Ahmad Tohari : Berkisar Merah

Sampul Buku "Berkisar Merah"

Sampul Buku “Berkisar Merah”

Pengarang : Ahmad tohari
Cetakan I : 1993
Hal: 312 hal
Penerbit : Gramedia

Novel berkisar merah , novel ini merupakan salah satu novel yang mengangkat nama ahmad tohari sebagai penulis handal yang dilahirkan di Desa Tinggarjaya, Kecamatan Jatilawang, Banyumas pada tanggal 13 juni 1948. Selain trilogi: Ronggeng Dukuh Paruh, Lintang Kemukus Dini Hari, Jantera Bianglala,dan Kubah, Ahmad Tohari menerbitkan kumpulan cerpen yang berjudul Senyum Karyamin.Trilogi tersebut sudah diterbitkan ke dalam bahasa Jepang.

Dalam novel ini di kisahkan tentang kehidupan penderes nila di Desa Karangsoga.
Desa karansoga adalah sebuah desa di kaki pegunungan vulkanik”
Jakarta.

Penderes itu salah satunya adalah Darsa, yang merasa sangat beruntung karena memiliki istri secantik Lasi. Lasi anak keturunan Jepang-Indonesia, dengan kekhasan fisik yang tampak berbeda dengan pemuda lain di Desa Karangsoga.

Sejak kecil Lasi yang berbeda selalu menjadi bahan olokan teman-temannya. Berbagai spekulasi tentang orangtua Lasi menambah minder bocah Lasi, yang terbawa hingga ia dewasa.

Namun, di antara perasaan beruntung tersebut dia juga merasa cemas atas celoteh orang-orang yang menyebutkan bahwa Lasi lebih pantas untuk menikah dengan lurah. Tiga tahun perkawinan mereka pun, mereka belum dikaruniai anak. Ini sangat dipikirkan Darsa suatu ketika, kala dia sedang menderes, kemudian jatuhlah ia dari pohon kelapa.
Memang tak ada luka parah yang terlihat, namun kemudian untuk memastikan kesehatannya keluarga membawanya ke rumah sakit, dirumah sakit Darsa mulai terlihat sehat tapi ternyata Darsa terus saja ngompol akhirnya Dokter di Rumah Sakit meminta Lasi untuk membawanya ke rumah sakit yang lebih besar dengan biaya besar pula, karna tidak memiliki biaya dengan persetujuan keluarga mereka akhirnya memilih untuk merawat Darsa di rumah.

Dalam sakit, Darsa berubah sikap, dia mulai sering marah-marah. Hal ini membuat Mbok Wiyarji, menantunya berkeluh kesah pada Eyang Mus. Dia bahkan menginginkan Lasi menikah dengan mantan gurunya. Hal ini tentu ditolak mentah-mentah oleh Eyang Mus, dia mengingatkan untuk ikhtiar. Maka Mbok Wiyarji Ibu dari Lasi mengatakan bahwa Darsa sudah ditangani oleh Bunek, seorang Dukun Bayi.

Setengah tahun tak berdaya, akhirnya Darsa mengalami kemajuan dia sudah tidak lagi ngompol. Dia juga sudah bisa melakukan pekerjaannya yang dulu, hanya saja, memang masih perlu sering terapi, akan tetapi semenjak Darsa sembuh, masalah Lasi justru bertambah rumit, dia mendengar bahwa anak Bunek memaksa kawin Darsa. Kontan saja, hal ini menimbulkan spekulasi masyarakat. Maka, Bunek pun buka suara, dia tanpa rasa bersalah menejelaskan bahwa dia hanya minta tolong Darsa karena dia sudah menolong Darsa.

Menghadapi kenyataan ini Lasi tak kuat, maka dia pun kemudian memutuskan kabur dan ikut tetangganya, seorang sopir truk, ke Jakarta.

Sesampainya di Jakarta Lasi langsung mencari pekerjaan dan Dia mendapat pekerjaan di warung makan Bu Koneng . Dia tidak ingin pulang ke kampungnya lagi, bahkan dia tak kan mengindahkan sopir yang membawa nya keJakarta.
Di tempat lain, Darsa merasa sangat kehilangan Lasi, dia juga merasa sangat bersalah karena telah melakukan perbuatan yang seharusnya tidak dia lakukan.
Sementara itu Kanjat yang yang sedang menyelesaikan skripsi mengangkat seputar kehidupan masyarakat penyadap nira. Dia merasa banyak yang tidak adil dalam sistem penjualan gula merah. Petani sangat dirugikan, dengan segala resiko dan kesulitan, harga gula enak saja diatur oleh para tengkulak. Hal ini lah yang menyulut kepedulian Kanjat untuk terus menyelesaikan skripsinya.

Lasi sendiri setelah lama bersama Bu Koneng, dia bertemu dengan Bu Lanitng. Bu Koneng ternyata tidak sebaik yang Lasi kira. Selama ini memang, dia tidak menjajakan Lasi kepada para lelaki, namun nyatanya, dia menyimpan Lasi, hingga kemudian datang Bu Lanting. Bu Lanting sendiri adalah orang yang mencarikan gendik keturunan Jepang bagi para pejabat. Semacam geisha. Atas bujuk rayu Bu Lanting lah, akhirnya Lasi tinggal bersama bu Lanting. Di sana dia dipoles sedemikian rupa sehingga makin hari makin cantik.
Akan tetapi, hal itu tidak serta merta membuat Lasi bahagia. Dia masih terus terkenang dengan desanya.

Hingga suatu ketika Bu Lanting bertemu dengan Pak Handarbeni, salah satu direktur sebuah perusahaan asing yang dinasionalisasi. Sampai satu ketika Bu Lanitng meminta Lasi menemui laki-laki, yang tak lain adalah Pak Handarbeni. Dia diminta memakai kimono, namun belum juga tamu itu datang, dia sudah dikejutkan oleh kadatangan Kanjat, laki-laki yang dulu sudah dianggapnya sebagai adik.

Ketika Kanjat berlalu ada perasaan kehilangan dalam diri Lasi. Namun perasaan itu cepat-cepat menghilang, karena tamu yang sedianya datang ternyata benar memang sudah datang. Di lain pihak, dalam perjalanan pulang, Kanjat tak henti-hentinya memikirkan Lasi, bahkan Pardi, si sopir truk pun, kemudian menggodanya untuk segera menikahi Lasi, terlebih ketika dia tahu sekarang Lasi sudah menjelma menjadi wanita yang sangat cantik.

Beberapa hari kemudian setelah pertemuan itu Bu Lanting pun meminta kesanggupan Lasi untuk menjadi istri Pak Handarbeni. Tentu saja hal ini cukup mengejutkan. Dia dihadapkan pada permasalahan pelik, namun dia tak punya pilihan.

Selama ini dia telah banyak menerima kebaikan Bu Lanting. Dia tak bisa menolak Pak Handarbeni, meskipun hatinya berontak.

Hingga pada suatu hari tepatnya pada saat lebaran Lasi pulang ke kampung, namun sikapnya begitu dingin. Dia hendak menceraikan Darsa. Sementara itu Kanjat yang sudah lulus kuliah merasa kosong. Namun, berkat Doktor Jirem, dia berusaha berbuat banyak untuk kampungnya, memikirkan nasib para penyadap nira.
Dia membentuk tim peneliti.
Kabar mengenai Lasi yang sudah janda, akhirnya sampai juga ke Kanjat. Dia kemudian menemui Lasi dengan maksud ingin melamarnya. Namun tak disangka, Lasi tak bisa menerima lamaran itu dengan berat hati.
Dia sudah terikat oleh Pak Handarbeni, meskipun dalam hati,dia juga menyukai Kanjat.
Di Jakarta, hubungan antara Lasi dan Pak Handarbeni tak berjalan harmonis, ternyata Pak Han orang yang impoten, untuk memenuhi kepuasan Lasi, Pak Han bahkan menawarkan ide gila. Lasi boleh berhubungan denbgan lelaki mana yang dia suka. Hal ini membuat Lasi terkejut dan marah, untuk itulah dia kemudian berpikir untuk bercerai. Maka ketika dia pulang kampung, hal ini diutarakannya kepada Kanjat. Kanjat tak menjawab. Mereka kemudian justru mendiskusikan soal listrik yang masuk desa, dan membuat pohon-pohon kelapa para penyadap ditumbangkan.

Hal ini menimbulkan keprihatinan tersendiri bagi Kanjat. Dia bimbang apakah harus meneruskan hasratnya terhadap Lasi, sementara di lain pihak, Darsa membutuhkan keberpihakan dan juga dukungan dari Kanjat.

Namun pada akhirnya Lasi menyadari dia masih memiliki suami yaitu Pak Han walaupun Lasi dan Kanjat sama-sama didalam hatinya ada harapan dan cita-cita bersama, tetapi di mata Lasi, Kanjat juga melihat Darsa. Darsa adalah dunia para penyadap yang terus memanggil keterpihakan Kanjat. Sudah menjadi kesadaran yang mendalam di hati Kanjat bahwa para penyadap menyimpan piutang yang sangat besar pada orang-orang dari lapisan yang lebih makmur.

Meski ia merasa gagal membayarnya kembali. Keringat para penyadap itu mungkin akan menjadi utang abadi baginya.

Novel ini terbit tahun 1993, dari latar dan alur dari cerita yang ditulis apik oleh ahmad tohari seakan membawa pembaca melihat situasi pada waktu itu.
Di dalam kehidupan bermasyarakat novel ini seperti selalu menggambarkan kehidupan nyata, menggambarkan betapa sulitnya mencari uang untuk kehidupan sehari-hari jangankan untuk berobat untuk membeli beras saja susah. Masyarakat yang melatar belakangi kisah pada novel ini mereka memiliki kehidupan di bawah rata-rata, dalam kemiskinan dan keterbelakangan, dan tersangkut permasalahan yang sangat sulit untuk mengubah pola pikir bahwa bisa terlepas dari lingkungan pekerja sebagai penyadap nira yang membahayakan nyawa dengan upah yang sedikit, dan yang lebih menyedihkannya lagi para petani selalu dibohongi oleh pengkulak sehingga selalu dirugikan.

Pada novel ini juga menceritakan betapa tidak mudahnya seorang laki-laki mendapatkan kembali tempatnya di masyarakat karena telah merasa terasingkan. Isi dari novel ini sangat berkesinambungan dengan kehidupan Darsa pada cerita Bekisar Merah, karena kesalahan yang telah dilakukan terdahulu oleh Darsa dalam mengambil keputusan.

Penulis : Farma Utami

Related Posts

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: