AMARAH 1996, Mahasiswa Versus Militer

Pengantar redaksi

Setiap orang dan mungkin kamu sendiri tidak akan setuju kemanunggalan militer dan mahasiswa akan terkoyak. Namun dihari itu 23-26 april 1996 mereka yang berloreng, bertameng, dan bersenjata lengkap “menyerbu” kampus hijau yang tercinta. Memukul, menendang, dan melepaskan tembakan gas air mata dan masyaallah!!!

Peluru yang seharusnya untuk musuh di arahkan ke tubuh mahasiswa. Moncong senjata laras panjang dengan pisau belati terhunus di arahkan sambil berlari mengejar mahasiswa yang terpontang-panting ketakutan. Militer telh menginjakkan kampus hijau, melepas tembakan dan menyisakan selongsongnya. Sejarah telah mencatat militer dengan seragam lorengnya, senjata laras panjang, gas air mata dan pansernya menduduki kampus itu. Semua telah terjadi ditanggal 23-26 april 1996. Sejak saat itu militer menguasai kampus hijau dengan tenda-tenda hijau bak perang di hutan belantara. Muka-muka bengis nan kejam menyatroni dan membersihkan kampus dari mahasiswa. Oh kampus hijau inilah takdirmu atau kampus hijau telah menjadi ajang uji coba kekuatan militer.

SK 900 Pembawa Maut

Saat itu bermula dari ketidak sepakataan beberapa kelompok masyarakat termasuk komunitas kampus, yaitu mahasiswa. SK 900 atau SK malapetaka menaikkan tarif angkutan kota sebesar 65-70% dan ketentuan Menteri Perhubungan yang hanya 33,3%.

Sungguh malang, SK ini lahir dari keputusan sepihak yang akhirnya menelan korban. “Ah itukan policy (kebijakan) dari Walikota bukan policy DPRD Tk II, jangan tanya saya dong!” Ucap Ketua DPRD Tk II, Yahya Patu ketika di wawancarai via telepone oleh Cakrawalaide. Dari statement DPRD Tk II, SK 900 cacat dan tidak prosedural. Dari sumber terpercaya yang enggan disebutkan identitasnya, menyebutkan, “Kami (DPRD Tk II) baru tahu setelah ada demonstrasi mahasiswa, sebelumnya kami tidak tahu,” tegasnya mantap. Yang lebih fatal lagi tatkala wawancara live via telepon di Tassa Pro 2.99 FM, Bapak H Aliem Bachri selaku ketua DPRD Tk I tidak mengetahui sama sekali terkait lahirnya SK itu dan kenaikan sampai 70%.

Situasi bergolak dan berubah situasi serba darurat. Masyarakat awam bertanya-tanya dengan heran. “Mengapa ilmu PMP dan ketatanegaraan” yang bertahun-tahun dipelajari, hanya isapan jempol belaka. Hubungan legislatif dan eksekutif yang tidak transparan, hanya saling tuding menuding. Malah tidak berani mengambil tindakan tegas. Sebuah peristiwa monumental yang tercatat tinta emas sejarah tidak disikapi oleh pengetahuan dan analisa oleh wakil-wakil rakyat kita. Hanya bahasa-bahasa emosi yang keluar dari mulutnya.

SK 900 tidak dikoordinasikan, malah Walikota tidak memberikan tembusannya pada DPRD Tk II. Akhirnya terkesan hanya eksekutiflah yang berhak dan berwenang membuat aturan untuk orang banyak tanpa intervensi dari DPRD Tk I atau II. Bukan hanya itu, malah persoalan baru disikapi tatkala sudah memakan korban yang tidak sedikit.

Ingat dan catat, wakil rakyat itu hanya simbolik belaka dan isapan jempol. Wakil rakyat yang ketinggalan informasi dan tidak kritis. Hanya mewakili kepentingan pengusaha-pengusaha untuk urusan pembebasan tanah yang merugikan rakyat. Ataukah wakil rakyat hanya tahu berkolusi dengan pengusaha taksi, bukan begitu?

Kok Panser Masuk Kampus?

Nah, sekarang semua telah terjadi. Tiga orang mahasiswa telah berpulang ke rahmatullah. Entah berapa lagi yang akan ditimbulkan oleh orde baru. Tindakan represif dengan security approach masih mampu melibas hak asasi mahasiswa. Menolak dengan tegas dan emosional otonomi kampus dan hanya tahu otonomi keilmuan. Bayangkan saja, kalau panser dibiarkan masuk kampus tanpa ada restu dari “penguasa” (Rektor) kampus.

Tank-tank atau panser yang diciptakan untuk medan perang, mengapa harus dimasukkan ke kampus. Mau bikin takut-takut. Apa lagi kalau bukan begitu maksudnya. Kalau tidak pasti ada gedung hancur dan rata dengan tanah ataukah tubuh yang terkoyak-koyak oleh peluru-peluru besar. Apakah ini berarti militer unjuk kekuatan (show force) di dalam kampus?

Tidak ada idealisme, radikalisme ataukah hanya ingin belajar berpolitik. Semua pasti dan tunggu saja giliranmu. Begitulah kira-kira prediksi kedepan nasib kampus-kampus di Indonesia. Mengapa demikian? Yah tentu sja rezim Orde Baru-kan ingin menguasai segala-galanya termasuk otonomi kampus. Pemerintah takut ada negara di dalam negara. Ada penguasa di antara penguasa lainnya.

Mahasiswa Tiananmen di lapangan merah terkenal dengan berani melawan rezim komunis. Tank-tank dan panser dihadapi dengan dada terbuka. Mahasiswa UMI terpontang panting ketakutan diburu dengan senjata berat ibarat memburu Gerombolan Pengacau Keamanan (GPK).

Militer dengan muka sangarnya hanya takut dengan foto Soeharto, Presiden RI pada waktu itu. “Coba tembak kalau berani! Tembak foto yang saya pegang,” tantang seorang mahasiswa di lantai II Gedung F.Teknik. Militer pun mengurungkan niatnya. Mengalihkan pandangan ke “mangsa” lainnya. Di situlah Andi Sultan Iskandar, Tasrif Daming, dan Saiful Bya berada. Segelintir dari sekian banyak mahasiswa yang tidak tahu apa yang sedang terjadi, tersudut ke pinggir Sungai Pampang. Sungai yang melingkari kampus II UMI yang memiliki kedalaman 4 meter. Mereka bertiga tersudut, entah disiksa dulu atau dibuang begitu saja, yang jelas dari foto-foto mayat, terlihat darah segar mengalir dari mata dan telinganya. Tubuh-tubuh biru yang membengkak dan banyak dijumpai bekas-bekas tusukan. Kepulangan mereka sudah jelas terpaksa dari kondisi ketidak berdayaan menghadapi militer yang bersenjata lengkap dan main keroyokan. Yang jelas untuk saudaraku Saiful Bya, Tasrif, Sultan dan entah siapa lagi lainnya yang belum diketemukan: Perjuanganmu jihad, gugurmu sahid!!!

Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Makassar

Berselang beberapa hari setelah 24 April 1996, media massa lokal maupun nasional, bahkan interasional memberitakan sekian banyak aksi solidaritas. Ratusan anak-anak muda yang menamakan dirinya Solidaritas Pemuda dan Mahasiswa untuk tragedi Makassar (SPMTUTM) telah mendatangi DPR RI untuk unjuk rasa.

Saudara-saudara kami dari seluruh Indonesia, memperihatinkan dan mengutuk tindakan represif yang mengakibatkan meninggalnya tiga orang saudara kami dari Universitas Muslim Indonesia. Delegasi SPMTUTM seperti yang diberitakan oleh Media Indonesia: mengusung keranda berisi “jenazah” sambil membawa poster dan mereka diterima oleh Fraksi Karya Pembangunan. Kegiatan ini berlanjut dengan aksi duduk melingkar, ada enam orang memegang “mayat” yang dikafani, satu persatu advokasi dan pembacaan puisi yang diiringi lagu gugur bunga.

Solidaritas mahasiswa Indonesia untuk tragedy Makassar merebak di mana-mana. Di Medan, Bandung, Jakarta, Mataram, Surayaba, Manado, dan beberapa kota lainnya. Aksi serupa juga terjadi di Taman Ismail Marzuki, sekitar 300an mahasiswa dari perguruan tinggi melakukan aksi tidur-tiduran, para demonstran mengenakan ikat kepala warna putih bertuliskan “LAWAN” dalam warna merah. Mereka membaca tuntutan mereka, yakni meminta pertanggungjawban para pejabat atas peristiwa di kota Makassar dan mendesak pembentukan tim independen pencari fakta.

Dari aksi tersebut terjadi bentrokan antara aparat militer dengan mahasiswa UNAS, STTN, UT, IKJ, UNTAD dan berbagai LSM. Yang paling mengharukan, pergerakan Mahasiswa Makassar dan Solidaritas Mahasiswa Indonesia adalah dicetaknya stiker dan beberapa brosur berkenaan dengan tragedi Makassar berdarah. “Perjuanganmu jihad, gugurmu syahid,” adalah salah satu isi stiker yang dikirim oleh Forum Komunikasi Mahasiswa Mataram, stiker yang berlatang belakang hitam, bertinta merah darah.

Aksi solidaritas mahasiswa Indonesia memberi arti dan makna juga hikma dari perjuangan mahasiswa Indonesia. Piagam kerukunan tidak berarti apa-apa, kalau militer melihat mahasiswa sebagai “binatang” dan bukan segai mitra atau orang yang harus dilindungi. Apalah artinya 12 militer yang akan diajukan ke Mahkama Militer, jika dibanding dengan tetesan darah, linangan air mata, dan jeritan rakyat kecil. Sangat beralasan dan tepat sekali kalau 24 April 1996 dijadikan hari berkabungnya mahasiswa Indonesia secara nasional untuk mengingatkan kepada rezim Orde Baru bahwa Malari yang terjadi dan terus terjadi.

Mahasiswa Indonesia, perjuangan ini belum selesai. Hanya ada satu kata: LAWAN…!!!

==========

*Ditulis ulang dari Koran Mahasiswa Cakrawalaide edisi 13 September 2020, sebagai upaya melawan lupa.

Related Posts

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: