Resensi Novel: Soekarno Kuantar Kau ke Gerbang

download

Soekarno Kuantar Kau ke Gerbang

JUDUL                   :  Soekarno Kuantar  ke Gerbang

PENULIS               : Ramadhan K.H

PENERBIT            : Bentang Pustaka

TEBAL                    : 416

Isi dari novel ini kita akan menemukan kisah  kehidupan sosok  wanita sunda yang sederhana, yang menjadi pendamping Soekarno saat ia menimba ilmu di ITB di Bandung sambil merintis jalannya di bidang Politik  masa-masa sulit yang ketika Bung Karno dipenjara dan diasingkan, hingga kepindahannya ke jalan Pegangsaan Timur 56, Jakarta beberapa bulan sebelum Proklamasi Kemerdekaan dibacakan oleh Bung Karno.

Ketika menjalin kehidupan rumah tangga, walau usia Inggit lebih tua 13 tahun pada saat menikah dengan Bung Karno namun Inggit mampu menjadi seorang pendamping yang sepadan bagi Bung Karno. Perbedaan usia yang mencolok ini malah menjadi keuntungan bagi Bung Karno karena baginya Inggit bukan hanya sekedar kekasih dan istri, namun sekaligus ibu yang mengemong dan membimbingnya.

Inggit adalah wanita  sunda sederhana, ia tak bisa membaca dan menulis, namun dalam kesederhanaan dan keterbatasannya itulah Inggit mampu membuat Soekarno muda bertumbuh menjadi seorang pejuang yang tangguh. Ketika bersama Inggitlah Bung Karno merintis jalan politiknya, di Bandung ia mendirikan Partai Nasional Indonesia dan menjadi singa podium yang berjuang untuk kemerdekan Indonesia. Di masa ini Inggit memang tidak menjadi partnernya yang bisa diajak berdiskusi masalah pergerakan namun dengan ketulusan cintanya Inggit memberikan kasih sayang dan dorongan moril baginya, sesuatu yang tidak bisa diperoleh Bung Karno di arena gelanggang politiknya

Dibanding istri-istri Soekarno, Inggit Ganarsih termasuk istri yang kurang dikenal. Masyarakat umumnya lebih mengenal Fatmawati, atau Dewi Soekarno dibanding Inggit Ganarsih. Tak banyak memang yang menulis tentang Inggit Ganarsih, dalam buku teks sejarah-sejarah resmi namanya ditulis selewat saja. Karenanya kita patut bersyukur karena penggalan kehidupan Inggit Ganarsih ketika masih bersama Bung Karno .

Ketika Bung Karno ditangkap dan dipenjara di Banceuy Bandung, Inggit tetap setia, Ia rajin mengunjungi dan mengirim makanan untuk suaminya di penjara. Untuk mendapatkan uang ia membuat bedak, manjadi agen sabun cuci, membuat dan menjual rokok hingga menjahit pakaian dan kutang.

Ketegaran dan kegigihan Inggit untuk menafkahi keluarganya saat  Bung Karno dalam penjara, membuat Bung Karno sedih karena telah melalaikan tugasnya sebagai kepala rumah tangga, ketika hal itu disampaikan pada istrinya, Inggit memberinya semangat dengan kelembutan hatinya.

Pada saat Bung Karno sedang menyusun naskah pembelaannya Inggit membantu mencari dan mengirim data serta dokumen untuk referensi suaminya menyusun pembelaan (pledoi). Inggit dengan berani menyelundupkan data dan dokumen yang diperlukan Bung Karno ke Penjara Banceuy. Agar tak ketahuan sipir penjara ia menyembunyikan naskah tersebut dibalik kebayanya.Jerih payah Inggit ini membuat Bung Karno berhasil menyusun pembelaannya yang sangat terkenal, Indonesia Menggugat, yang dibacakan di Landraad Bandung, 18 Agustus 1930.

Dengan cerdas Inggit juga memberikan kode-kode rahasia tentang situasi diluar penjara baik melalui telur yang dibawanya atau melalui Al Quran yang telah diberi kode rahasia kepada suaminya, dengan demikian walau setiap kunjungan selalu diawasi oleh sipir penjara, bung Karno tetap dapat mengetahui baik buruknya situasi perjuangan saat itu.

Pengorbanan dan kesetiaan cinta Inggit tidak hanya terlihat ketika Soekarno di Penjara. Masa-masa pembuangan di Ended an Bengkulu menjadi saksi bagi ketabahan dan kesetiaannya pada Bung Karno . Sebetulnya Inggit adalah manusia bebas yang memiliki hak untuk tidak ikut bersama suaminya dalam pembuangan, namun cinta dan kesetiaannya pada Bung Karno membuatnya bertekad menyertai suaminya dalam suka dan duka.

Niatnya untuk mendampingi suaminya selama di pengasingan benar-benar diwujudkannya , di masa-masa sulit inilah Inggit menjadi peredam dan tempat berteduh bagi jiwa Bung Karno yang kesepian dan tertekan karena perjuangannya untuk memerdekakan bangsanya harus terhenti entah sampai kapan.

Betapa malangnya usaha Inggit untuk menghibur dan mendampingi Bung Karno selama di pengasingan ternyata tak cukup bagi Bung Karno. Soekarno yang saat itu berada di usia yang sedang bergelora tak kuasa meilhat kecantikan Fatmawati, anak angkatnya sendiri yang diasuhnya bersama Inggit di Bengkulu. Bung Karno akhirnya meminta izin pada Inggit untuk diizinkan menikah dengan Fatmawati dengan alasan ingin memiliki keturunan. Satu-satunya yang tak bisa diberikan Inggit pada suaminya. Bung Karno tak berniat menceraikan Inggit, ia hanya meminta restu Inggit untuk menikah lagi dan status Inggit menjadi istri pertamanya.

Karena Bung Karno mendambakan seorang anak keturunannya sendiri.  Inggit pun  bisa mengerti bisa saja laki-laki mendambakan seorang  anak , Namun dengan  tegas Inggit menolak  untuk dimadu dan lebih memilih untuk diceraikan.

Ditengah kegalauan hati Inggit , tetap saja ia masih merawat  Bung Karno dengan ketulusan hatinya  ketika  sekutu kalah perang dan Jepang memasuki Sumatera Inggit dan Bung Karno harus menghadapi tantangan baru. Walau mereka diizinkan meninggalkan Bengkulu dan diperintahkan untuk menuju Jakarta, mereka harus melakukan perjalanan darat menuju Padang melalui hutan belantara agar terhindar dari pasukan Jepang .

Bung karno juga telah mendatangi kantor Hatta , dan menceritakan maksudnya untuk menceraikan Inggit , Ia berkata kepada Hatta “Aku tak ada maksud untuk menceraikannya , tetapi Inggit yang tidak ingin dimadu”, Hatta masih meminta Bung karno untuk mempertimbangkan hal itu.

Pada tahun 1942 Bung Karno dan Inggit resmi bercerai di Jakarta. Keputusan sudah di ambil oleh suamiku . Ia menceraikan aku . Empat Serangkai juga sudah mufakat dan persyaratan yang merupakan janji Kusno telah dibuat oleh Empat serangkai itu yajni bahwa  Soekarno harus membelikan sebuah rumah di Bandung untuk kediamanku seumur hidup ku . Bagi Inggit yang telah menjalani bahtera rumah tangganya bersama Bung Karno selama hampir 20 tahun lamanya ini adalah suatu peristiwa yang paling menyedihkan dalam hidupnya, namun ia tak mau larut dalam kesedihan. Cintanya yang tulus pada Bung Karno dan kepasrahannya pada jalan hidup yang telah digariskanNYA membuat ia kuat dan mensyukuri apa yang telah dialaminya.

“Bukankah kita berdiri di muka gerbang zaman baru setelah menempuh perjalanan panjang , yang bukan jalan bertabur bunga”?

Demikianlah Resensi Novel ini , dimana suka dan duka perjuangan , ketegaran dan kegigihan ibu Inggit menemani Bung karno sampai ke depan Gerbang Kemerdekaaan , dalam novel yang berjudul “SOEKARNO KU ANTAR KE GERBANG” ini kita bisa melihat bagaimana sikap Bung Karno yang seharusnya memberitahu Inggit terlebih dahulu , tapi yang ada justru Inggit duluan yang meminta konfirmasi  pada suaminya, namun sebagai istri yang taat dan memahami perasaaan suaminya Inggit tidak mendesak Bung Karno untuk menjawab semuanya ketika Bung Karno hanya diam .

Penulis: Farma
Red: Diandika

 

 

 

 

 

Related Posts

Tinggalkan Balasan