang menjadi awal dari sebuah penderitaan.  Di dalam sebuah ruangan yang bercat putih, AC tergantung tepat dipojok kanan ruangan, temperaturnya 16’ celsius. Televisi dinyalakan begitu saja. Aku duduk diatas kasur yang dibalut dengan sprei berwarna putih, dengan bantal yang disusun serapi mungkin. Sedangkan Arif duduk di sebuh kursi di samping kiri tempat tidur sembari menikmati rokok yang terselip di tangan kanannya sesekali ia terlihat memainkan kepulan asap yang keluar dari mulutnya.

Aku  sengaja memintanya untuk membantuku mengerjakan tugas kuliah. Ia pun sudah berjanji untuk tidak menyentuhku selama di dalam kamar tersebut. namun perjanjian itu tak berselang lama, perlahan ia medekatiku sambil menyandarkan kepalanya di bahuku, tangannya bergerak pelan meraba tubuhku dengan  nafsu yang beringas ia mulai mengulum bibirku

Aku mendorongnya sehingga menyisakan beberapa jarak aku  dan dirinya.“Kau sudah janji untuk tidak menyentuhku,” ucapku dengan sedikit gemetar. Detak jantungku serasa bekerja lebih cepat dari biasanya, kurasakan tetiba aliran darah mengalir dengan deras. “ Kau pacarku, berciuman adalah hal yang biasa dilakukan oleh orang berpacaran,” ucapnya matanya terlihat menelanjangi tubuhku.

Aku terus berusaha mengendalikan tubuh yang sedari tadi diserang ketakutan, wajahku mulai pucat, kurasakan dingin mulai menjalar diseluruh bagian kaki. Ini kali pertamanya aku disentuh oleh seorang laki-laki. Reaksi yang di perlihatkan tubuhku tak membuatnya menenangkan ku atau sekedar meminta maaf atas tindakannya yang membuatku sangat tidak nyaman.

Ia mulai mempengaruhi emosionalku, berbicara tentang relasi yang kami bangun saat ini. “Aku sangat mencintaimu” katanya. Kata-kata itu sangat jelas ku dengar ia membisikannya tepat pada telinga kananku. Sekejap itu pula ia menelanjangiku, menikmati tubuhku yang sedari dulu aku rawat, berakhir dalam dekapan laki-laki yang katanya mencintaiku.

Aku seperti layakanya boneka yang sedang melayani tuannya. Tak ada rasa nikmat yang kurasakan melainkan hanyalah takut,pedih, luka dan penyesalan. Pikiran ku kemana-mana menatap setiap sisi ruangn itu sesekali kupandangi tubuhnya yang sedang menimpa tubuhku,ia tampak sangat menikmati. Matanya sesekali terpejam lalu terbuka, sedang mulutnya tak berhenti mengulum bibirku.

Air mataku tumpah dan berharap yang terjadi padaku ini hayalah mimpi belaka, aku tidak ingin diperlakukan seperti ini. Hanya butuh beberpa menit ia telah mencapai klimaks. Namun bagiku aku layaknya di perkosa dan hitungan menit itu rasanya berjam-jam bagiku.

Ia hanya membiarkan tubuhku tergeletak di atas kasur sedangkan dia, duduk mengatur nafas setelah permainan yang menyenangkan baginya ia sangat menikmati setiap isapan rokoknya. Mulai mendekatiku namun tetap saja membuatku bergeming “sakit” tanya padaku. Ingin rasanya aku teriak bahwa perlakuan mu tadi bukan hanya melukai ku secara fisik tapi sangat membuat hatiku terluka. Aku hanya menganguk pelan mengiyakan pertanyaanya.

“tak usah khawatir, aku mencintaimu dan akan bertanggung jawab dan akan menikahimu ” ucapnya sangat lirih ku dengar nmun kata-kata itu tak membuatku sedikitpun merasa bahagia namun malah semakin memecah tangisku di balik selimut.

***

Tak kusangka pagi ini teralalu buruk bagiku, aku dibuat gagal untuk tidak kembali ke masa itu. Masa yang menyisakan kepedihan dan luka, yang mungkin akan ku sesali seumur hidup. Tubuhku lemas, rambutku berantakan umpatan tentang penyesalan telah terlahir sebagai seorang perempuan tak berhenti keluar dari mulutku sebagai bentuk penyesalan atas perbuatan dari laki-laki yang pernah segalanya ku berikan dari hidupku.

Pagi yang kutemui tak memiliki kehidupan,  yang ada hanyalah tangis,luka,perih dan keputusasaan. Aku terpaku pada kenyataan hidup yang semakin beringas, namun menuntut untuk terus dilanjutkan. Punggungku serasa amat berat memikul beban ini.

Aku belum sepenuhnya sembuh dari luka ini namun aku kembali dibenturkan dengan kenyataan hidup yang semakin membuat ku merasa terlahir sebagai seorang perempuan amatlah sangat berat. “Hufff apakah aku akan hidup seperti ini?”. Pertanyaan yang ku harap siapapun bisa menjawabnya.

Hidup di lingkungan masyarakat yang sangat mengagungkan budaya patriarki membuatku akan terasingkan. Seorang perempuan akan dilihat berharga dan memiliki kehormatan hanya dari selaput darahnya, bukan memandangnya sebagai seorang manusia. Persetan dengan hal itu aku tetap berharga dan berhak diperlakukan dan dipandang sebagai manusia.

Memilih mati muda kurasa juga bukanlah pilihan yang tepat, pasrah pada keadaan tanpa melakukan sebuah perlawanan. “Aku akan mencintai takdirku walau itu buruk,” ucapku lirih isak tagis masih sesekali terdengar dari bibir yang bergetar. Aku merasa sendiri di dunia ini dengan sakit yang ku harap tak membuatku perlahan-lahan terbunuh.

Dari balik luar pintu terdengar suara orang berteriak sambil menggedor-gedor berusaha untuk masuk. “Rin… Rina buka aku ingin bicara,” teriaknya. Setelah aku mengintip dari balik jendela ternyata itu Arif. Entahlah apalagi yang ingin di jelaskan laki-laki itu, tidak puaskah dia menyakitiku hingga meninggalkan luka yang amat mendalam.

Aku hanya terdiam dengan derai air mata di balik pintu, suara Arif semakin jelas terdengar namun semakin pula menyayat hatiku. Aku sangat mencintainya tapi aku tak mungkin hidup dalam hubungan yang semakin membuatku tertekan dan merebut kemerdekaanku. Aku memilih mengakhiri hubungan denganya dan pergi jauh dari kehidupan  penat itu.

Aku sungguh buruk hari ini perlahan aku merangkak kembali ke pembaringan, kepalaku terasa pusing, seisi ruangan serasa berputar. Aku masih tetap berusaha bersikap tenang aku masih menanti Arif lelah untuk berdiri dibalik pintu sebab yang dilakukannya adalah hal sia-sia sebab aku tak akan mungkin lagi menemuinya.

Pandanganku seketika gelap tubuhku lemas bahkan untuk menarik nafas sangat berat, ku hempaskan tubuhku di pembaringan suara Arif perlahan hilang di ujung telingaku aku merasakan perasaanku terasa melayang dan perlahan aku tak merasakan apa-apa lagi. Ku harap malaikat maut berkenan mengunjungiku pagi itu sehingga aku bangun tanpa ada luka lagi.

Redaktur : Salsadilla Rahim

Ilustrasi : m.brilio.net

Related Posts

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: