Teruntuk Kalian yang Mengaku sebagai Orang Tua Kami

Matahari nampaknya mulai sesal dengan sebab keangkuhan manusia yang menganggap diri sebagai Tuhan. Rembulan kiranya tak lagi enggan indah memancarkan cahaya pada kesunyian gelap malam. Semuanya lenyap, begitupun dengan kasih sayangnya serta abdinya tehadap sang buah hati.

Mempertanyakan kembali, apakah benar kami anakmu? Dengan segala pengekangan yang telah merampas bahagia kami. Tanpa ciuman kau rekatkan dikening kami, tanpa jemari lembut mengusap helai rambut, tanpa pelukan hangat menyambut pagi, tanpa nada-nada indah menyambangi larut malam, tanpa semuanya itu bukanlah cinta bagi yang kami rasakan.

Sudahkan pantas kalian memperlakukan kami sebagai anakmu? Membatasi ruang dan gerak , hingga imaji akan mimpi besar dikemudian hari. Katamu, semuanya adalah upaya mendidik, tapi kok akal diharamkan untuk kami pergunakan. Kami sebut apa pola pendidikan semacam ini? Di bawah tekanan serta kecaman menakutkan, selalu menghampiri di tiap deretan huruf serta angka yang tertulis dalam genggaman tangan gemetar.

Kalian mau jadikan kami apa? Memaksa kami melompat ke laut lepas, meski kami tak bisa berenang. Memaksa kami berlari, meski kaki tersungkur kesakitan. Memaksa kami memanjat, meski takut ketinggian. Setelah itu, kalian hanya diam memandang kami dibalik keangkuhan, tanpa bertanya dan tanpa peduli akan apa yang kami rasakan. Patuh di bawah telunjuk dengan segala perintah, itulah yang kalian pertontonkan.

Kami sebut orang tua macam apa kalian? Berdalih sibuk mendandani rumah hingga abai terhadap anaknya. Apa gunanya rumah besar yang kalian banggakan? Jika saja tak ada rasa aman dan nyaman menyambangi keseharian di dalamnya. Nyatanya hanyalah kepalsuan yang ada, kalian dengan sadar bercerita ke seluruh tetangga tentang keharmonisan keluarga dan keberhasilan membangun rumah tangga.

Teruntuk kalian yang mengaku Ayah dan Ibunda, dengan bersusah payah dan mengecap kami anak yang tak tahu malu. Pernahkah kalian bertanya sebagaimana cinta orang tua semestinya, apa yang kami inginkan? Dan apakah yang kalian lakukan sudah sesuai dengan keinginan kami? Tidakkah kalian merasa telah memperlakukan kami selayaknya manusia yang dikutuk oleh semesta? Kami tak berhak bersuara dengan segala keterbatasan gerak telah kalian cipta. Sadarkah kalian telah menjelmakan kami anakmu ini seumpama robot yang kalian desain sesuai keinginan kalian, bukan apa yang kami inginkan!

Jika memang kalian adalah ayah dan ibunda kami, izinkanlah kami mengadu. Beberapa hari lalu kalian telah merusak mainan kami dan kini kalian melarang kami bermain. Dengan teguran keras serta berniat untuk mengusir kami dari rumah. Maaf jika memang perilaku kami beberapa hari yang lalu membuat ayah dan ibu tersinggung, tapi itulah bentuk cinta kami. Kemarin pada tangal 2 Mei, kami tidak meminta agar kalian mau untuk menggantikan mainan yang telah kalian rusak. Melainkan harapan kami besar agar setidaknya kalian mengakui dan sadar akan perbuatan yang telah kalian lakukan, terhadap kami yang kalian anggap sebagai anakmu.

Ya, mungkin inilah imbas dari suara kami kalian beri. Sebuah kenyataan tak berbelas kasih agar kami tidaklah lagi menginjakkan kaki di rumah yang megah dan ternama ini. Jika memang terjadi, langkah kami tiada satupun penyesalan menyertai. Terlebih lagi untuk menaruh dendam, sebab kepergian kami adalah kebenaran. Hanya menunggu waktunya tiba, disaat Tuhan telah membuka tabir cahayanya dikala kami telah memilih durhaka.

 

 

Penulis : Parle

Red : Cung

Related Posts

Tinggalkan Balasan