Amba, “Perjuangan Melawan Lupa”

Gambar Sampul Novel 'Amba'

Gambar Sampul Novel ‘Amba’


 

 

 

 

 

 

 

 

Judul Buku: Amba
Penulis: Laksmi Pamuntjak
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: Cetakan ke-5, tahun 2015
Tebal: 577 halaman

“Perjuangan melawan kekuasaan adalah perjuangan melawan lupa”
Milan kundera-

Perisistiwa seputuran tahun 65 adalah peristiwa yang tak pernah menyurutkan perdebatan di masyarakat, peristiwa yang menjadi sejarah kelam negara ini yang melahirkan berbagai respon yang membuat banyak perubahan dalam tatanan kehidupan, mulai dari politik, hukum, ekonomi, sosial, dan budaya. Peristiwa 65 adalah dalih bagi pembunuhan massal dan penjatuhan kekuasaannya (John Roosa ). bagi ratusan ribu masyarakat indonesia tanpa pengadilan dan salah satu amunisi kekuatan militer untuk menjatuhkan kekuasaan Sukarno pemusnahan kelompok Sosialis dan gagasannya di Indonesia, serta menjadi momentum berdirinya rezim pemerintahan militer bernama orde baru.

Laksmi Pamuntjak mencoba memberikan gambaran tentang beberapa bagian dari peristiwa 65. Sebelumnya Leila S Chudori pernah menulis sebuab novel yang punya latar yang sama yaitu peristiwa 65. Novel yang agak tebal ini bercerita tentang seorang perempuan yang bernama Amba, sesuai dengan judul novel ini yang pergi ke Pulau Buru untuk mencari kekasihnya yang hilang setelah peristiwa  1 Oktober 1965.

Tokoh utama dalam novel ini adalah Amba kinanti seorang perempuan yang mencoba mencari kejelasan atas masa lalunya. Rasa penasaran yang menghantuinya yang membuatnya harus meninggalkan tempat tinggalnya menuju daerah timur tempat pembuangan para tahanan politik yang dibuang karena aktifitas politik dan hubungan emosional serta kekerabatan dengan mereka denganpartai komunis Indonesia atau yang sempat berinteraksi dengan partai yang berlambang palu arit tersebut.

Masa kecil Amba dihabiskan di Kadipura, salah satu daerah di Jawa Tengah. Ibunya dulunya adalah seorang kembang desa yang paras kecantikannya turun ke anak-anaknya. Tetapi, kecantikan yang dimiliki ibunya tergampar pada dua adiknya Ambika dan Ambalika. Dua adiknya yang terlahir cantik membuat orang di sekitar mereka begitu memuji kecantikan keduanya. Atas kenyataan bahwa Amba tak secantik kedua adiknya, Ia sadar bahwa nasib semua perempuan tak terlihat cantik mempengaruhi pemikiran dan perilakunya. Ia kemudian menjadi pribadi yang tak mudah bergantung pada orang lain, pribadi yang suka membaca dan menulis, bukan kecantikan yang membuat dirinya menarik, tapi kepribadian serta pemikirannya.

Sementara Ayahnya adalah seorang guru yang sangat suka dengan kitab kitak tua dan karya sastra klasik jawa. Kehidupan didalam rumah keluarga Amba banyak juga dipenuhi berbagi perbedaan sikap diantara kedua orang tuanya dalam melihat situasi yang saat itu masih terjadi berbagai aktifitas masyarakat serta berbagai aktifis partai politik, berbagai Ormas yang bertarung gagasan dan tawaran untuk menuntaskan cita-cita politik masing masing. Pandangan politik Ibu Amba, lebih condong ke kelompok sosialis sedangakan ayahnya lebih sepakat ke kelompok Nasioanalis. Akan tetapi perbedaan politik kedua orang taunya tak menimbulkan konflik dalam kehidupan keluarga mereka.

Situasi pada waktu itu penuh pergolakan, antara negara, partai politik dengan garis ideologi yang berbeda, militer dan kelompok agamawan.

Orang tua Amba yang bertemu dengan seorang dosen di kampus Universitas Gajah Mada, Jogja. Pertemuan tersebut membuat kedua orang tua Amba kagum dengan anak muda tersebut.
Kekaguman tersebut membuat orang tua Amba mempertemukan lelaki yang bernama Salwanti Munir dengan Amba putri kandungnya. Dari pertemuan mereka membuat Amba sempat menjalin hubungan kedekatan dengan Salwa.

Hal tersebut berlanjut ketika Amba kuliah di Jogja satu Universitas dengan Salwa. Mereka sering berjalan bersama di Jogja. Hubungan mereka berdua sempat terpisah oleh jarak karena Salwa meninggalkan Jogja menerima sebuah tawaran salah satu kampus di Surabaya. Tetapi, komunikasi mereka masih berjalan terus, dengan saling balas-membalas surat.

Amba pun meninggalkan kampus dan jogja untuk sementara waktu, untuk menerima sebuah tawaran untuk menjadi seorang penerjemah buku-buku kedokteran yang berbahasa asing di sebuah rumah sakit di kediri. Di tempat inilah ia kemudian bertemu Bisma Rashad, seorang dokter muda lulusan Leipzig, Jerman  Timur. Leipzig sendiri adalah salah satu kota Komunis.

Bhisma sendiri setelah menyelesaikan kuliahnya memutuskan untuk bekerja di rumah sakit, tempat pertemuanya dengan Amba yang melakoni tugas barunya sebagai penerjemah buku buku kedokteran. Bhisma adalah salah satu dokter yang memilih untuk bekerja dan membumi menjalankan tugas kemanusiaan sebagi seorang dokter untuk membantu masyarakat sekitar.

Hubungan mereka berdua berubah 360 derajat ketika peristiwa penculikan 6 jendral dan 1 perwira muda pada 1 oktober 1965. Terjadi kepanikan dimana – mana, peristiwa yang mengakibatkan matinya 6 jendral dan 1 perwira muda ini, menuduh partai komunis Indonesia sebagai aktor tunggal peristiwa tersebut. Sontak situasi nasional terutama daerah pulau jawa menjadi tegang dan mencekam. Hal ini menjadi dalih penangkapan bahkan pembunuhan orang-orang PKI dan yang pernah berafiliasi dengan PKI.

Selama bekerja dirumah sakit di Kediri, Bisma tak hanya bekerja untuk membantu orang-orang yang sakit, Bisma juga menjalankan Aktifitas politiknya di Kediri. Dia banyak berinteraksi dengan buruh pabrik gula di Kediri serta berbagai organisasi lainnya yang dekat dengan PKI.

Selama mereka menjalin kedekatan, Bisma dan Amba sering meninggalkan Kediri dan ke Jogja dan semarang bertemu dengan kawan-kawan Bisma, mulai dari para Mahasiswa Central Gerakan Mahasiswa Indonesa ( CGMI ) atau dengan sanggar bumi tarung yang juga dekat dengan perjuangan rakyat.

Pasca peristiwa 1 Oktober, ketegangan mulai terjadi, terlebih bagi mereka yang dekat dengan PKI diburu oleh kelompok Militer. Banyak anggota partai atau organisasi yang berafiliasi dengan PKI yang hilang secara tiba-tiba. Hilangnya Bisma membuat Amba terpukul dan sangat ketakutan, terlebih Kekasihnya itu telah menanam benih manusia dalam rahim Amba.

Perpisahannya dengan Bisma bukanlah hal yang mereka berdua inginkan, Amba pun tak pernah pulang kerumah kedua orang tuanya, dirinya merasa malu dengan kondisinya yang sudah berbadan dua. Hal itu diperparah dengan tidak diketahui dimana ayah kandungnya berada.

Pertemuannya dengan seorang lelaki Amerika bernama Adalhard membuat statusnya sedikit terbantu, kedekatan keduanya berakhir serius ke pernikahan. Lelaki yang bekerja sebagai mentor bahasa Inggris para perwira Militer yang akan dikirim untuk belajar di Berkeley, AS. Lelaki tersebut menerima Amba walaupun dengan kondisi yang sudah berbadan dua. lelaki tersebut rela menjadi ayah dari anak yang bukan darah dagingnya sendiri.

Lelaki tersebut memboyong Amba untuk hijrah ke Jakarta. Praktis komunikasi Amba ke keluarganya hanya melalui adiknya yang juga telah berkeluarga.

Pasca pemulangan para tahanan politik dari pulau Buru, banyak tapol yang memilih tak meninggalkan pulai Buru. keputusan untuk tinggal di tempat mereka bertahun-tahun diasingkan bukan karena masa pembuangan mereka belum selesai tapi lebih karena rasa malu untuk kembali ke kehidupan mereka sebelumnya. Mereka terlanjut malu dengan berbagai pelebelan negatif yang mereka terima sabagai seorang tahanan politik.

Bahkan beberapa tapol selama menjalani masa pembuangan bersama anak dan istri yang menemani mereka atau bahkan ada pula yang sudah memiliki keluarga baru dengan menikahi warga sekitar tempat pembungan di Pulau Buru.

Bisma adalah salah satu Tapol yang memutuskan untuk tetap tinggal du Buru. Diapun pernah dinikahkan dengan salah satu anak petinggi adat di buru.

Bisma selama menjalani masa pembuangan banyak membantu para tapol dan warga sekitar sehingga dirinya dikenal baik oleh sesama tapol dan masyarakat sekitar. Keahliannya di bidang kedokteran membuat dirinya dapat membantu salama menjalani keseharian.

2006 Amba memutuskan untuk meninggalkan Jakarta menuju Pulau Buru untuk menjawab kegelisahan dan pertanyaan masa lalunya yang belum jelas.
Dirinya hanya ingin tahu apakah ayah kandung dari anak perempuannya yang sudah menginjak dewasa masih hidup atau mungkin sudah mati. Kalau ternyata Bisma kekasihnya yang telah menghilang telah mati dirinya ingin melihat makamnya secara langsung. Hanya itu yang ia inginkan.

Pencariannya ke pulau Buru di temani seorang lelaki yang telah menemaninya dari Jakarta bernama Zulkifli dan seorang lelaki bernama Samuel yang ia temui diperjalanan menuju Ambon. Selama masa pencarian Bisma di pulau Buru, dari berbagai sumber dan tempat yang tak bisa menunjukkan keberadaan Bisma. Tapi dari pencaharian itu, dari berbagai cerita yang ia dengar langsung dari orang orang yang pernah dekat dan berinteraksi dengan Bisma, bahwa Bisma adalah orang yang baik, sering membantu dan manusia yang cerdas, tak jauh berbeda dengan yang ia kenal.

Tahun 1999 Maluku dan buru mengalami komplik sara, hal tersebut membuat Bisma masuk kembali hutan dan mulai jarang bertemu dengan teman temanya.

Akhir pencahariannya ia menangis pada sebuah gundukan tanah yang di atasnya berdiri nisan yang bertuliskan nama Bisma kekasihnya yang telah menyatu dengan tanah. Pencahariannya itu selain membuat dirinya harus meninggalkan Jakarta dan butuh waktu yang agak lama, Amba mendapat tikaman dari seorang perempuan yang marah karena Amba menangis diatas kuburan Bisma. Ternyata Wanita Mukaburung itu adalah perempuan Namlea yang pernah dinikahkan dengan Bisma.

Novel ini adalah salah satu novel yang latarnya seputaran konflik, mulai dari konflik 65 sampai menyinggung sedikit tentang konflik sara di Maluku tahun 1999. Alurnya maju mundur. Membaca Novel ini memperlihatkan pada kita peristiwa peristiwa seputaran 65, kehidupan para tapol dan kondisi pulau buru setelah pemulangan para tapol. Novel ini bukanlah upaya untuk menunjuk siapa dalang dan pihak yang bertanggung jawab atas peristiwa 65. Novel ini hanya mengangkat peristiwa seputaran 196 dan memberi perspektif lain dari penulisan sejarah yang ada terutama sejarah versi Pemerintah. Ikhtiar untuk mengungkap kebenaran terutama sejarah adalah hutang bangsa ini. sampai saat ini masih banyak yang belum lepas dari stigmatisasi, pengucilan, bahkan tak mampu mengakses hak-haknya sebagai warga negara. meluruskan sejarah adalah salah satu kebutuhan untuk memutus rasa ketidakadilan.

Penulis: Cappa

Related Posts

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: