25 Tahun AMARAH: Melawan Lupa, Wujudkan Demokratisasi Kampus

Penulis: Ari Anugrah

Makassar, Cakrawalaide.com – Aliansi Mahasiswa UMI (AMU) peringati April Makassar Berdarah (AMARAH) dengan menggelar Panggung Bebas Ekspresi di depan gerbang pintu I Universitas Muslim Indonesia (UMI), Sabtu (24/04/21).

Panggung bebas ekspresi dengan tema “MELAWAN LUPA WUJUDKAN DEMOKRATISASI KAMPUS” ini menampilkan pembacaan puisi, live Musik, pembacaan kronologi peristiwa AMARAH, hingga penaburan bunga sebagai simbol duka untuk 3 orang mahasiswa yang meninggal dalam tragedi berdarah tersebut.

Tanggal 24 April 1996 merupakan puncak kebrutalan Militer terhadap unjuk rasa mahasiswa Makassar saat itu, peristiwa yang dinamai dengan April Makassar Berdarah (AMARAH). Berawal dari gelombang demonstrasi mahasiswa Makassar atas kebijakan pemerintah yang menaikkan tarif angkutan kota.

Kebijakan tersebut dikeluarkan lewat SK MENHUB 3 april 1996 dan ditindaklanjuti SK walikota Makassar (dulu ujung pandang) no. 900. Gelombang protes mahasiswa yang diperhadapkan dengan kebrutalan Militer tersebut telah menewaskan 3 mahasiswa UMI, yakni syaiful bya (21thn) mahasiswa Fakultas Teknik, Andi Sultan Iskandar (22thn) mahasiswa Fakultas Ekonomi, dan Tasrief (21thn) Fakultas Ekonomi, serta korban luka luka sebanyak 29 orang.

Pada peringatan AMARAH tersebut, Ugi selaku Humas Aliansi mengungkapkan AMARAH merupakan agenda tiap tahun Mahasiswa UMI, namun memperingatinya tidak hanya sekedar momentum belaka akan tetapi peristiwa ini adalah refleksi dari perlawanan mahasiswa terhadap kebijakan tidak demokratis dari pemerintah.

“hari ini kami mengkondisikan peristiwa AMARAH dalam konteks sekarang, dimana pemerintah masih mengeluarkan kebijakan yg tidak demokratis. Jadi latar belakang kami memperingati AMARAH tahun ini adalah refleksi kekejaman Aparat dan penolakan ke kebijakan Pemerintah yg tidak pro rakyat” Tutupnya.

Uye yang juga Humas AMU menjelaskan, sesuai dengan tema dari Pangggung Bebas Ekspresi ini maka Aliansi Mahasiswa UMI memuat 4 Tuntutan yang satu diantaranya yaitu pihak Birokrasi di Tuntut untuk melibatkan Mahasiswa dalam proses segala pengambilan kebijakan.

“Kami menuntut yang pertama wujudkan demokratisasi di kampus umi, yang kedua Gratiskan biaya kuliah selama pandemi, yang ketiga hentikan kekerasan aparat, dan yang terakhir libatkan mahasiswa dalam pengambilan kebijakan kampus” tegasnya.

Lebih lanjut, Uye menambahkan bahwa Tragedi April Makassar Berdarah (AMARAH) merupakan hal yang tidak bisa begitu saja di lupakan oleh Mahasiswa.

“kami dari AMU melakukan Aksi melawan lupa AMARAH, itu sebenarnya agar sejarah yang terjadi di tahun 1996 ini tidak di lupakan oleh teman-teman kedepannya, maka kami mencoba kembali menggaungkan bahwa pada tanggal ini ada kejadian yang luar biasa di kota makassar, khususnya di kampus umi itu sendiri” tambahnya.

Editor: April

Related Posts

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: